Refleksi: Masyaalloh! Presiden NKRI berani bersuara agar penganiaya wasit 
karate dihukum, tetapi membungkam seribu bahasa terhadap TKW-TKW  alias 
pahlawan devisa yang diperlakukan tidak adil,  diperkosa di Arab Saudia hingga 
cacat seumur atau mati peot. Ini namanya pemimpin negara gagal!

http://www.gatra.com/artikel.php?id=107228


Penjelasan Menpora
Presiden Minta Penganiaya Wasit Karate Indonesia Dihukum


Jakarta, 27 Agustus 2007 15:00
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan prihatin atas peristiwa pemukulan 
wasit karate Indonesia, Donald Luther Colopita, oleh polisi Malaysia. Presiden 
meminta agar pelaku penganiayaan itu dihukum sesuai aturan yang berlaku di 
negara tersebut.

"Presiden menyatakan prihatin karena selama ini kerjasama dengan Malaysia sudah 
baik. Beliau juga meminta agar (kasus) ini diselesaikan secara hukum sesuai 
ketentuan yang berlaku bagi pelaku penganiayaan di sana," kata Menteri Negara 
Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault di Kantor Presiden di Jakarta, Senin.

Presiden, kata Adhyaksa, juga berpesan kepada para atlet untuk menahan diri dan 
bersabar atas kasus tersebut, namun meminta agar upaya hukum tetap dilakukan.

Adhyaksa menjelaskan, dirinya sudah mendapat konfirmasi dari Ketua Umum 
Pengurus Besar Forki, Luhut Pandjaitan mengenai kronologis kasus yang menimpa 
Donald Luther Colopita.

Insiden itu bermula ketika Donald yang ditemani rekannya, Fahri, usai mengikuti 
technical meeting untuk Kejuaraan Karate Asia di Malaysia, pada Kamis (23/8) 
malam hingga Jumat (24/8) dinihari.

Dalam perjalanan pulang dari tempat rapat itu, karena dinihari, tidak ada 
taksi, sehingga Donald memilih berjalan kaki.

Dalam perjalanan, ia didatangi empat orang yang kemudian mengiranya sebagai 
pendatang haram (ilegal).

"Keempat orang itu tidak menunjukkan identitas mereka. Sebagai wasit karate 
Internasional dari Indonesia, dia melawan. Dia kan pemegang `Dan 3 atau 4`. 
Setelah terdesak, keempat orang itu mengeluarkan identitas bahwa mereka adalah 
polisi," kata Adhyaksa.

Begitu tahu mereka adalah polisi Malaysia, lanjut Adhyaksa, Donald berhenti 
melawan tetapi dia malah diborgol dan dipukuli. "Sekarang dia diopname di Rumah 
Sakit karena babak belur yang luar biasa. Jadi sebenarnya binatangpun tidak 
boleh diperlakukan seperti itu," katanya.

Bahkan menurut Luhut, kata Adhyaksa, mata Donald sudah agak sulit diobati dan 
kemaluannya bengkak akibat penganiayaan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Menpora mendukung sikap PB Forki yang langsung 
mengundurkan diri dari Kejuaraan Karate Asia tersebut sebagai sikap protes atas 
peristiwa penganiayaan terhadap wasit asal Indonesia itu. "Sikap tersebut sudah 
tepat," katanya.

Surat Protes

Menpora Adhyaksa Dault juga menegaskan bahwa dirinya Senin (27/8) pagi telah 
menyampaikan surat protes kepada Menteri Belia dan Sukan Malaysia, Datok Seri 
Azalina Othman, yang isinya berupa protes keras terhadap perlakuan tersebut dan 
meminta kepada kantor Kementerian Belia dan Sukan Malaysia untuk melakukan 
tekanan yang sama kepada aparat kepolisiannya supaya para pelaku penganiayaan 
dihukum dan dipecat.

Selain itu, katanya, Menseskab Sudi Silalahi juga sudah berkoordinasi dengan 
Menlu Hassan Wirajuda dan Menko Polhukam Widodo AS untuk mendesak pemerintah 
Malaysia supaya melakukan pengusutan dan penyelidikan atas kasus itu, serta 
agar ada sanksi.

"Sebentar lagi saya juga akan menemui Dubes Malaysia di Jakarta dan saya kalau 
diizinkan Presiden, akan menemui Kepala Kepolisian Malaysia dan akan memintanya 
untuk mengambil tindakan tegas," kata Adhyaksa. 

Kirim email ke