Yup. Jadi biarkanlah kami berpendapat. Toh ini juga milis kami yang terbuka untuk umum.
Bud,
silahkan berpendapat, semua orang bebas berpendapat,
tapi mohon tidak tendensius dan mendiskreditkan seseorang kalau seseorang itu tidak bersedia didiskreditkan.
juga mohon tidak mendiskreditkan APJII dg cara pandang sendiri tersebut, karena selaku sekjen di APJII saya punya kewajiban untuk bereaksi.
Kecuali kalau saya sudah tidak lagi di APJII, kewajiban itu lepas dari saya. Tapi pasti-nya org yg akan menggantikan saya juga akan melakukan reaksi serupa....
... > Jadi, anda lah yg pertama menguak persoalan kepada publik....
Ya. Saya tidak menyangkal hal itu. Saya *sengaja* membuka hal ini ke publik agar publik tahu apa yang terjadi di belakang layar. Supaya komunitas tahu perlakuan apa yang kami terima dan dapat belajar dari pengalaman ini. Soalnya, bodohnya saya, tidak belajar dari pengalaman pak Samik ketika menghadapi APJII juga.
Wah,
seolah-oleh Budi (dan kawan-kawan ??) berada pada posisi "yg teraniaya" dan APJII sebagai "penganiaya",
kami sebenernya juga punya versi yg serupa, tapi terbalik.
Salah satu-nya spt terungkap di detik.com, sayangnya sang wartawan tidak menyertakan pernyataan:"menurut saya adalah ....... "
Namun selanjutnya kami merasa tidak perlu membuat publik (komunitas lain) terlibat lebih jauh, karena kami sadari itu sebagai perpektif kami.
Sampai ada pihak yg kompeten mengambil sebuah kesimpulan: siapa sebenarnya yg harus "disalahkan" & "dibenarkan".
Atau barangkali semua pihak memang harus "disalahkan"!?
Maaf pak Heru. Saya memang benar merasakan hal itu. Lihat saja kronologisnya dan langkah-langkah yang diambil. Itu langkah-langkah yang terlihat oleh umum. Masih ada banyak langkah lain yang tidak bisa saya ceritakan kepada publik yang intinya ingin mendongkel kami dari pengelolaan domain. (Ada yang kasak kusuk.) Perlakuan yang saya terima bukan hal yang biasa.
[Bukan, saya tidak berbicara mengenai upaya2 yang dilakukan oleh EL6. Saya tidak berbicara tentang dia, meskipun yang dia lakukan juga sejalan dengan yang diinginkan oleh oknum APJII. Yang lucu bagi saya adalah entah sadar atau tidak, meskipun mereka saling bermusuhan, ternyata mereka sejalan. Mungkin pepatah "your enemy is my enemy?" ada benarnya.]
Logikanya, hanya orang yg gak waras yang ingin menghancurkan eksistensi kelangsungan pengelolaan domain internet di indonesia,
mendongkel kinerja Budi Cs melalui cara2 kontroversial adalah langkah penghancuran.
Menurut saya.... yg mungkin, cara2 tersebut tidak sejalan dengan mindset Budi Cs, dan menurut saya itu wajar.
Silahkan masing2 ber-argumentasi dan ketika makin mengarah pada suasana kisruh, Budi atau siapapun itu bisa mengupayakan cara2 yg masih dalam koridor yg bisa diterima oleh sistem yg berlaku di negara ini. Negara kita ini negara hukum... Dunia internet juga punya mekanisme yg konstitusional, selain yg "porno-porno".
> Kalau anda setuju, saya menawarkan diri untuk dialog.
Saya menolak. Seperti sudah saya jelaskan ke pak Karno di LII. Untuk bertemu secara institusi, maka *semua dewan ketua APJII* harus hadir. Struktur di APJII membuat anda atau salah seorang dewan ketua tidak dapat membuat keputusan. (Sifatnya seperti, atau memang, berbentuk formatur.) Anda kan tidak bisa membuat keputusan. (Misalnya keputusan untuk menjadi registrar, keputusan untuk ini itu kan harus dari dewan ketua.) Jadi apa manfaat bertemu?
Itulah salah satu bukti bahwa di APJII (sebagai sebuah institusi) tidak bisa memberikan kewenangan kepada perorangan untuk mengambil sebuah keputusan strategis. Kecuali orang tersebut mendapat "mandat formal" untuk melakukannya. Bahkan kepada saya yang merupakan Sekretaris Jendral-nya. Saya memang secara otomatis mendapat mandat dari Munas untuk hal2 yg sudah digariskan oleh Munas/Rakernas/Policy Meeting/dll. Tetapi untuk urusan yg satu ini, karena merupakan situasi strategis yg belum ada dalam garis kebijakan institusi, maka saya harus diskusikan dalam wadah institusi. Seperti yg pernah terjadi ketika dalam pertemuan sebelumnya yg kebetulan mempertemukan kita berdua, saya tidak bisa tegas ambil sikap ketika anda datang dengan menyodorkan sebuah tatanan pengolahan domain yang baru dan yg (menurut anda) sudah tidak bisa dirubah. Mohon dimaklumi ketika saya tidak tegas dalam mengambil keputusan untuk "menerima" atau "tidak menerima".
Sebagai catatan, saya sudah banyak ketemu dengan rekan-rekan APJII, termasuk anggota dewan ketua. Secara individu, satu persatu. Tidak ada progres, tidak ada perubahan. Ya sekedar ngobrol2/makan2. Secara perorangan tidak masalah, tapi secara institusi nggak manfaat. Tidak ada keputusan2 yang dapat dibuat.
Sayangnya anda tidak bertemu dengan pihak yg sudah ditetapkan secara formal oleh APJII untuk membahas persoalan ini,
mungkin perlu saya informasikan, bahwa yg mendapat "tugas" dari APJII untuk penyelesaian persoalan ini adalah Teddy Purwadi dan Wahyoe Prawoto. Menurut saya, anda seharusnya sudah tahu itu. Sbg pemegang mandat formal ttg kebijakan umum di APJII, saya hanya berusaha melakukan upaya, demia sebuah solusi. Untuk substansi-nya, saya hanya mempertemukan anda dengan personal yg sudah kami beri wewenang untuk membahasnya.
Lagi pula seperti anda katakan, munas APJII tinggal sebulan lagi dan anda tidak mencalonkan diri lagi. Silahkan munas dulu lah. Silahkan diskusi secara *formal* di institusi anda, baru saya akan bicara dengan pimpinan berikutnya.
Okay, kalau itu merupakan sikap yang anda ambil...
Mungkin anda sudah tahu tentang pendapat saya yang sifatnya pribadi.
Saya berusaha memisahkan pendapat saya sebagai pribadi dan sebagai person yang mewakili APJII
Tapi dimanapun saya berdiri, UNTUK URUSAN YG SATU INI, saya akan berusaha bersikap pada hal yang cenderung condong pada kepentingan bersama, bukan mengutamakan kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok.
Jangan anggap penolakan ini sebagai ego yang mau menang sendiri, atau merasa paling benar. Bukan itu. Saya hanya tidak melihat manfaatnya jika anda dan saya ketemu. Kalau ketemu dengan *seluruh dewan ketua*, nah itu baru mungkin baik karena kita bisa make decision.
Saya rupanya kurang lengkap menyatakan penawaran yg dimaksud,
UNTUK URUSAN YG SATU INI, saya hanya berfungsi sebagai fasilitator untuk pertemuannya tersebut. Sedangkan secara substansial akan diwakili oleh Teddy Purwadi dan Wahyoe Prawoto secara bersama-sama (tidak satu per-satu). Tadinya, bahkan saya tidak berencana ikut campur, tetapi rupanya harus juga saya ikut angkat bicara, sehubungan ada hal-hal yg menurut saya sudah melebar dan "menyenggol" urusan & tanggung jawab saya selaku pemegang mandat umum garis haluan institusi (APJII).
Namun, dalam pertemuan nanti (jika terjadi), anda harus ikut hadir dan lalu tidak diwakili, karena rekan2 anda menyatakan bahwa pemegang mandat soal kebijakan pengelolaan domain adalah anda pribadi. Hingga dalam pertemuan sebelumnnya tidak bisa mengambil keputusan dan bahkan kemudian berwarna emosional, karena dari kami datang lengkap, sedang anda mewakilkan-nya pada sekelompok orang yg salah satu-nya adalah anggota pengurus APJII yg saat hadir (tanpa kami sadari sebelumnya), memperkenalkan diri sebagai salah satu wakil anda, karena memang dalam jabatan rangkap (menjabat juga sebagai salah satu pengurus di institusi anda). Sayangnya pada pertemuan berikut yg anda hadir sendiri, Teddy & Wahyoe tidak hadir, karena pemberitahuan pertemuan yg begitu mendadak.
> Itulah salah satu sikap dari perspektif kami, sah-sah saja kalau > anda lalu menolak atau tidak sepakat.
Ok. Ini merupakan salah satu move yang saya anggak "nyodok dari belakang" Ya samalah seperti kasus Ambalat. Sudah tahu domain tersebut tadinya kami pakai untuk mengelola domain kok sekarang diminta. Apa tidak membingungkan pengguna domain Indonesia?
Memang, anda punya dasar argumentasi untuk itu. Selain kami juga punya argumen, bahwa "brand" tersebut dinyatakan secara sah oleh dep kehakiman merupakan hak APJII. Saya lebih menghargai pendapat Sanjaya yang menyatakan bahwa permintaan itu sulit diluluskan karena sudah adanya rule yg disepakati, dimana untuk mendapatkan domain dot.net.id itu harus menyertakan legalitas sbg penyelenggara network oleh negara (pemerintah).
Apapun keputusan itu, akan kami terima dengan sewajarnya sebagai sebuah mekanisme proses....
> Kalau pilihannya adalah membiarkan situasi tetap seperti ini atau > bergulir sebagaimana adanya, juga silahkan.....
Yup. Kami punya program (registrar-registry) yang harus kami selesaikan. Urusan dengan APJII hanya merupakan distraction yang harus saya tangani.
Hehehehehe...
saya jadi diingatkan oleh pendapat yg dinyatakan seseorang ttg anda, bahwa anda adalah seorang jagoan...
Meskipun APJII adalah sebuah asosiasi yg punya basis anggota yang cukup kuat,
tapi saya pribadi hanyalah orang kecil yg bahkan gak benar2 paham sebuah fungsi router
-hn-
