Dear milister,
Menyimak posting2 di bawah ini saya jadi bertanya-tanya, mengapa bangsa kita 
jadi sedemikian kerasnya. 
Tidak setuju dengan suatu pendapat, boleh-boleh saja, tapi perlukah 
ketidaksetujuan itu ditambahi dengan kata-kata makian seperti 'goblok' 
segala, apalagi tanpa dilandasi pemahaman yg cukup. Saya rasa jika hal 
senada ditujukan pada diri anda, anda juga akan merasa tersinggung bukan? 

Btw, setelah kita meminum air laut, memang benar kita akan menjadi bertambah 
haus, karena kandungan garam yang tinggi dalam air laut akan terbawa melalui 
aliran darah. Akibatnya, dalam gambaran yang lebih sederhana, tubuh akan 
berusaha untuk mengencerkan kandungan garam ini dengan menarik cairan yang 
tersimpan dalam setiap sel tubuh, prosesnya kita sebut dehidrasi. Ini yang 
menyebabkan kita merasa lebih haus/ dahaga. Sel yang telah terkuras 
kandungan airnya, lama-kelamaan akan rusak, yang terpengaruh lebih dulu 
adalah otak karena kandungan airnya lebih tinggi. Sedangkan aliran darah itu 
sendiri, pada saat melalui ginjal, akan mengalami proses penyaringan dimana 
sebagian besar kandungan garamnya akan tertahan di ginjal sedangkan airnya 
akan dibuang sebagai urine. Jika berlangsung dalam waktu lama, tentunya akan 
menyebabkan penumpukan garam di ginjal, yg akhirnya akan menyebabkan 
kerusakan ginjal.
Jadi penyebab kematian sebenarnya bukan karena air lautnya mengalami 
perubahan kimiawi menjadi racun (seperti arsenik, potasium, dsb), tetapi 
karena kegagalan fungsi tubuh 
Demikian penjelasan panjang lebar dari saya, dan mengutip kata-kata Tukul, 
"Puas?!" :)

Teman-teman, saat membaca posting ini sebenarnya saya merasa prihatin. Ini 
merupakan contoh dimana sering kali kita tidak berfokus pada intinya tapi 
justru pada hal-hal kecil yang tidak berarti, termasuk penjelasannya saya 
yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan pokok pembicaraan Pak 
Syafi'i Ma'arif :)




-----Original Message-----
From: IrwanK <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Fri, 4 May 2007 11:30:51 +0700
Subject: CiKEAS> Re: Air Laut


