Informasi khan seharusnya bisa di check kebenarannya. kalau nggak bisa di crosscheck ya boleh aja dicurigai sebagai disinformasi. Susah ngadepin produk jaman ORBA, asal dipertanyakan, asal beda, aja, langsung ngasih cap macem-macem. Udah era REFORMASI neeeh, kebiasaan buruk jaman dulu nggak usah dibawa nape!
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of RM Danardono HADINOTO Sent: Tuesday, February 12, 2008 8:15 PM To: [email protected] Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" - beneeeerrr? Pak, kalau semua yang tak menyenangkan kita, atau tidak sesuai dengan kepentingan of our Master, anggap saja DIS informasi, ha ha ha Gampang kan? Salam Danardono --- In HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com, "Skalaras" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pasti engkongnya Uly ini orang kepercayaan Pak Harto. semua omongannya bisa dipercaya, hehehe... > > > ----- Original Message ----- > From: RM Danardono HADINOTO > To: HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com > Sent: Tuesday, February 12, 2008 10:39 AM > Subject: [budaya_tionghua] Re: Saya Merasa Tidak Didiskriminasi" - beneeeerrr? > > > Betul mas. > > Untuk membenahi hal hal yang miring, harus mengakui dahulu, ada yang > miring. Kalau terus terusan teriak " tak ada itu, tak ada itu, semua > OK, kata engkong", ya mau benahi apa? > > Salam > > --- In HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com, "jip_id" <jip_id@> wrote: > > > > Salam, > > > > Kasus-kasus berhubungan dengan aparat ini mengapa tidak dilaporkan > > saja kepada Ombudsman (www.ombudsman.-go.id) yang megurusi hubungan > > antara warga dengan negara. Atau bisa juga kirim ke surat pembaca di > > pelbagai media massa yang berpengaruh seperti Media Indonesia atau > Kompas. > > > > Adik saya (keturunan Jawa) juga dipersulit ketika mengurus > > perpanjangan KTP kelurahan. Kadang2 persoalannya di aparat yang > korup > > juga sih, walaupun prasangka rasial masih ada. Birokrasi memang > > sisa-sisa Orde Baru yang harus dibenahi dan terus diawasi, menurut > saya. > > > > > > > > > > Salam > > > > Junarto > > HYPERLINK "Http://www.semestanet.com"Http://www.semestan-et.com > > > > > > --- In HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com, "RM Danardono HADINOTO" > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > *** Untuk menyegarkan ingatan mengenai masa lalu yang kabur: > > > > > > > > > > > > Daniel HT: PBB Serukan RI untuk Segera Realisasi Penghapusan > SBKRI > > > > > > Indonesia Media > > > > > > Ternyata masalah SBKRI menjadi perhatian serius juga oleh PBB. Di > > > dalam Sidang Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial di > > > Geneva, Swiss, pada 31 Juli-18 Agustus 2007 lalu hal ini sempat > > > menjadi perhatian Sidang Komite. Terbukti dengan adanya seruan > dari > > > Sidang Komite PBB itu kepada Pemerintah RI untuk benar-benar > > > menjalankan penghapusan terhadap kewajiban adanya SBKRI. Karena > > > meskipun UU No. 12 Tahun 2006 telah disahkan. Dalam prakteknya > masih > > > saja banyak instansi pemerintah yang meminta SBKRI ini dengan > > > berbagai alasan. Mungkinkah orang Indonesia Tionghoa yang selama > ini > > > gigih memprotes soal SBKRI di Indonesia, telah juga berhasil > mendesak > > > PBB mengeluarkan seruan tersebut? Luar biasa kalau memang begitu. > > > > > > Saya ajukan pertanyaan sindiran ini karena selama ini oleh > sebagian > > > Indonesia Tionghoa selalu menertawakan dan mengejek orang > Tionghoa > > > yang menyatakan dan memprotes perihal SBKRI ini sebagai salah > satu > > > bentuk diskriminasi warisan Orde Baru yang masih terbawa-bawa > sampai > > > sekarang. Mereka beranggapan bahwa protes perihal SBKRI itu hanya > > > rengekan cengeng orang Tionghoa, dan diskriminasi yang disebutkan > > > Tionghoa itu hanya ilusi dan menyudutkan serta menjelek- jelekkan > > > Indonesia. SBKRI sama sekali bukandiskriminasi, melainkan memang > > > merupakan sesuatu yang sangat perlu. > > > > > > Setelah pemerintah bersama-sama DPR mengesahkan UU No. 12 Tahun > 2006 > > > yang antara lain berisi ketentuan penghapusan SBKRI karena > dipandang > > > sebagai bentuk diskriminasi terhadap etnis tertentu. Muncul > reaksi > > > yang terasa aneh. Mungkin karena kecewa juga pemerintah mau > mengakui > > > SBKRI sebagai salah satu bentuk diskriminasi (yang bertentangan > > > dengan pernyataan mereka) dan mau menuangkan dalam bentuk > ketentuan > > > UU (lepas dari bagaimana implementasinya)-. Salah satu reaksinya > > > adalah pernyataan bernada sindiran: "Selamat kepada orang > Indonesia > > > Tionghoa karena berhasil mendesak pemerintah menghapus SBKRI." > > > > > > Salah satu alasan yang sering dikemukakan memang adalah bahwa > SBKRI > > > harus tetap ada karena untuk menghindari terjadinya pemalsuan > > > identitas Kewarganegaraan. Tetapi anehnya, kewajiban SBKRI itu > hanya > > > diterapkan pada etnis Keturunan Tionghoa, sedangkan etnis > keturunan > > > lainnya, seperti Arab, tidak pernah diminta. > > > > > > Alasan ini pun sebenarnya tidak bisa diterima. Apa iya kalau ada > > > SBKRI maka lebih menjamin identitas kewarganegaran seseorang > tidak > > > dipalsukan? Bahkan SBKRI itu sendiripun bisa dipalsukan, bukan? > > > Jangankan SBKRI, paspor, pun bisa dipalsukan. Uang saja bisa > > > dipalsukan. Jadi, apa argumen tentang harus tetap ada SBKRI untuk > > > lebih menjamin kebenaran status kewarganegaraan seseorang itu > bisa > > > dipertahankan? > > > > > > Ariel Heryanto dalam tulisannya yang berjudul: SBKRI (Kompas, > Minggu, > > > 02 mei 2004) -- selengkapnya baca di HYPERLINK "http://www.kompas.com/kompas-"http://www.kompas.-com/kompas- > > > cetak/0405/02/-naper/999727.-htm, menceritakan pengalaman seorang > WNI > > > Keturunan Tionghoa bernama Enin ketika berhadapan dengan > birokrasi > > > pemerintah untuk mengurus surat-suratnya, dan tetap diminta SBKRI- > > > nya. > > > > > > Di sebuah instansi pemerintah dia diminta SBKRI oleh pegawai yang > > > melayaninya. Terjadi percakapan antara Enin yang WNI Keturunan > > > Tionghoa dengan sang birokrat. > > > > > > "Saudara punya SBKRI?" > > > > > > "Punya." > > > > > > "Mana?" > > > > > > "Tidak saya bawa. Ada di rumah." > > > > > > "Kenapa tidak Saudara bawa? Untuk mengurus ini Saudara harus bisa > > > menunjukkan SBKRI Saudara. Kalau tidak tidak bisa diteruskan > karena > > > perlengkapan admnistrasinya tidak lengkap." > > > > > > "Harap maklum, Pak. SBKRI itu adalah dokumen yang paling saya > > > sayangi. Sehingga saya simpan rapat-rapat di rumah...." > > > > > > Hening sejenak. Tak lama kemudian, Enin mengajukan pertanyan yang > > > menohok logika Orde Baru. > > > > > > "Bapak sendiri punya SBKRI?" > > > > > > "Apa?" > > > > > > "Saya tanya, bapak punya SBKRI?" > > > > > > "Tidak. Untuk apa? Saya pribumi." > > > > > > "Apakah Bapak