Turut berduka cita Rais, Semoga almarhum diberikan tempat yang terbaik di
sisi Allah Swt.
Dan semoga kamu beserta sekeluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan
kesabaran. Amin.
Saya sangat mengerti arti sebuah kehilangan orang yang sangat kita cintai.
Tapi tetap semangat ya!

Salam,
Iwok Abq.

On 9/15/07, sigit rais <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Assalamualaikum....
> Teman-teman, maaf baru sekarang saya bisa menyampaikan kabar duka ini...
> inalillahi wa ini illaihi rojiun...
> pada tanggal 12 September 2007 (setelah sholat tarawih pertama), ayah
> saya, yaitu TB. Agus Suhara, menghembuskan nafasnya yang terakhir
> sekitar pukul 22.00 WIB.
> Sebelumnya, almarhum sempat sakit gejala tifus selama sekitar 3
> minggu. Beliau dirawat di rumah oleh ibu saya atas rekomendasi dokter,
> Dan alhamdulillah, kondisi beliau berangsur-angsur membaik. Bahkan,
> sejak tanggal 11, beliau sudah mulai beraktivitas dengan didampingi
> oleh karyawannya. Kesehatan beliau terlihat semakin membaik. Bahkan,
> menurut cerita yang disampaikan oleh ibu saya, ayah saya sempat
> berbincang-bincang dengan beberapa tetangga mengenai kesiapan dalam
> menghadapi bulan Ramadhan. Beliau pun mohon doa pada teman-temannya
> (tetangga) agar diberi kesembuhan untuk bisa ikut sahur dan
> melaksanakan ibadah puasa. Sama sekali tidak ada gelagat yang
> mengisyaratkan sesuatu.
> Tanggal 12 September, pukul 19.00, saya baru saja pulang dari tempat
> kerja. Kedatangan saya disambut oleh almarhum. Dengan antusias, beliau
> memberi tahu saya bahwa ada peristiwa gempa bumi di Bengkulu. Beliau
> mengkhawatirkan keadaan nenek saya di sana. Setelah itu, saya pergi ke
> masjid untuk melaksanakan shalat tarawih.
> Selesai shalat tarawih, saya, almarhum, dan adik-adik berkumpul di
> ruang keluarga. Ibu saya sedang masak di dapur. Saya lalu
> bermaaf-maafan dengan keluarga saya. Saya mencium tangan almarhum ayah
> saya (untuk terakhir kalinya). Setelah itu, kami pun sama-sama
> menyaksikan tayangan berita tentang gempa bumi di televisi.
> Sekitar pukul 21.30, saya segera masuk ke dalam kamar saya (di lantai
> dua) untuk mengerjakan tugas kantor. Lalu, ayah saya pun naik menuju
> kamarnya. Kamar kami berhadap-hadapan. Saat sedang memilih foto untuk
> dimasukkan ke dalam buku yang sedang saya edit, tiba-tiba almarhum
> batuk-batuk. Saya biarkan karena selama ini ayah saya memang memiliki
> kelainan pada paru-parunya. Saya pikir itu adalah batuk seperti
> biasanya. Tiba-tiba, ayah saya batuk sambil mengucap asma-asma Allah,
> beliau masuk ke kamar mandi. Beliau meminta saya memanggil ibu di
> dapur dan mengambilkan air hangat. Saat saya melihat ke arah pintu
> kamar mandi, almarhum sudah berdiri di depan pintu sambil meratap
> seperti anak kecil, "Batuk Papa ada darahnya". Jantung saya seakan
> tertahan sesuatu. Begitu menyakitkan. Lalu, ibu saya datang membawa
> air hangat. Dia menyuruh saya memanggil dokter. (kebetulan ada dokter
> umum yang tidak jauh dari rumah). Saya segera berlari menuju dokter
> tersebut. Lalu, adik perempuan saya menyusul ibu ke lantai dua.
>
> Kebetulan, dokter tersebut baru saja pulang, entah dari mana. Dia lalu
> meminta saya menunggu, dia akan mempersiapkan peralatan-peralatan.
> Saat sedang menunggu, tiba-tiba saya mendengar jeritan ibu saya.