Ente ini yang kurang tahu bos.. :-(
Apa karena Pak Syafii Ma'arif ini (kebetulan) orang Islam ente seperti orang
bodoh
begitu? Mengomentari istilah yang seharusnya tidak diterjemahkan secara
harafiah
begitu.. Lihat konteksnya lebih luas donk.. jangan (seperti orang) picik
begitu..
Please deh ah..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 5/4/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Refleksi: Pak professor kurang tahu bahwa hanya orang goblok yang minum
> air laut bukan bertambah dahaga tetapi menjadi racun. [They become, in a
> word, dehydrated. In extreme situations, dehydration will lead to 
seizures,
> unconsciousness, and brain damage. Meanwhile, the overworked blood cells
> carry the salt to the kidneys, which eventually become overwhelmed and 
shut
> down. Without functioning kidneys you die. That is why we don't drink
> seawater].
>
> http://www.gatra.com/artikel.php?id=104316
>
> PERSPEKTIF SYAFI'I MA'ARIF
>
> Air Laut
>
> Tulisan ini bukan untuk membicarakan air laut sebagai kajian ilmiah, bukan
> pula untuk mencari rahasia ikan yang tetap tawar di lingkungan yang asin. 
Di
> samping kajian macam ini bukan dunia saya, juga tidak serta-merta mudah
> dikaitkan dengan kondisi mental sebagian anak bangsa yang tidak pernah 
puas
> dengan praktek pencurian harta bangsa, entah sudah berapa ratus trilyun 
yang
> dilalap tanpa rasa malu. Maka, berlakulah bagi orang ini peribahasa kuno,
> "ibarat meneguk air laut, makin diminum makin dahaga".
>
> Dalam psikologi modern, inilah yang disebut para ahli sebagai hedonisme,
> "to have more and to eat more" (semakin banyak punya, dan semakin banyak
> makan). Perkara perut menjadi buncit sampai meletus tidak pernah 
dipikirkan.
> Pokoknya, mumpung masih dalam posisi untuk menggarong harta bangsa, libas
> terus, sampai masuk penjara atau mati sambil duduk, lalu dikuburkan dengan
> segala kebesaran upacara.
>
> Pernah dulu seorang tokoh Pertamina malah dimakamkan di Kalibata sebagai
> pahlawan, ternyata kemudian diketahui cukup banyak makan harta BUMN itu,
> disimpan di luar negeri dan kemudian jadi rebutan di antara bini-bininya.
> Ada juga yang melalap uang negara dalam jumlah trilyun, lalu ditangkap,
> tetapi dengan mudah melarikan diri berkat sogokan yang diberikan kepada
> petugas penjara, tentu di belakangnya ada pejabat penting yang bermain.
>
> Maka, berlakulah apa yang pernah dikatakan seorang teman: "Yang diburu
> (koruptor) dan yang memburu (aparat penegak hukum) sebenarnya bersahabat."
> Dalam situasi semacam ini, betapa sulitnya memperbaiki moral bangsa ini,
> karena aparat sekaligus merangkap jadi penjahat. Tentu banyak aparat yang
> baik dan jujur, tetapi tidak berdaya melawan "si peminum air laut ini".
>
> Sebagian teman sudah putus harap, apakah ada gunanya berteriak, toh tidak
> ada telinga yang mau mendengar. Bukankah dulu telah berteriak seorang 
Hatta,
> seorang Wilopo, seorang Kasimo, seorang Hamka, seorang Mochtar Lubis,
> seorang Soedjatmoko, dengan wibawa dan integritas pribadinya yang prima,
> telah berujung dengan sebuah kesia-siaan untuk memulihkan martabat moral
> bangsa ini? Maka, tidaklah mengherankan rekaman Rosihan Anwar tentang
> pernyataan almarhum S. Tasrif: "Indonesia is beyond help!" (Indonesia tak
> dapat ditolong lagi), atau mengutip seorang teman alumnus ITB: "Ibarat
> kapal, Indonesia telah oleng!"
>
> Dengan memberikan penghargaan tinggi kepada semua keprihatinan itu, saya
> setuju dengan lontaran Presiden SBY di depan rombongan Kopebang (Koalisi
> Penyelamatan Bangsa) dalam sebuah dialog selama dua jam di Istana Merdeka
> pada 29 Desember 2006: "Kita harus bangkit." Tentu yang dimaksud agar kita
> bangkit dari segala keterpurukan, siuman dari segala dosa dan dusta selama
> ini yang telah menelantarkan sekitar 42 juta rakyat miskin di Indonesia
> tahun 2007 ini.
>
> Ungkapan "kita harus bangkit" jelas jauh lebih dinamis dari ungkapan "kita
> akan bangkit", entah kapan, entah berapa puluh tahun lagi, sampai tubuh
> bangsa ini remuk disakiti anaknya sendiri, tanpa rasa salah dan dosa.
> Anak-anak amoral ini tidak semakin jera, karena keteladanan pemimpin sudah
> menjadi barang langka dalam lingkaran kultur yang serba kumuh.
>
> Sebuah kebangkitan yang autentik hanyalah mungkin menjadi kenyataan jika
> dipimpin oleh negarawan yang punya visi jauh ke depan, melampaui umurnya 
dan
> umur anak cucunya. Yang terpikir olehnya bukan diri, bukan keturunannya,
> melainkan nasib 225 juta penumpang yang kini masih termangu-mangu di atas
> Kapal Republik yang lagi oleng ini, menanti tindakan perbaikan mendasar
> secara autentik pula. Biarlah peneguk air laut langsung terjun ke lautan
> lepas melalui proses hukum, agar penumpang lain yang tak berdosa selamat
> sampai ke dermaga tujuan Proklamasi Kemerdekaan berupa: "Keadilan sosial
> bagi seluruh rakyat Indonesia", sebuah sila yang teramat agung dan mulia,
> tetapi masih saja dikhianati sampai hari ini.
>
> Saya tidak yakin kebanyakan pemimpin formal sekarang ini mengacu pada sila
> itu dalam menyusun pola pembangunan di daerahnya masing-masing. Yang 
banyak
> berlaku adalah kenyataan ini: pihak eksekutif bergandengan tangan dengan
> kekuatan legislatif dalam membuat APBD berdasarkan kalkulasi pembagian
> rezeki masing-masing. Perkara sarana pendidikan dan kesehatan yang tak
> terurus tidak lagi singgah di otak para peneguk air laut ini.
>
> Tetapi inilah Indonesia yang wajib kita bela dan kita perbaiki sekalipun
> akan bernasib seperti Bung Hatta dan nama-nama besar di atas. Apa boleh
> buat, jalan terjal yang berliku ini harus kita lalui dengan kepala tegak,
> jangan pikirkan entah akan terempas dan tersungkur dalam perjalanan. 
Bangsa
> ini tidak boleh tenggelam ke dasar lautan akibat kelalaian kita.
>
> Ahmad Syafi'i Ma'arif
> Cendekiawan muslim, guru besar sejarah
> [Perspektif, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 31 April 2007
>


[Non-text portions of this message have been removed]



___________________________________________________________
KORUPSI merampas hak KITA untuk hidup sejahtera> LIHAT > LAWAN > LAPORKAN 
:-)

 
Yahoo! Groups Links





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke