Wakakak . daripada sepi, malah ga ada bahasan sama sekali. Jadi . menurut saya sih, tuliskan sajalah apa opini kita .. Namanya juga ngobrol ngalor ngidul . n ngibul ..
Tapi kalo ngibulnya kelewatan, pasti ada yang protes . hehe . From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Ophoeng Sent: Tuesday, September 07, 2010 11:00 AM To: [email protected] Subject: [budaya_tionghua] Baca Dan Respon Posting. (Was: Kejahatan rasial di bis kota di Jakarta) Bung SF or Sawfa dan TTM semuah, Hai, apakabar? Sudah makan (sahur)? Nimbrung dikit ya... Saya suka heran ajah, mengapa ya ada saja TTM yang suka membaca posting cuma sekelebatan ajah, lantas buru-buru respon cuma satu-dua kalimat saja, yang lantas konteks-nya jadi seolah berdiri sendiri dan ditanggapi secara.... apa istilahnya nih: salah, sembrono, ngawur, atau sempit - nanti pasti dibahas lagi masalah yang ini. Coba saja baca lagi posting Bung SF di bawah secara lengkap, mestinya ndak perlu lantas pada tersinggung dan merespon dengan reaktip oleh kalimat yang ini: "komunitas tionghua yg lebih maju umumnya tergabung di gereja" - sebab kalimat tsb utuhnya adalah sebagai berikut: "komunitas tionghua yg lebih maju umumnya tergabung di gereja, yg setau sy belum pernah ada sejarahnya, gereja mengadakan latihan ilmu bela diri kungfu atau karate atau boxing sekalipun. sesepuh2 yg dianggap bijaksana sbg tempat mengadu, biasanya menenangkan dg kata2: sebisa mungkin kita menghindar saja, biarkan mereka berbuat jahat terhadap kita, suatu saat mereka pasti akan ketemu orang yg membuat mereka jera. tapi dari hari ke hari, semakin banyak yg ngomong begitu, sementara orang yg akan memberi pelajaran yg membuat jera, tak kunjung muncul, hehehe." Apakah hal ini - baca sepotong-sepotong, langsung spontan respon sepenggal-dua kalimat, karena pengaruh 'kemajuan' (atau kemunduran?) teknologi, anda bisa secara mobile mengikuti milis, baca-nya pakai BB di jalan, di mobil, di kantor, jadi mesti buru-buru - sebab lampu lalin sudah ijo atau boss manggil, hurufnya kecil-kecil tak terbaca, jadi secara acak saja comot satu dua baris kalimat yang kebetulan pas dapatnya yang sepotong itu, lantas merespon-nya tanpa mau baca selebihnya lagi? Yah.... kalau sudah begitu, anda tidak salah sih, kalau dibilang salah nanti jadi manjang, sebab memang bukan salah anda memegang BB, tapi salah si BB yang menyediakan fasilitas layar mini dengan huruf mini ya? Gak apa-apa sih, saya bukan bermaksud protes, malah bagus juga, jadi milis gak sepi, rame terus dengan pemahaman sepotong-sepotong yang menggiring respon lain yang juga sepotong-sepotong, makin kabur dan jadi OOT. Mayan, daripada milis sepi toh yah? (jawab si Ipin: betul! betul! betul!) Saya pernah mukim di Pontianak agak lama, sekitar 2 tahunan - waktu KM Tampomas terbakar dan tenggelam di perairan Masalembo itu, dan bergaul dengan masyarakat Tionghua maupun Melayu di sana karena tuntutan perut: gawean saya mesti ke rumah sakit, dokter-dokter, apotik dan toko obat. Setidaknya yang dikatakan Bung SF adalah cerminan masyarakat setempat di sana. Saya rasa, gak ada salahnya mereka merasa 'terbelakang' dibanding "komunitas tionghua yg lebih maju umumnya tergabung di gereja", sebab memang begitulah selalu 'positioning' yang mereka terima sejak kecil. Jangan anda bayangkan masyarakat Tionghua di sana (juga di Medan?) dengan yang di Jawa. Di Jawa, boleh dibilang semiskin-miskinnya orang Tionghua, gak ada yang sampai menjadi petani penggarap gurem, kuli, tukang becak atau babu, yang mesti tinggal di rumah gedek berlantai tanah becek deket kandang babi, mandi dan berak di sungai berair soklat - sampai juga mesti terpaksa 'menjual' anak perempuannya untuk dikawin ama duda atau perjaka tua di Taiwan sana. Cuma mereka yang 'maju' - secara ekonomi terutama, yang bisa 'makan' bangku sekolah - sekolah itu suatu kemewahan, di sekolah Katolik atau Kristen, karena tak mungkin mereka bersekolah di sekolah negeri - kecuali yang berkahwin-mahwin dengan suku-suku lain. Tapi, memang susah sih ya, seperti kata teman saya, anak Tionghua Dili (Timtim) waktu tahu saya naksir anak perempuan tetangganya: bebek itu ber-kwek-kwek-kwek, sementara ayam berkok-kok-kok, keduanya susah bertemu. Kalau membayangkan masyarakat tertentu sebagai masyarakat yang ada di lingkungannya sendiri, tentu saja referensi-nya berbeda, dan kayaknya kalau sudah begitu, ibarat membandingkan apel vs jeruk - sampai kapan pun gak bisa ketemu atuh, euy! O, ya, by the way, busway, kemaren malem saya nonton tayangan Saolin Kungfu Inc. di Nat-Geo - ternyata 'gereja' aka vihara aka biara Saolin itu jadi bisnis besar di Tiongkok sana. Para 'biksu'nya gak menutup diri dari modernitas. Mereka mengadakan tur keliling dunia bikin show yang tidak kalah ama safari-nya si Jacko, kolaborasi dengan koreografer dari Perancis(?), jual memorabilia, bikin tur keliling biara - gak kalah ama Vatikan. Mereka pada maen kompi juga - jangan-jangan pada baca milis kita juga tuh, pegang HP, dan ketika ditanya apa gak takut kuwalat ama kakek moyang (di Saolin gak ada 'nenek') boss-nya bilang: kalau pendiri Saolin masih ada, kayaknya mereka akan merestui langkah kami ini, jeh! Begitu sajah sih ya kira-kira. Salam makan enak dan sehat, Ophoeng --- In [email protected] <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> , "sf" <sa...@...> wrote: sekian lama sy merasa cara ahimsa nya mahatma gandhi adalah paling baik, maka sy lebih merasa cara bun lebih baik dari bu. pilihan sy ini sejalan dg pandangan 1 generasi di atas sy, tentunya berdasarkan pengalaman mereka masa itu. di singkawang dulu ada seorang jago kungfu yg sekarang sy lupa nama aslinya siapa (dulu sy tidak tau) tapi dikenal dg panggilan cimuk On. dalam suatu pertandingan persahabatan dg jago karate dari jepang, setelah si jepang pulang ke rumah, muntah darah dan mati. cimuk On kemudian jadi buron dan disembunyikan murid2nya di jakarta, dan sampai akhir hayatnya tinggal di jl. TSS. kejadian itu mungkin salah satu kejadian yg membuat trauma shg setelah itu tidak terdengar lagi cerita2 pembela kebenaran dari singkawang. padahal jika dirunut-runut ke belakang, sy rasa nenek moyang orang tionghua di singkawang rata2 menguasai ilmu bela diri yg cukup mumpuni shg mampu mengatasi medan yg berat. pd jaman orba, di tingkat kebijakan, semua yg berbau cina sebisa mungkin dihilangkan. di tingkat implementasi, sejak anak2 sdh timbul kebencian yg sangat kental terhadap cina di kalangan melayu, entah apa yg ada di pikiran anak2 itu sehingga harus malak dan ngajak berantem. dan tambah menjadi-jadi karena tidak ada lagi komunitas tionghua yg mengajarkan ilmu bela diri. sy sendiri waktu umur 9 atau 10 tahun di suatu malam pulang dari belanja di warung sendirian, pernah dicegat dan dikerubuti 6-7 anak2 tetangga tapi karena gelap, sepi, gak ada pilihan lain, lebih baik melawan sebisanya daripada mati konyol. itu pengalaman berantem satu2nya yg sy punyai, hehehe.. komunitas tionghua yg lebih maju umumnya tergabung di gereja, yg setau sy belum pernah ada sejarahnya, gereja mengadakan latihan ilmu bela diri, kungfu atau karate atau boxing sekalipun. sesepuh2 yg dianggap bijaksana sbg tempat mengadu, biasanya menenangkan dg kata2: sebisa mungkin kita menghindar saja, biarkan mereka berbuat jahat terhadap kita, suatu saat mereka pasti akan ketemu orang yg membuat mereka jera. tapi dari hari ke hari, semakin banyak yg ngomong begitu, sementara orang yg akan memberi pelajaran yg membuat jera, tak kunjung muncul, hehehe. dlm sebuah retret meditasi, sy ketemu kawan2 dari makassar. salah satunya sangat menggemari ilmu beladiri, bahkan di retret sebelumnya katanya dia ketemu seorang ahli taichi yg masih muda huaqiao dari amerika. yg mengagetkan sy, teman ini bercerita bahwa ia sering duel dg tukang2 becak di sana. kalau ada yg belagu atau ngata2in cino, dia akan pancing ke tempat sepi, dan hajar di sana, tapi jangan sampai mati, katanya, hehehe. padahal ia adalah seorang sarjana hukum. semoga di pontianak dan daerah2 lain semakin banyak orang2 spt teman makassar itu atau spt koko dari ikkyosensei, maka menurut sy, huaren akan lebih dipandang dlm kehidupan bermasyarakat secara nasional.
