REPUBLIKA
Minggu, 26 Agustus 2007

Kapitalisasi Politik 

Oleh : Haedar Nashir 


Apa yang paling laris dijual di negeri ini? Boleh jadi politik. Politik 
sejatinya merupakan pekerjaan yang mulia. Melalui politiklah urusan-urusan 
publik dapat dikelola secara efektif, sehingga negara dengan seluruh alatnya 
dapat difungsikan untuk sebesar-sebesar kemakmuran rakyat. Apa yang musykil 
dilakukan oleh tangan-tangan sosial masyarakat, dapat dilakukan dengan mudah 
oleh tangan partai politik maupun para politisi. Itu idealnya.

Kenyataannya? Tak semudah retorika. Kini, politik berubah drastis fungsinya. 
Politik jadi ajang komoditi, sekaligus alat-tukar yang paling menjanjikan. 
Dunia politik sungguh telah berubah menjadi pasar bebas, sekaligus pasar 
taruhan yang paling menggiurkan. Tengoklah bagaimana para calon dalam pilkada 
di mana saja. Selalu ada obral uang, sekaligus bual janji, untuk menuju tangga 
jabatan puncak di pemerintahan daerah. Lalu, lahirlah para pialang sekaligus 
broker politik yang kian mengawetkan dan menggelembungkan budaya politik uang.

Politik uang bukan malah berhenti, tapi kian menjadi-jadi. Kita sungguh miris 
mendengar kabar, bagaimana uang miliaran begitu mudah jadi alat jaul-beli 
kepentingan politik dalam berbagai pilkada di negeri ini. Baru mau mendaftar 
jadi calon saja konon sudah harus mengeluarkan fulus sangat besar, apalagi 
sudah jadi calon dan terpilih. Tak dapat dibayangkan, bagaimana para pejabat 
negara/politik itu manakala sesudah terpilih kemudian harus "melunasi 
utang-utang politik". Lalu, kapan berkonsentrasi untuk mengemban amanat publik 
secara serius tanpa diganggu oleh tagihan-tagihan "kas-bon politik"? Jabatan 
publik jadi sulit kembali ke hulunya, yakni rakyat pemberi mandat. Bisa-bisa 
malah memanjakan cukong.

Kita sungguh sulit memahami denyut nadi politik saat ini. Bukan hanya pragmatis 
sebagaimana watak dasar politik: who gets what, when and how. Politik, menurut 
Machiavelli, laksana perjuangan ala Rubah, menempuh apa saja untuk menuju 
singgasana. Guna menjadi sangat perkasa, virtouse. Tak peduli apakah politik 
itu dimainkan partai atau politisi "sekuler" atau yang membawa klaim agama, 
jalan dan hasil akhirnya tetap sama: menempuh segala macam cara. Segala hal 
menjadi serba boleh, yang beda tampilan dan klaim politiknya.

Kini politik selain pragmatis, menjadi sangat materialistik. Tak ada uang, tak 
ada jabatan publik. Setiap jengkal langkah, harus ada duit. Dunia politik jadi 
rimba ber-uang. Uang begitu tampak mudah, entah dari mana? Padahal, konon 
negeri ini sedang jatuh krisis dan miskin, hingga orang miskin dan penganggur 
kian membengkak, dan tentu saja utang luar negeri masih tetap jadi beban 
terberat hingga berapa generasi.

Boleh jadi ini memang zaman kapital? Selamat datang di dunia kapitalisme 
politik. Suatu era ketika politik memang menjadi bagian dari kerja kaptilalisme 
neoliberal, yang semakin menggurita dan digdaya. Apa pun menjadi bagian dari 
kegiatan ekonomi-uang, termasuk politik. Politik menjadi bagian dari ekonomi 
mengejar serba profit, keuntungan materi, di luar kepentingan kekuasaan dan 
prestise sosial. Jadi bagian dari mesin produksi yang berorientasi pasar, 
bahkan pasar bebas dalam cengkeraman nafsu dan sistem liberalisme bahkan 
neo-liberalisme. Semua kegiatan politik dan yang berkaitan dengannya menjadi 
proses kapitalisasi.

Para politisi atau orang partai politik tidak lagi risih menggunakan kosakata 
kapitalisasi politik. Maksudnya mungkin modal politik dari suatu kegiatan 
politik yang akan menghasilkan akumulasi raihan kekuasaan setelah itu. Tapi, 
secara tidak sadar sesungguhnya menunjukkan wajah "kapital" dari perpolitikan 
di negeri ini. Politik jadi bagian tak terpisahkan dengan kegiatan ekonomi dan 
menggunakan prinsip dan cara kerja bisnis sebagaimana hukum kapitalisme 
bekerja. Politik semata-mata ingin meraih "profit" akumulasi kekuasaan dan 
dukungan. Dengan siapa pun berkongsi tak mengapa, yang penting target-target 
keuntungan politik dapat diraih, jika tidak saat ini maka untuk tahun 2009.

