http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=179351

     
         OPTIMISME BANGSA
                  Keuangan Terpuruk, Kredibilitas
                  Pemerintahan SBY Terkikis 


                  Rabu, 8 Agustus 2007
                  JAKARTA (Suara Karya): Gejolak di sektor finansial global 
sekarang ini menjadi pertaruhan pemerintah. Jika sektor keuangan di dalam 
negeri terpuruk akibat imbasan faktor global, kredibilitas pemerintahan SBY pun 
jadi terkikis. Itu, pada gilirannya, berdampak kian mempersulit pekerjaan 
pemerintah di bidang ekonomi karena tahun depan atmosfer politik justru kian 
mengusik seiring perhelatan pemilu yang kian mendekat. 

                  Demikian rangkuman pendapat beberapa kalangan mengenai dampak 
gejolak sektor finansial di tingkat global sekarang ini terhadap kehidupan 
ekonomi nasional. Dihubungi terpisah di Jakarta, kemarin, mereka adalah Ketua 
Komisi XI DPR Awal Kusumah, anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis, analis 
perbankan Djoko Retnadi, serta Direktur Perencanaan Strategis dan Humas Bank 
Indonesia Budi Mulya. Pendapat mereka menjadi penting terkait dengan optimisme 
bangsa terhadap masa depan perekonomian nasional. 

                  Situasi pasar finansial global sendiri kemarin masih 
memburuk. Tak heran jika indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek 
Jakarta (BEJ) pun kemarin kembali terkoreksi 15.036 poin atau (0,69 persen) 
dibanding Senin lalu menjadi 2.174,071. Padahal Senin lalu pun, IHSG ditutup 
dalam posisi terjungkal 3,6 persen dibanding akhir perdagangan Jumat pekan 
lalu. 

                  Menurut Harry Azhar Azis, gejolak sektor keuangan global 
sekarang ini membuat target-target pemerintah di bidang ekonomi untuk tahun ini 
menjadi sulit dicapai. Ini karena gejolak itu berimbas negatif terhadap pasar 
saham maupun pasar uang di dalam negeri. Sementara gejolak sektor finansial di 
tingkat global sendiri kemungkinan terus berlangsung hingga menjelang akhir 
tahun. 

                  Karena itu, tahun depan pekerjaan pemerintah di bidang 
ekonomi menjadi semakin sulit. "Terlebih aspek lain, yaitu perkembangan politik 
yang mulai memanas menjelang Pemilu 2009, mengusik laju perekonomian," ujar 
Harry. 

                  Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia saat ini belum 
begitu kuat sehingga mudah terganggu oleh guncangan faktor eksternal seperti 
sekarang ini. Harry lantas menunjuk pelemahan yang terjadi di pasar saham lokal 
beberapa hari terakhir ini sebagai bukti tentang fundamental ekonomi yang belum 
solid. 

                  "Faktor global, seperti gejolak sektor finansial akibat 
masalah subprime mortgage di AS sekarang ini, akan terus menghantui Indonesia," 
kata Harry. 

                  Dalam konteks itu, kepercayaan pemain pasar terhadap ekonomi 
nasional berisiko menyusut. Artinya, kredibilitas pemerintahan SBY pun sedikit 
demi sedikit terkikis. Karena itu, Harry pun mengingatkan bahwa dana asing yang 
kini tertanam dalam berbagai instrumen investasi portofolio kemungkinan besar 
bisa mengalir deras ke luar (capital outflow). 

                  Mengingat itu, Harry menilai positif rencana pemerintah 
menerbitkan Surat Perbendaharan Negara (SPN). Menurut dia, instrumen tersebut 
bisa diharapkan menahan capital outflow. 

                  Dalam perpektif Djoko Retnadi, pembenahan di sektor riil 
harus menjadi prioritas utama untuk menstabilkan kondisi ekonomi dalam negeri 
dari tekanan gejolak global seperti saat ini. Dia mengingatkan, banyak masalah 
di sektor riil yang memerlukan pembenahan. Antara lain, masalah perizinan 
terkait penerbitan berbagai peraturan daerah yang cenderung memberatkan 
investor. 

                  "Kalau semua itu itu tidak dibenahi, pengaruh penerbitan SPN 
sebagai instrumen alternatif untuk menahan capital outflow tidak akan terlalu 
berarti," kata Djoko. 

                  Sementara Budi Mulya mengingatkan, kondisi ekonomi AS yang 
memburuk membuka kemungkinan capital outflow dari Indonesia terus berlanjut. 
Bagi investor, katanya, itu merupakan upaya rebalancing terhadap risiko terkait 
kondisi dampak ekonomi AS yang memburuk. 

                  Di lain pihak, Awal Kusumah tegas menyebutkan, pemerintah 
harus mampu mengubah dana panas (hot money) yang kini tertanam di berbagai 
instrumen investasi portofolio beralih ditanamkan di proyek investasi berjangka 
panjang. "Ini tantangan yang harus bisa kita jawab. Caranya dengan menciptakan 
iklim investasi yang kondusif dan dapat memberikan prospek usaha yang baik," 
ujarnya. 

                  Beberapa aspek yang harus diperhatikan pemerintah, menurut 
Awal, adalah memberikan kepastian hukum serta membenahi ketenagakerjaan. Selama 
ini, katanya, problem ketenagakerjaan menjadi kendala serius yang membuat 
investor enggan menanamkan modal secara langsung. Selain itu, masalah insentif 
pajak yang kurang kompetitif juga menyebabkan investor mengalihkan dana 
investasi jangka panjang ke negara-negara tetangga Indonesia, seperti Malaysia 
dan Thailand. 

                  Awal mengaku optimistis investor asing masih nyaman 
menempatkan dana di berbagai instrumen investasi portofolio di dalam negeri, 
mengingat suku bunga yang masih relatif tinggi dibanding di negara-negara lain. 

                  Di lain pihak, Ketua Panitia Anggaran DPR Emir Moeis 
mengatakan, adalah hak investor untuk menempatkan dana portofolio saham. Mereka 
tidak bisa dipaksa-paksa menempatkan dana di Surat Utang Negara (SUN) yang 
memiliki jangka waktu lebih lama atau menanamkan modal di sektor riil. 

                  Emir menyesalkan sikap BI yang terlalu cepat menurunkan 
tingkat bunga acuan (BI Rate) dengan harapan membuat pasar finansial di dalam 
negeri lebih menarik. Padahal, menurut Emir, apabila terjadi guncangan sedikit 
saja, pasar finansial niscaya segera panik. 

                  Menurut Emir, investor dana jangka pendek lebih senang 
mempermainkan tingkat bunga. Karena itu, mereka memilih bermain di instrumen 
investasi portofolio. 

                  Emir berpendapat, yang harus dilakukan pemerintah untuk 
menarik investor menanamkan dana bukan hanya di produk portofolio, tapi juga di 
sektor riil, adalah kepastian usaha yang harus dibuat lebih terjamin. (Tri 
H/Agus H/Sabpri P)  
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke