Turut berbela sungakwa, Insya Alloh Ayah Rais menemui husnul khotimah. Tabah ya, semoga kebaikan Ayah akan tetap tertinggal di bumi.
On 9/16/07, Chris Oetoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Innalilahi wainailaihi rojiun..., > turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya Git, > semoga segala amal dan ibadah ayah anda diterima di sisi-Nya, amin, > juga anda dan sanak keluarga yang ditinggalkan, tetap tabah dan sabar, > tetap semangat ya, > > salam, > > C.O > > > *iwok <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Turut berduka cita Rais, Semoga almarhum diberikan tempat yang terbaik di > sisi Allah Swt. > Dan semoga kamu beserta sekeluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan > dan kesabaran. Amin. > Saya sangat mengerti arti sebuah kehilangan orang yang sangat kita cintai. > Tapi tetap semangat ya! > > Salam, > Iwok Abq. > > > On 9/15/07, sigit rais <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Assalamualaikum.... > > Teman-teman, maaf baru sekarang saya bisa menyampaikan kabar duka ini... > > inalillahi wa ini illaihi rojiun... > > pada tanggal 12 September 2007 (setelah sholat tarawih pertama), ayah > > saya, yaitu TB. Agus Suhara, menghembuskan nafasnya yang terakhir > > sekitar pukul 22.00 WIB. > > Sebelumnya, almarhum sempat sakit gejala tifus selama sekitar 3 > > minggu. Beliau dirawat di rumah oleh ibu saya atas rekomendasi dokter, > > Dan alhamdulillah, kondisi beliau berangsur-angsur membaik. Bahkan, > > sejak tanggal 11, beliau sudah mulai beraktivitas dengan didampingi > > oleh karyawannya. Kesehatan beliau terlihat semakin membaik. Bahkan, > > menurut cerita yang disampaikan oleh ibu saya, ayah saya sempat > > berbincang-bincang dengan beberapa tetangga mengenai kesiapan dalam > > menghadapi bulan Ramadhan. Beliau pun mohon doa pada teman-temannya > > (tetangga) agar diberi kesembuhan untuk bisa ikut sahur dan > > melaksanakan ibadah puasa. Sama sekali tidak ada gelagat yang > > mengisyaratkan sesuatu. > > Tanggal 12 September, pukul 19.00, saya baru saja pulang dari tempat > > kerja. Kedatangan saya disambut oleh almarhum. Dengan antusias, beliau > > memberi tahu saya bahwa ada peristiwa gempa bumi di Bengkulu. Beliau > > mengkhawatirkan keadaan nenek saya di sana. Setelah itu, saya pergi ke > > masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. > > Selesai shalat tarawih, saya, almarhum, dan adik-adik berkumpul di > > ruang keluarga. Ibu saya sedang masak di dapur. Saya lalu > > bermaaf-maafan dengan keluarga saya. Saya mencium tangan almarhum ayah > > saya (untuk terakhir kalinya). Setelah itu, kami pun sama-sama > > menyaksikan tayangan berita tentang gempa bumi di televisi. > > Sekitar pukul 21.30, saya segera masuk ke dalam kamar saya (di lantai > > dua) untuk mengerjakan tugas kantor. Lalu, ayah saya pun naik menuju > > kamarnya. Kamar kami berhadap-hadapan. Saat sedang memilih foto untuk > > dimasukkan ke dalam buku yang sedang saya edit, tiba-tiba almarhum > > batuk-batuk. Saya biarkan karena selama ini ayah saya memang memiliki > > kelainan pada paru-parunya. Saya pikir itu adalah batuk seperti > > biasanya. Tiba-tiba, ayah saya batuk sambil mengucap asma-asma Allah, > > beliau masuk ke kamar mandi. Beliau meminta saya memanggil ibu di > > dapur dan mengambilkan air hangat. Saat saya melihat ke arah pintu > > kamar mandi, almarhum sudah berdiri di depan pintu sambil meratap > > seperti anak kecil, "Batuk Papa ada darahnya". Jantung saya seakan > > tertahan sesuatu. Begitu menyakitkan. Lalu, ibu saya datang membawa > > air hangat. Dia menyuruh saya memanggil dokter. (kebetulan ada dokter > > umum yang tidak jauh dari rumah). Saya segera berlari menuju dokter > > tersebut. Lalu, adik perempuan saya menyusul ibu ke lantai dua. > > > > Kebetulan, dokter tersebut baru saja pulang, entah dari mana. Dia lalu > > meminta saya menunggu, dia akan mempersiapkan peralatan-peralatan. > > Saat sedang menunggu, tiba-tiba saya mendengar jeritan ibu saya. > > Menggema. Benar-benar jeritan yang masih membekas dalam ingatan saya. > > Tidak lama, adik laki-laki saya muncul, dia meminta saya untuk segera > > mengajak dokter tersebut ke rumah. Beberapa saat kemudian, saya dan > > dokter sampai di rumah... beberapa tetangga sudah berkumpul di depan > > rumah. Dan ayah saya sudah pergi. > > Saat itu, saya cukup bingung juga. Saya melihat ibu dan adik saya > > menangis histeris. Hanya saya dan adik laki-laki saya yang bisa > > menguasai emosi. Lalu, tetangga berdatangan. Mereka membantu > > menyiapkan segala sesuatu. Saya bingung. Benar-benar merasa jengah > > dengan keadaan itu. Saya merasa tidak yakin dengan apa yang sedang > > terjadi. Orang-orang mondar-mandir. Ada yang menangis. Ada yang sibuk > > membereskan ruang tamu rumah saya. Ada yang berusaha menenangkan ibu > > dan adik perempuan saya. Lalu, saya segera masuk kamar mandi. Saya > > mengguyur sekujur tubuh saya dengan air dingin. Di situlah, saya mulai > > sadar tentang apa yang sedang terjadi. Saya menangis. Saya luapkan > > semua saat itu juga. Saya tahu, sebagai anak pertama, sayalah yang > > harus bisa mengendalikan diri dan menenangkan keluarga saya. Setelah > > selesai mandi, saya telfon paman-paman, teman, dan keluarga saya. Saya > > tidak sempat mengabari semua. Syukurlah, adik perempuan saya mulai > > bisa mengendalikan emosi. Dia pun membantu saya menghubungi keluarga > > kami. Semua berlalu dengan cepat, rasanya seperti mimpi. Saya > > mondar-mandir dibantu oleh sahabat saya, yaitu Bayu dan paman-paman > > saya untuk mengurusi segala hal. Kami juga dibantu oleh para tetangga, > > pengurus DKM masjid, dan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal saya. > > Sungguh, tanpa mereka, entah harus apa. > > Pukul 09.00,13 September 200, kami berangkat menuju pemakaman setelah > > sebelumnya jenazah almarhum dishalatkan di masjid. Hingga tibalah kami > > di pemakaman. Saya dan adik-adik saya duduk di samping pusara almarhum > > ayah saya. Kami dikeliling keluarga, sanak saudara, teman-teman, > > tetangga, dan entah siapa lagi. Sementara, ibu saya terlihat shock dan > > beberapa kali seperti tidak sadarkan diri. Ibu saya didudukkan di > > bagian lain tempat itu. Kami pun berdoa untuk ayah kami. > > Tanggal 13 September, orang-orang berkumpul di depan rumah saya, > > sanak saudara, rekan kerja almarhum, teman sekolah dan kuliah saya, > > teman kantor saya, teman-teman adik saya, dan entah siapa lagi yang > > berkumpul di sana. Semua mendoakan almarhum. > > Sbenarnya, ada satu hal yang saya sesali. Saat almarhum sedang sakit, > > saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Tiap hari saya hanya bisa > > melihatnya sedang berbaring di tempat tidur. Kadang sudah tidur, > > kadang ayah terlihat sedang membaca koran sambil mendengar radio. > > Tetapi, semua sudah terlambat, sekarang saya hanya bisa menyampaikan > > doa tulus saya untuknya. > > Teman-teman, saya mohon doanya untuk almarhum. Juga doakan saya dan > > keluarga agar bisa tabah menghadapi ujian ini. Saya diberi amanah oleh > > paman, bibi, nenek, dan sanak saudara, mereka bilang, sekarang saya > > adalah kepala keluarga. > > Sekali lagi saya mohon doa teman-teman, terima kasih banyak. > > > > Salam semangat, > > Sigit Rais > > > > > > > > > > -- > Knowing me more at Dunia Iwok : > http://iwok.blogspot.com > http://buku-iwok.blogspot.com > > > ------------------------------ > Need a vacation? Get great deals to amazing places > <http://us.rd.yahoo.com/evt=48256/*http://travel.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTFhN2hucjlpBF9TAzk3NDA3NTg5BHBvcwM1BHNlYwNncm91cHMEc2xrA2VtYWlsLW5jbQ-->on > Yahoo! Travel. > > > -- salam Ken Terate www.kenterate.multiply.com
