Kalau mau mendudukkan seorang santo/pimpinan agama sebagai seorang filsuf biasa, harus berani tanggung resikonya,
1. harus siap jika ada pihak yang menyanggah omongannya, tidak boleh tesingung jika orang lain mengatakan konsep pemikirannya tidak valid, tidak logis, lemah, cacat dll. 2. harus siap membahas dng sistematika berpikir filsafat umum, yakni hanya mengandalkan logika murni. tak boleh lagi bersandar pada wahyu dll. Siapkah? ----- Original Message ----- From: RM Danardono HADINOTO To: [email protected] Sent: Monday, February 11, 2008 8:38 AM Subject: [budaya_tionghua] Re: Ciong di TAHUN TIKUS => GK --- In [email protected], "Dada" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> St Agustinus adalah bagian dari filsuf2 lain seperti Plato, dan > pemikirannya bisa di gunakan oleh lintas agama dan budaya untuk menjelaskan beberapa hal. > > Robby Wirdja > *** Udahhh gak usah lintas lintasan agama disini, ini sarana budaya. Simpan aja tuh pak Agustin untuk diskusi ditempat lain. Apa urusannya dengan pembahasan fenomena budaya Tionghoa? menjelaskan? menjelaskan makna Ciong? bagaimana ini para pakar budaya? ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date: 10/02/2008 12:21 [Non-text portions of this message have been removed]