> Menggema. Benar-benar jeritan yang masih membekas dalam ingatan saya.
> Tidak lama, adik laki-laki saya muncul, dia meminta saya untuk segera
> mengajak dokter tersebut ke rumah. Beberapa saat kemudian, saya dan
> dokter sampai di rumah... beberapa tetangga sudah berkumpul di depan
> rumah. Dan ayah saya sudah pergi.
> Saat itu, saya cukup bingung juga. Saya melihat ibu dan adik saya
> menangis histeris. Hanya saya dan adik laki-laki saya yang bisa
> menguasai emosi. Lalu, tetangga berdatangan. Mereka membantu
> menyiapkan segala sesuatu. Saya bingung. Benar-benar merasa jengah
> dengan keadaan itu. Saya merasa tidak yakin dengan apa yang sedang
> terjadi. Orang-orang mondar-mandir. Ada yang menangis. Ada yang sibuk
> membereskan ruang tamu rumah saya. Ada yang berusaha menenangkan ibu
> dan adik perempuan saya. Lalu, saya segera masuk kamar mandi. Saya
> mengguyur sekujur tubuh saya dengan air dingin. Di situlah, saya mulai
> sadar tentang apa yang sedang terjadi. Saya menangis. Saya luapkan
> semua saat itu juga. Saya tahu, sebagai anak pertama, sayalah yang
> harus bisa mengendalikan diri dan menenangkan keluarga saya. Setelah
> selesai mandi, saya telfon paman-paman, teman, dan keluarga saya. Saya
> tidak sempat mengabari semua. Syukurlah, adik perempuan saya mulai
> bisa mengendalikan emosi. Dia pun membantu saya menghubungi keluarga
> kami. Semua berlalu dengan cepat, rasanya seperti mimpi. Saya
> mondar-mandir dibantu oleh sahabat saya, yaitu Bayu dan paman-paman
> saya untuk mengurusi segala hal. Kami juga dibantu oleh para tetangga,
> pengurus DKM masjid, dan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal saya.
> Sungguh, tanpa mereka, entah harus apa.
> Pukul 09.00,13 September 200, kami berangkat menuju pemakaman setelah
> sebelumnya jenazah almarhum dishalatkan di masjid. Hingga tibalah kami
> di pemakaman. Saya dan adik-adik saya duduk di samping pusara almarhum
> ayah saya. Kami dikeliling keluarga, sanak saudara, teman-teman,
> tetangga, dan entah siapa lagi. Sementara, ibu saya terlihat shock dan
> beberapa kali seperti tidak sadarkan diri. Ibu saya didudukkan di
> bagian lain tempat itu. Kami pun berdoa untuk ayah kami.
> Tanggal 13 September, orang-orang berkumpul di depan rumah saya,
> sanak saudara, rekan kerja almarhum, teman sekolah dan kuliah saya,
> teman kantor saya, teman-teman adik saya, dan entah siapa lagi yang
> berkumpul di sana. Semua mendoakan almarhum.
> Sbenarnya, ada satu hal yang saya sesali. Saat almarhum sedang sakit,
> saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya. Tiap hari saya hanya bisa
> melihatnya sedang berbaring di tempat tidur. Kadang sudah tidur,
> kadang ayah terlihat sedang membaca koran sambil mendengar radio.
> Tetapi, semua sudah terlambat, sekarang saya hanya bisa menyampaikan
> doa tulus saya untuknya.
> Teman-teman, saya mohon doanya untuk almarhum. Juga doakan saya dan
> keluarga agar bisa tabah menghadapi ujian ini. Saya diberi amanah oleh
> paman, bibi, nenek, dan sanak saudara, mereka bilang, sekarang saya
> adalah kepala keluarga.
> Sekali lagi saya mohon doa teman-teman, terima kasih banyak.
>
> Salam semangat,
> Sigit Rais
>
>  
>



-- 
Knowing me more at Dunia Iwok :
http://iwok.blogspot.com
http://buku-iwok.blogspot.com

Kirim email ke