>
>Saya mengatakan apa adanya. Apa bukan begitu?

sah-sah saja anda mengatakan itu apa adanya, menurut saya pendapat itu pasti 
mewakili perpektif dimana anda berdiri. Kami juga punya "pernyataan" apa 
adanya, yg mungkin tidak tersepakati oleh anda yg berdiri pada perpektif yg 
berbeda dengan kami...

>[Inikan bisa dilihat di detik.com dari wawancara detik dengan anda.]

memang itulah pendapat saya (yg mewakili institusi) di detik.com ketika ditanya 
wartawan detik setelah mbaca postingan anda di milis para wartawan (setelah 
saya kirim surat formal ke anda), sayangnya penekanan wartawan tersebut ke arah 
konflik-nya, bukan pada perbedaan persepsinya. Surat kami itu terkirim sebagai 
reaksi dari kejadian sebelumnya yg masih kami anggap prematur, sayang lalu anda 
kuak ke publik. Jadi, anda lah yg pertama menguak persoalan kepada publik....

semua jadi jelas saling kait terkait, tapi mari kita sikapi dengan kepala 
dingin.

>
>Maaf, saya tidak suka bermanis-manis akan tetapi kemudian
>nyodok di belakang.
>

Nah tuh kan..
ada istilah baru lagi: "nyodok di belakang....."

yg jelas,
kita semua saling aksi dan juga saling bereaksi, hingga membangun situasi jadi 
membingungkan dan ujung2nya kontra produktif. Kalo diterus-teruskan, akan makin 
kontra produktif. Karena kalau yg "berhadapan" masih diantara kita saja, gak 
bakalan ketemu ujung pangkal-nya. Saya merasa kita tdk lagi punya kemampuan 
untuk mengendalikan ego ketika dalam kancah diskusi, perdebatan dan 
semacamnya...

Makanya saya berusaha menahan diri untuk berpolemik. Membiarkan persoalan 
bergulir sebagai sebuah proses pembelajaran bagi kita semua. Yg sejauh ini saya 
anggap masih konstruktif untuk per-internet-an indonesia masa yg akan datang. 
Tapi lagi2... ya gak bisa menahan diri...

Kalau anda setuju, saya menawarkan diri untuk dialog. Tetapi harus ada "pihak 
ketiga" yg bisa dijamin inetgritas dan kenetralannya. Silahkan anda tentukan 
siapa-siapanya, kami akan kira2 untuk menyetujui. Saya berusaha menekankan 
diri, bahwa apa yg kami tuju adalah sebuah kepentingan bersama, bukan 
kepentingan pribadi atau kelompok. Mungkin saja cara saya salah, itu bukan 
karena saya ingin melakukan kesalahan, tapi karena (mungkin) belum tahu mana yg 
benar. Dan saya harap anda tidak jadi sok benar...

Semoga kerangka pikir anda sesuai dugaan saya, yakni berbuat sejauh ini (meski 
melalui konflik) demi kancah internet indonesia. Bukan dalam kerangka 
"menang-kalah".

>PS: saat ini ada request dari APJII untuk menggunakan nama domain
>idnic.net.id :( sigh...
>Bagaimana saya bisa menghargai dengan langkah2 seperti ini?
>

Itulah salah satu sikap dari perspektif kami, sah-sah saja kalau anda lalu 
menolak atau tidak sepakat. Tidak perlu menghargai apa yg kami lakukan, seperti 
kami juga tidak harus selalu menghargai apa yg anda lakukan...

Seperti sudah anda ketahui, bulan depan akan ada Munas di APJII dan saya sudah 
menetapkan diri untuk tidak lagi mencalonkan diri dalam kepengurusan APJII 
mendatang. 

Jadi saya serahkan kepada keputusan anda. Jika ingin diselesaikan sekarang, 
saya mungkin masih bisa ikut. Tapi kalau mau menunggu adanya pengurus APJII 
yang baru, ya juga silahkan....

Kalau pilihannya adalah membiarkan situasi tetap seperti ini atau bergulir 
sebagaimana adanya, juga silahkan.....

-hn-

Kirim email ke