He he he, Di Medan kan Banyak Bataknya, coba main2 ke Lapo Tuak (
disekitar Jalan Darat ) atau BPK ( Babi Panggang Karo ) dekat Kampus USU
disana pasti ada Babinya, termasuk Sam Can Bak, jadi ada juga makanan
Tidak Halal.
Memang kota Medan ini agak tipikal, semua suku ada disana, Batak, Karo,
Jawa, Sunda, Melayu/Deli, Aceh, Mandailing dll. Di era 70 an memang ada
warga keturunan yang takut dan malah jadi Bulan2an Pribumi, tapi TIDAK
semua pribumi bersikap begitu. Mungkin Kota Medan itu identik dengan
kota Preman, jadi tak heran para pemilik toko kalau Lebaran suka
dimintai THR, kalau tahun Baru dimintai uang juga, dan Kalau Sin Cia
dimintain Ang pau juga ( kapan orang Chinese kebagian dibagi ha ha ha ).
Mudah2 an untuk jaman sekarang sudah berkurang, demikian juga kalau dah
berurusan dengan aparat, sudah bisa diperlakukan sama tanpa perlu
membayar lebih mahal lagi bagi warga keturunan. Karena Tidak semua Warga
Keturunan itu Kaya, di Pantai Cermin, Sumut ada warga Keturunan yang
menjadi nelayan tradisionil, kalau dia tidak ngomong bahasa Hok Kien,
mungkin anda2 akan sangka dia pribumi karena sangking hitamnya kena
angin dan matahari selama melaut, dan rumah mereka ya gubug2 dari atap
nipah itu. Demikian juga di Kalbar.
Saya adalah salah satu orang yang mengalami diskriminasi, ceritanya
begini. di era 70an pada saat mendaftar di Umpad Bandung, dari malah
hari sudah mulai antri untuk mendaftar, karena kita bertiga datang
sekitar jam 9 an malam maka kita mendapat antrian ke 3 atau ke 4.
setelah pendaftaran dibuka sekitar jam 8 an, gitu giliran kami oleh
petugas disana / Mungkin senior dari mahasiswa disana mengatakan " Yang
Cina2 tolong kumpulin dulu sampai lima orang, nanti baru masuk " itu
bisa di bedain karena salah satu syaratnya adalah menyertakan SKBRI.
ya akhrinya yang Pribumi yang kebetulan datang belakangan masuk
lebih duluan. akhirnya sekitar Jam 11 an baru kita kebahagian, itupun
bukan karena terkumpul lima Cina, tapi kebetulan ada senior yang merasa
iba dan suruh kita masuk.
Dalam hal ini, reaksi setiap orang tentunya akan berbeda tergantung dari
pengalamannya. dan bukan bearti Hal itu tidak ada karena dia tidak
pernah mengalaminya.
BUD'S
ALIANTONY ALI wrote:
kalau mau bahas masalah diskriminasi atau tidak ... ini aku mau bilang
kalau orang yang bilang kalau lu merasa di diskriminasi maka di
diskriminasi lah,kalau tidak merasa di diskriminasi maka itu
tidak..hahahh wong ...... lu ngomong atau ngaco..... emang sampai
sekarang bagi sebagian yang belum pernah kena diskriminasi maka
ngomong gedenya itu lor..... sampai kapan pun lu orang keturunan CINA
tetap CINA ngapain ngaku ngaku keturunan pribumi.... kakek bunyut
sendiri ngak diakui ,,,, apalagi di cina benteng itu .... coba nanya
marga lu apa ..ngak tahu pasti di bilang .... pribumi aja mengakui
kakek bunyutnya contoh orang jawa bilang orang jawa ..... Diskriminasi
itu di satu daerah di indonesia lain lain .....kalau di sumatera
terutama MEDAN diskriminasi itu terlihat jelas.....coba lu parkir di
jalanan pecinaan di medan uang parkirnya bisa naik 2 kali lipat ....
apa di bilang MOBIL CINA .... hahahahaha.....dikit dikit ngomong pake
DIAM LU CINA..... sakit ngak kalau lu di bilang gitu ...bagi yang
belum pernah di gituin .... jgn banyak ngomong dulu lah .... kalau
bagi yang ngak pernah kena diskriminatif coba pikir dulu kejadian 1998
betapa sakitnya hati orang keturunan cina waktu itu ... cemana kita di
buat.... di perkosa di bunuh...kenapa harus ORANG KETURUNAN CINA AJA
.kalau belum kena diskriminatif ngomong gedenya itu ....
wong INGAT KAKEK BUNYUT LU DARI MANA?
jangan kan buat SBKRI atau pun surat lain ..... dari makanan aja udah
di pisah ... cemana mau baur ..... yg satu makan babi yang satu tidak
......kalau di luar negeri di amerika atau eropa mereka bisa berbaur
kenapa? dari makanan aja ngak di persoalkan mau babi mau ngak .....
ini negara lain pake HALAL atau ngak... dari makanan udah di
DISKRIMINASI ....SADAR NGAK?diskriminasi itu sama dengan di kecilkan ,
dipisahkan.....lu cina gue HUANA(pribumi)
*/Ulysee <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:
Hehehe, nah ini pandangan kritis nih:
"Aku melihat persoalannya dan diskusinya sesungguhnya tidak pernah
kepada mengakui apakah diskriminasi itu ada atau tidak."
