--- In [email protected], "Prometheus" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ya, memang persepsi dan penuturan sejarah dapat saja berbeda-beda sesuai dengan pengalaman, pemikiran dan kepentingan pencerita. Walaupun demikian, peristiwa sejarah yang sudah terjadi seharusnya tetap dan tidak berbeda.Inilah yang menarik untuk digali dan dipelajari, bukan ? > ----> Penulisan sejarah oleh penguasa selalu terkait dengan aspek politis. Anda bisa bayangkan, bagaimana kalau para pejuang kemerdekaan tahu, kita harus ambil alih hutang pemerintah belanda, ngamuk kan?
> Saya tidak menemukan tulisan sdr Aliantony yang menyinggung perihal > kemerdekaan yang tidak datang dari bambu runcing. But anyway, saya > sependapat bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah semata karena perjuangan 'bambu runcing', tapi juga tidak terlepas dari hasil perjuangan diplomasi, kerjasama international dan pengaruh situasi perpolitikan international pada masa itu. > ---> Dengan bambu runcing semata, paling kita bisa latihan baris berbaris. Ingat saja, dengan perlengkapan yang cukup baik, serangan fajar bulan maret 1948 itu hanya bertahan setengah hari. menjelang tengah hari tank tank Belanda kembali menguasai Jogya. Tentu saja, sdr Aliantony tulis mengenai bambu runcing (dia namakan "tombak bambu", sama saja kan?, Cobalah baca dengan seksama: ------------- "hahahah neng uly waaahahahahha.entar kelaporan di POLICE wa nunjuk orang ..berabe ini.sabar sabar gunung fuji yang tinggi masih ada yang lebih tinggi lagi tapi belum sadar juga setinggi apa gunung itu.waakkakakak .kalau orang bilang 4,5 gulden atau 4,5 ringgit atau 4,5 ruppee...ok ok aja ..wakkakaaakk.gawat sejarah indonesia yang kita pelajari ini semua fiktif ...makjang ? apa yang terjadi dengan indonesia ini.....entar gua bayar lebih banyak deh supaya ngak merdeka lagi 5000 juta gulden. kurobah lagi sejarah ini.. hancur deh mana yang bener sejarah indo ini.berarti merdeka bukan dengan tombak bambu dong.GAWAT ----------------- > > Prometheus >