Kejarlah keuntungan sebesar-besarnya, bila perlu dengan menggunakan segala 
cara. Bila perlu menjual klaim moral dan agama untuk politik. Dengan klaim 
moral dan agama, kapitalisasi politik bahkan menjadi berwajah ganda: propan dan 
sakral. "Sakralisasi" politik atas nama moral, agama, dan Tuhan bahkan makin 
membuat laris atau tinggi harganya, hingga masuk ke dunia propan tak kepalang 
tanggung. Tangan yang satu berwajah "langit" hingga tampak seperti Malaikat 
yang turun ke jagad politik, sedang tangan yang lain berlumuran pragmatisme 
politik yang tak kalah propan ketimbang politik "sekuler". Jika dalam hukum 
Machiavelli segala cara dibolehkan untuk meraih "virtouse" (kedigdayaan kuasa), 
maka dalam hukum "politik keagamaan" segala cara dibolehkan karena ada dalil 
moral atau agama. Tapi muaranya sama: melipatgandakan dan meraih keuntungan 
politik sebesar-besarnya dengan menggunakan hukum-hukum ekonomi kapitalisme.

Maka tak mengherankan jika dunia politik di negeri ini semakin elitis, tidak 
populis. Baik elitis berlabel pragmatis, maupun ala "rahbaniah" ideologi 
politik keagamaan. Elitisme politik keagamaan bergaya "rahbaniah" ingin 
menciptakan genre atau jamaah politik yang kental "kesantriannya" atau 
"keislamannya" dalam formalisme dan paham Islam puritan-ideologis, yang 
membedakan secara kategoris dan ekslusif dari yang lain. Suatu logika 
politik-keagamaan beraroma teori poskolonial dalam era misi Zending di 
negeri-negeri jajahan pada masa lampau. Setiap rumah harus dimasuki dengan 
semangat "mendakwahi" orang, yang hasil akhirnya sesungguhnya kapitalisasi 
politik yang berorientasi elitis itu. 

Kapitalisasi politik yang serba berorientasi target-kuasa plus militansi 
ideologi yang membara, akan melahirkan hegemoni baru. Tak ada celah dan ruang 
kultural yang longgar, kecuali politik. Tak ada relasi sosial yang lentur, 
kecuali politik yang serba serius. Bahkan agama pun, yang semestinya memberi 
ruang dan pandangan yang serba melintasi dan melampaui mulai kehilangan 
autentisitasnya, diinterupsi absolutisme ideologi politik.

Tahun 2009 seolah dekat. Kekuatan-kekuatan dan elite nasional kian bergairah 
saling memposisikan diri melalui beragam simulasi peran. Calon mencalonkan 
sudah dimulai, ada yang serius ada pula yang sekadar menanam saham. Memang 
itulah dunia politik dan hingga batas tertentu wajar adanya. Partai dan 
politisi memang dilahirkan untuk perjuangan kekuasaan, dan itu sah adanya. Tapi 
selalu ada harga yang harus dibayar atau lebih tepatnya dikorbankan, yakni 
kepentingan-kepentingan rakyat yang bersifat nyata, yang sesungguhnya 
memerlukan kebijakan-kebijakan politik yang autentik prorakyat.

Para politisi dan partai politik memang banyak yang menyapa rakyat dengan 
ramah. Tetapi terbatas ketika ada keperluan hajatan politik seperti Pemilu dan 
Pilkada. Atau ketika ada maunya. Sapaan ramah seperti itu pun sifatnya sumir 
atau parsial saja, tidak masuk ke wilayah fundamental dan substansial.

Partai politik dan politisi yang jualan politik tampaknya tak sungguh-sungguh 
masuk ke pembuatan keputusan dan kebijakan politik yang prorakyat. Bagaimana 
kebijakan untuk memecahkan kemiskinan, menghentikan perusakan aset-aset negara, 
menjaga kedaulatan bangsa, memecahkan pengangguran, menyelesaikan utang luar 
negeri, menghentikan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, dan 
sebagainya. Soal kelangkaan minyak tanah saja tak begitu diperhatikan. Masak di 
usia kemerdekaan 62 tahun negeri ini rakyat masih dililit kelangkaan minyak 
tanah? Seolah negeri ini belum merdeka.

Agaknya banyak perspektif yang lepas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di 
Republik ini. Selain politisi dan partai politik, pemimpin pemerintahan pun 
seolah kehilangan "world-view" dalam mengelola dan mengarahkan jalannya negara. 
Soal satu Mendagri saja begitu berlarut-larut, yang mengesankan negara 
disubordinasikan ke dalam rasa sentimental dan bukan urusan tata kelola 
pemerintahan yang semestinya mengutamakan kepentingan publik. Banyak hal kecil 
menjadi heboh, sebaliknya yang urusan-urusan besar seolah dibiarkan berlalu 
bersama waktu.

Publik dininabobokan dengan retorika yang kehilangan perspektif, kecuali 
sebatas ornamen polesan dan kerja-kerja politik sesaat. Sementara bangsa dan 
negara ini semakin kehilangan banyak momentum untuk bangkit dan maju setara 
dengan bangsa dan negara lain. Politik dan juga pemerintahan, meminjam logika 
Michel Foucault, sekadar melakukan reproduksi kekuasaaan. Malah bukan sekadar 
mendaur-ulang, sekaligus kapitalisasi nafsu-kuasa. Para pelaku politik lantas 
menjadi serba bebal dan ajimungpung, di tengah banyak rakyat kecil yang hidup 
kian terengah-engah. 

Kirim email ke