RIAU POS 07 Agustus 2007 Pukul 09:12 Orang Melarat dan Konglomerat
Di negeri ini orang melarat adalah komunitas yang terbesar dari sisi jumlah tetapi paling lemah dan termarjinalkan dari peran nya sebagai warga negara. Saat ini penduduk melarat di negeri ini sudah mencapai 39,30 juta orang dan yang bertempat tinggal Provinsi Riau menurut data dari BPS lebih dari satu juta orang. Orang melarat merupakan kelompok masyarakat yang bersahaja , mereka selalu menjadi obyek penderita dan dijadikan sebagai kedaraan kepentingan kelompok -kelompok kecil yang agresif dan serakah. Sebagai rakyat kecil, mereka juga memiliki keinginan dan cita-cita tetapi tidak berlebihan, bahkan cenderung sangat sederhana, bagi mereka tersedianya kebutuhan mendasar seperti air bersih, minyak tanah, listrik, kesehatan, pendidikan dan beras murah serta tempat tinggal sudah cukup. Mereka adalah komunitas yang sebenarnya sangat patuh dan taat kepada pemerintah, tidak pernah merampok uang negara dalam jumlah yang kecil sekalipun kecuali karena desakan hidup yang sudah tidak bisa dielakan lagi, walaupun pada akhirnya mereka diperlakukan bak kacang goreng . Berbeda dengan para konglomerat, rasa nasionalimenya masih perlu dipertanyakan. Dengan perlakuan negara yang begitu istimewa selama ini dan fasilitas hidup yang sudah berlebihan tanpa rasa bersalah dan malu sedikitpun mengemplang uang negara hingga triliunan rupiah, kemudian dengan mudahnya mereka dan keluarganya lari keluar negeri, merubah status kewarganegaraannya dengan tetap menyandang gelar terhormat dan istimewa, padahal apa yang dikerjakan dan disisakan oleh mereka bagi rakyat hanya sampah dan masalah. Rakyat jelata, masyarakat kita yang paling sedikit menikmati fasilitas negara harusnya adalah orang yang senantiasa mendapatkan penghargaan dan perhatian dari pemerintah, karena ketulusan dan kesabaranya selama ini ditengah ketidakadilan dan manipulasi. Lihat bila rakyat kecil melakukan kesalahan, ditelanjangi hingga nampak auratnya kemana-mana tidak disisakan lagi kehormatannya , dalam kacamata hukum kita mungkin mereka adalah orang yang tidak layak mendapatkan penghargaan lebih baik dibandingkan binatang melata. Berbeda sekali ketika seorang konglomerat melakukan tindakan melawan hukum, seakan-akan hukum meleleh dihadapan mereka. Berbagai alasan diluncurkan untuk mengelabui dan menutupi bobroknya prilaku mereka. Kalaupun mereka terpaksa dibui sudah tentu dengan perlakukan yang tidak kalah anehnya ketika mereka hidup bebas. Ketika para pemimpin kita berbicara - rakyat jelata menjadi buah bibirnya walaupun pada akhirnya bagian terbesar dari kebijakannya lebih menguntungkan para konglomerat karena telah terambil budi ketika proses pemilihannya. Ketika rakyat jelata di porong Sidoarjo berteriak menyuarakan ketidakadilan karena jerih payahnya dihancurkan oleh karena kelalaian kaum borjuis, pemerintah kita malah tunduk dengan bujuk rayu pemilik Lapindo, bahkan anehnya menjadi tanggungan negara. Ketika para bangkir berbicara, usaha mikro, kecil dan menengah mulutnya pun berbuih karena saking semangatnya berbicara, tetapi akhirnya bagian terbesar dari pendistribusian uang rakyat hanya diberikan kepada yang sedikit, yaitu konglomerat. Mereka selalu bicara ekonomi kerakyatan, tetapi bagian terbesar apa yang mereka lakukan adalah untuk memuaskan dan menyenangkan para kapitalis dan para spekulan (penjudi). Pasar tradisonal, pedagang kaki lima dilipat dan tidak disisakan, mereka tidak perduli rakyat jelata ini mau mengais rezeki dengan cara apa lagi. Ketika rakyat kecil bermimpi, negeri ini tidak diperuntukan bagi para penggemar mimpi indah. Skeptisasi rakyat melarat terhadap apa saja yang dilakukan para pengambil kebijakan adalah wajar, karena memang kenyataanya mereka tidak pernah mendapatkan apapun dari pelayanan yang seharusnya diberikan secara prima, penderitaan rakyat jelata sepertinya tidak pernah kunjung usai. Jangankan bisa menikmati hasil pembangunan, untuk berdiri tegak lebih terhormat saja nampak seperti fatamorgana. Semua kita bicara kemiskinan dan kebodohan justeru karena kita memang benar-benar miskin dan bodoh, ingat tentang teori ketertarikan (the secret) fikiran miskin dan bodoh adalah do'a dan gambaran yang nyata tentang apa yang kita inginkan dalam hidup ini, akan selalu begitu. Orang melarat dan konglomerat adalah manusia yang diciptakan Allah dengan derajat yang sama, tidak ada yang istimewa malainkan amal ibadah dan tindak-tanduknya. Yang melarat dan konglemerat sama-sama warga negara yang memiliki derajat yang sama didepan hukum bangsa ini. Semoga janji para penegak hukum yang akan mempertaruhkan nyawanya dalam menyelesaikan kasus tindak kejahatan berat para konglomerat pengemplang BLBI yang merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah bisa ditepati. Semoga saja hati nurani masih menyinari akal budi dan fikiran sehat para pengambil kebijakan negeri yang kita cintai ini. Wallahu 'alam Bishshowab.*** Mukti Sunjaya SPd, anggota DPRD Riau dari Fraksi PKS. CARI BERITA Enter your search terms Web riaupos.com Submit search form [Non-text portions of this message have been removed]