warganegara Indonesia?" > > > > > > "Jelas. tentu saja!!" > > > > > > "Mana buktinya?" > > > > > > "Maksud Saudara ini apa?!! > > > > > > "Bagaimana kita bisa yakin kalau Bapak ini warganegara Indonesia. > > > Bagaimana Bapak bisa mengaku-ngaku sebagai orang Indonesia, > > > warganegara Indonesia, sedangkan Bapak tidak punya dokumen resmi > yang > > > dapat membuktikan itu?" > > > > > > "???" > > > > > > "Jelek-jelek begini, saya orang Indonesia. Saya ini warganegara > > > Indonesia. Saya tidak asal mengaku saja seperti bapak. Karena > saya > > > punya dokumen resmi yang dapat membuktikan hal ini. Namanya > SBKRI." > > > > > > Cerita di atas memang benar-benar menohok logika Orde Baru. Kalau > > > memang SBKRI adalah dokumen yang paling sahih untuk membuktikan > > > kewarganegraan seseorang, kenapa hanya etnis Tionghoa saja yang > > > mempunyai kewajiban untuk itu? Padahal mereka sudah turun- temurun > > > dilahirkan sebagai WNI. Lain halnya kalau orang tersebut apapun > > > etnisnya semula WNA dan hendak menjadi WNI. > > > > > > Dalam kasus-kasus seperti ini dokumen seperti Akta Kelahiran dan > KTP > > > pun dirasakan tidak cukup. Padahal kedua dokumen negara ini > dengan > > > jelas-jelas menyatakan bahwa orang tersebut dilahirkan dan > mempunyai > > > kewarganegaraan Indonesia. Apakah ini tidak sama dengan instansi > yang > > > tetap minta SBKRI itu tidak percaya, atau tidak mengakui > pernyataan > > > di dalam Akta Kelahiran dan KTP tersebut? > > > > > > Seseorang yang mempunyai etnis pribumi (misalnya etnis Jawa), > tidak > > > absolut mutlak dia pasti seorang WNI. Bisa saja dia telah berubah > > > kewarganegaraan menjadi warganegara asing. Jadi kewarganegaraan > > > seseorang tidak bisa dilihat semata-mata hanya dari etnisitas > saja. > > > Orang-orang Jawa di Suriname, apakah mereka juga WNI? Jelas, > bukan. > > > Sebab sejak turun-temurun mereka adalah Warganegara Suriname > > > sekalipun dari bentuk fisik, ras, etnis dan budaya mereka adalah > > > Jawa. Dan. mereka tetap bangga sebagai orang Jawa, tanpa > mengurangi > > > nasionalismenya sebagai Warganegara Suriname. > > > > > > Sudah entah berapa banyak UU yang disahkan, yang bagus di atas > > > kertas, tetapi tidak dalam implementasinya. Tidak terkecuali > dengan > > > UU No. 12 Tahun 2006 ini. Berbagai alasan biasa dikemukakan. > > > Misalnya, belum ada juklak, dan sejenisnya. Padahal jika memang > punya > > > itikad baik, atau tidak kaku dalam bersikap para birokrat yang > masih > > > tetap bersikukuh untuk minta SBKRI itu bisa saja untuk tidak lagi > > > mewajibkan SBKRI ini. Tidak harus menunggu juklak atau > sejenisnya. > > > Yang terpenting adalah dapat menghayati esensi dari ketentuan > hukum > > > tersebut. > > > > > > Walaupun kewajiban melampirkan SBKRI masih kerap ada, tetapi > > > keadaaanya tidak separah di era Orde Baru lagi. Sebagai instansi > > > pemerintah kelihatannya sudah mempunyai itikad baik untuk > mengubahnya > > > dalam birokratisasi dokumen/administars-i kenegaraan yang dulunya > > > selalu mewajibkan SBKRI bagi WNI Keturunan Tionghoa. Yang > terpenting > > > bagi WNI Keturunan Tionghoa sendiri harus berani melawan, apabila > > > dalam mengurus administrasi kenegaraan, seperti di Catatan Sipil > dan > > > Imigrasi, masih diminta SBKRI. Bikin surat pembaca, atau lapor ke > > > atasannya, bilamana perlu sampai ke level Menteri. Seperti > Menteri > > > Hukum dan HAM. Mudah-mudahan Indonesia tidak harus terus- menerus > > > mendapat tekanan dari luar baru mau benar2 bertindak. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --- In HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com, "Ulysee" <[EMAIL PROTECTED]> > > > wrote: > > > > > > > > Hmmmm, jaaaadiiiiii.-....... > > > > Diskriminasi itu jangan jangan sebenarnya urusan PERASAAN > aja??? > > > > Soalnya kok ada yang merasa di diskriminasi dan ada yang merasa > > > tidak di > > > > diskriminasi?-?? > > > > > > > > Cabut Inpres bukan melulu hanya karena alasan diskriminatif aja > > > euy! > > > > Bisa juga karena sudah tidak seusai dengan sikon masa sekarang. > > > > > > > > > > > > > > > > -----Original Message----- > > > > From: HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com > > > > [mailto:HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com] On Behalf Of Skalaras > > > > Sent: Monday, February 11, 2008 9:24 PM > > > > To: HYPERLINK "mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com"[EMAIL PROTECTED] com > > > > Subject: {Disarmed} Re: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa > Tidak > > > > Didiskriminasi" > > > > > > > > > > > > > > > > Kalau tidak diskriminatif dan dianggap sudah benar, untuk apa > > > Inpres2 > > > > tsb harus dicabut ? > > > > > > > > Kalau hanya pelaksanaannya yang terdistorsi, ya tegur > pejabat2nya > > > saja, > > > > dan awasi pelaksanaannya. kok peraturan yang sudah benar yang > diutak > > > > utik? > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > > > From: ardian_c > > > > To: HYPERLINK > > > > "mailto:budaya_-tionghua%-40yahoogroups.-com"budaya_-tionghua@ > > > yahoogroups.-- > > > > com > > > > Sent: Saturday, February 09, 2008 3:05 AM > > > > Subject: [budaya_tionghua] Re: FW: "Saya Merasa Tidak > > > Didiskriminasi" > > > > > > > > Judulnya boleh gede "saya merasa tidak didiskriminasi" tapi isi > > > > tulisannya kok beda hehehehehehe > > > > > > > > coba aja baca > > > > "Saya tidak mengatakan itu. Tapi, apakah saya harus mengatakan > > > bahwa ada > > > > diskriminasi, padahal saya tidak merasa didiskriminasi. Tapi, > saya > > > dan > > > > rekan-rekan memang pernah memperjuangkan untuk menghapus Inpres > No > > > > 14/1967 > > > > yang dalam pelaksanaannya banyak distorsi. (Inpres No 14/1967 > > > mengatur > > > > tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Dalam > inpres > > > itu, > > > > warga > > > > > > > > . > > > > > > > > > > > > ---------------------------------------------------------------- > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > No virus found in this incoming message. > > > > Checked by AVG Free Edition. > > > > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release > Date: > > > > 2/5/2008 8:57 PM > > > > > > > > > > > > > > > > No virus found in this outgoing message. > > > > Checked by AVG Free Edition. > > > > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release > Date: > > > > 2/5/2008 8:57 PM > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > ---------------------------------------------------------------- ---------- > > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1272 - Release Date: 11/02/2008 17:28 > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date: 2/5/2008 8:57 PM Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date: 2/5/2008 8:57 PM [Non-text portions of this message have been removed]