Masalahnya, banyak dari antara kita yang menggunakan kata
'diskriminasi'
tersebut tidak pada tempatnya.
Alhasil bikin ruwet masalah. Yang mana diskriminasi, yang mana bukan,
udah campur baur tidak keruan semuanya dikasih label yang sama,
pokoknya
diskriminasi. Diskusinya berputar kesitu situ melulu, tentang ORBA,
tentang masa lalu kelabu, curhatnya juga nggak nambah yang baru,
ngurus
paspor, ngurus surat kawin, surat lahir, pungli, soal masuk perguruan
tinggi.
Lama lama gue bosen... aduuuhhhh keluarin ilmu baru dooonk, masa
itu-itu
melulu.
Diskriminasi, gue yakini pernah ada.
Tapi yang mana aja? Kenapa bisa begitu?
Apa masih ada? mana yang masih bisa ditolerir, mana yang sudah
selayaknya dihapus?
Diskriminasi by intention ?
atau diskriminasi karena tuntutan sikon masa lalu (kayak kita tahu
kenapa istilah 'asli' sampe muncul di UUD 45)?
Gue pernah nantangin orang, mana aja sih aturan yang diskriminatif?
yang mana sudah dihapuskan sehingga sekarang tidak lagi
diskriminatif,
yang mana yang masih harus diperjuangkan karena masih
diskriminatif dan
sudah tidak sesuai dengan perkembangan sikon sekarang sehingga
selayaknya dihapus.
Tapi tantangan nggak pernah dijawab, lagi-lagi muter muter di
situ-situ
juga.... cape deeeeeh.
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
@};-PurpleRose};--
Sent: Saturday, May 03, 2008 12:40 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [budaya_tionghua] Etnis non Tionghoa
kutip dari Uly:
"di diskriminasi atau tidak, yang penting apakah mampu berbuat".
kalimat Uly diatas menurutku adalah inti pemikiran dari semua
pembahasan
ttg diskriminasi yg ada (CMIIW). Aku melihat persoalannya dan
diskusinya
sesungguhnya tidak pernah kepada mengakui apakah diskriminasi itu ada
atau tidak. tapi lebih kepada panggilan agar kita jangan terlarut
kedalam mentalitas korban yang hanya bisa mengeluh, mencerca,
memaki-maki, dan mencari kambing belang...yang kemudian tidak berbuat
apa-apa, hanya bisa mengomeli nasib dan orang lain yg tidak adil
kepada
kita...atau lebih parah lagi, kita juga melakukan hal
diskriminatif yang
persis sama kepada orang lain tanpa kita sadari.
itu juga yg kupikir yang ingin disampaikan oleh si Asuk-asuk
dengan cewe
cina benteng itu. dan aku sepakat banget dengan cewe cina benteng
itu,
saya juga memilih menolak untuk didiskriminasi!
(tapi kalimat bahwa diskriminasi itu adalah pilihan....saya perlu
penjelasan lebih lanjut ttg arti kalimat ini :-p)
sekalian kusertakan file CERD disini. semoga bermanfaat
Ulysee wrote:
>
> Suatu kali gue ikut sebuah acara, sosialisasi UU kewarganegaraan
taon
> 2006.
> Seperti biasa khan kalau acara begituan, ada aja soal
diskriminasi di
> senggol.
>
> Yang buat anak muda tukang ngeyel kayak gue,
> udah langsung lunglai cape hati,
> soalnya BOZZEEEENNN 30 taon hidup denger tionghoa di diskriminasi,
> sekarang udah jaman reformasi, masih itu juga yang dinyanyiin.
> Lagu lama.
> Pengen nyanyi lagu baru aja, SO WHAT GITCHU LOH !
>
> Tiba tiba nongol satu asuk-asuk maju ke arah mike,
> namanya gue tidak ingat,
> penampilannya boleh renta, pasti diatas umur babeh gue,
> gue ingat suaranya yang masih gagah, cukup mengagetkan waktu dia
> bilang begini,
> "saya sekian tahun hidup di Indonesia, tidak pernah merasa di
> diskriminasi".
>
> Gue yang tadinya ngantuk denger acara curhat,
> langsung semangat tepuk tangan.
> Ini... nih yang begini, tokoh panutan yang gue cari.
> Tokoh tua yang berani nentang arus.
> Gue sendiri enggan bergayut manja pada istilah diskriminasi, malu
hati,
> di diskriminasi atau tidak, yang penting apakah mampu berbuat.
>
> Setelah si Asuk ada lagi cewek, bilang, saya cina benteng,
> juga tidak pernah merasa di diskriminasi.
> Tepukan gue makin kenceng. Apalagi ketika cewek ini lalu bilang,
> "Di diskriminasi adalah masalah pilihan! Dan saya memilih untuk
> menolak di diskriminasi"
> Wah gue langsung terinspirasi.
>
> Iya juga. Kadang "Diskriminasi" itu penyakit pikiran.
> Pada saat kita berpikir di diskriminasi - terdiskriminasi lah kita.
> kalau tidak berpikir terdiskriminasi - bebas lah kita.
>
> Dari pertemuan itu begitu pulang gue langsung buka kamus, apa sih
> definisi diskriminasi??? heheheh.....
>
>
>
>
>
>