> "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Jadi jawaban terhadap pertanyaan "mengapa > atau kenapa", tentunya tercakup pada konstruksi politik dan > implementasinya ke masyarakat. Politk pendidikan mengabdi > kepentingan rakyat mayoritas berpengetahuan tentunya tidak. Tanpa > pengetahuan berarti tanpa kekuatan, kalau tanpa kekuatan memudahkan > dimanipulasi dan dikendalikan sebagai obyek kepentingan. Siapa yang > diberkati untuk beruntung dengan politik pendidikan demikian? Apa > komentar Anda? >
Sekolah di Indonesia jadi mahal KARENA PEMERINTAH MEMBAYAR BANYAK SEKALI GURU2 UNTUK MENGAJAR MATA PELAJARAN YANG TIDAK SEHARUSNYA DIBAYAR. Contohnya, Guru Matematika itu mahal gajinya, tapi kalo guru matematika ini mangkir karena memberi les matematika kepada muridnya, maka murid private les ini harus membayar lebih mahal lagi. Beda dengan guru agama Islam yang mengajar disekolah digaji sama dengan guru matematika, tapi kalo guru ini mangkir memberi les agama Islam secara private biasanya tidak dibayar karena dunia agama adalah dunia sosial yang tidak mengejar bayaran. Demikianlah dana pemerintah habis hanya untuk membayar guru2 agama Islam yang tidak seharusnya dibayar. Dan setiap guru matematika mangkir disetiap sekolah, maka yang menggantikannya adalah guru agama. Akibatnya, guru agama Islam disetiap sekolah diseluruh Indonesia, paling sedikit ada 5 sampai 10 orang guru, sedangkan guru matematika hanya satu untuk setiap sekolah. Artinya, kalo dalam setiap sekolah jumlah guru2 ada sekitar 15-18 orang, maka pemerintah mengeluarkan dana 50-60% lebih banyak hanya untuk menggaji guru2 agama Islam. Kalo saja semua pelajaran agama dilarang disemua sekolah, maka biaya sekolah setiap anak bisa menjadi paling sedikit 50% lebih murah dari yang biasanya dibayar. Perhitungan ini tidak pernah dibuka kepada masyarakat karena bisa heboh dan ulama2 bisa protes. Maklumlah, jumlah sekolah agama paling banyak dinegara ini, sehingga lulusannya juga paling banyak sementara lapangan kerjanya paling sedikit. Membangun sekolah agama sangatlah mudah, modalnya hanya AlQuran dan hadist, selebihnya bisa diatur tergantung kondisi, kalo tak ada bangku duduk dibatupun jadi, tetapi kondisi sejelek apapun yang dihadapi oleh guru agama, gajinya tetap sama, dan murid2nya tetap membayar dengan jumlah yang sama. Sangat2 beda dengan kebutuhan guru2 lain yang selama ini selalu tidak bisa dipenuhi. Jadi jangan heran, semua lulusan Indonesia tidak ada yang memiliki skill yang diharapkan karena sekolah bukan mendidik kemampuan melainkan cuma keimanan yang tidak pernah dibutuhkan dalam melamar pekerjaan. Bahkan Menteri Agama yang bergelar Professor juga tetap korupsi dengan keimanan yang tetap tinggi dalam berbohong bahwa dianya tidak korupsi. Ny. Muslim binti Muskitawati. >
