Salah satu teknik interogasi agen2 KGB adalah permainan bad cop dan good
cop , yang satu berperan sebagai demon , menindas tahanan agar mengakui
suatu kesalahan , satu lagi berperan sebagai malaikat yang membelai2
tahanan dengan senyum dan ramah. Tahanan akan terombang-ombang dalam
permainan panas dan dingin ini sampai menjadi gelas yang retak.

Dalam hubungan internasional dan dalam negri pun prinsipnya sama ,
bahkan keluarga sebagai elemen terkecil itu harus ada balance , harus
ada bapak yang "ditakuti" dan disegani , harus ada ibu yang membelai2
sang anak. Jadi tidak cukup dengan AHIMSA , tidak cukup dengan whatever
Gandhi Would Do , tapi juga harus ada Whatever Machiavelli Would Do.
Bermain main dengan irama sesuai situasi dan kondisi. Sebagai bangsa
harus ada tokoh humanis seperti Gus Dur dan juga tentara setangguh
pasukan komando khusus. Di Jerman ada Hitler yang di kutuk oleh musuhnya
, ada juga Rommel yang di hormati , bahkan oleh pidato Churchill di masa
perang .

Dalam kaidah seni perang , Yagyu Munenori mengungkap dualisme pedang ,
bahwa pedang itu pemberi kehidupan dan juga instrumen kematian. Jika
pedang di tebas itu untuk mencabut nyawa seorang Hitler yang menyebabkan
tumpahnya darah jutaan manusia , atau serial killer yang menyebabkan
rentetan kematian , dengan menebas pedang itu untuk menghabisi mereka ,
maka dapat di katakan pedang itu juga instrumen pemberi hidup
(live-giving sword).

Jika karena Ahimsa yang anti kekerasan itu menyebabkan kematian lebih
banyak lagi , melalui dampak langsung atau tidak langsung (India boleh
merdeka , tapi di susul konflik dengan terpecahnya India , Pakistan ,
dan menyusul Bangladesh) maka dapat di katakan Ahimsa yang anti
kekerasan itu juga sebenarnya instrumen kekerasan itu sendiri.




> > >
> > > --- In [email protected], "sf" <sawfa@> wrote:
> > >
> > > sekian lama sy merasa cara ahimsa nya mahatma gandhi adalah paling
baik, maka sy lebih merasa cara bun lebih baik dari bu. pilihan sy ini
sejalan dg pandangan 1 generasi di atas sy, tentunya berdasarkan
pengalaman mereka masa itu. di singkawang dulu ada seorang jago kungfu
yg sekarang sy lupa nama aslinya siapa (dulu sy tidak tau)  tapi dikenal
dg panggilan cimuk On. dalam suatu pertandingan persahabatan dg jago
karate dari jepang, setelah si jepang pulang ke rumah, muntah darah dan
mati. cimuk On kemudian jadi buron dan disembunyikan murid2nya di
jakarta, dan sampai akhir hayatnya tinggal di jl. TSS.
> > >
> > > kejadian itu mungkin salah satu kejadian yg membuat trauma shg
setelah itu tidak terdengar lagi cerita2 pembela kebenaran dari
singkawang. padahal jika dirunut-runut ke belakang, sy rasa nenek moyang
orang tionghua di singkawang rata2 menguasai ilmu bela diri yg cukup
mumpuni shg mampu mengatasi medan yg berat.
> > >
> > > pd jaman orba, di tingkat kebijakan, semua yg berbau cina sebisa
mungkin dihilangkan.  di tingkat implementasi, sejak anak2 sdh timbul
kebencian yg sangat kental terhadap cina di kalangan melayu, entah apa
yg ada di pikiran anak2 itu sehingga harus malak dan ngajak berantem.
dan tambah menjadi-jadi karena tidak ada lagi komunitas tionghua yg
mengajarkan ilmu bela diri. sy sendiri waktu umur 9 atau 10 tahun di
suatu malam pulang dari belanja di warung sendirian, pernah dicegat dan
dikerubuti 6-7 anak2 tetangga tapi karena gelap, sepi, gak ada pilihan
lain, lebih baik melawan sebisanya daripada mati konyol. itu pengalaman
berantem satu2nya yg sy punyai, hehehe….
> > >
> > > komunitas tionghua yg lebih maju umumnya tergabung di gereja, yg
setau sy belum pernah ada sejarahnya, gereja mengadakan latihan ilmu
bela diri, kungfu atau karate atau boxing sekalipun. sesepuh2 yg
dianggap bijaksana sbg tempat mengadu, biasanya menenangkan dg kata2:
sebisa mungkin kita menghindar saja, biarkan mereka berbuat jahat
terhadap kita, suatu saat mereka pasti akan ketemu orang yg membuat
mereka jera. tapi dari hari ke hari, semakin banyak yg ngomong begitu,
sementara orang yg akan memberi pelajaran yg membuat jera, tak kunjung
muncul, hehehe…
> > >
> > > dlm sebuah retret meditasi, sy ketemu kawan2 dari makassar. salah
satunya sangat menggemari ilmu beladiri, bahkan di retret sebelumnya
katanya dia ketemu seorang ahli taichi yg masih muda huaqiao dari
amerika.  yg mengagetkan sy, teman ini bercerita bahwa ia sering duel dg
tukang2 becak di sana. kalau ada yg belagu atau ngata2in cino, dia akan
pancing ke tempat sepi, dan hajar di sana, tapi jangan sampai mati,
katanya, hehehe… padahal ia adalah seorang sarjana hukum.
> > >
> > > semoga di pontianak dan daerah2 lain semakin banyak orang2 spt
teman
> > > makassar itu atau spt koko dari ikkyosensei, maka menurut sy,
huaren akan lebih dipandang dlm kehidupan bermasyarakat secara nasional.
> > >
> >
>

Kirim email ke