GALAMEDIA
RABU, 29 AGUSTUS 2007
Pengalaman TKI Mengais Rezeki di Tanah Suci (1)
Menjual Sapi untuk
Modal Bekerja di Arab Saudi
PADA 1993 aku bersama sejumlah pria asal Madura mengadu nasib di Arab Saudi.
Sebagai seorang tenaga kerja Indonesia (TKI), aku yang saat itu berumur 26
tahun, seperti juga kebanyakan TKI lainnya, sama sekali tidak mempunyai
keahlian khusus. Satu-satunya kemampuan yang menurutku cukup dijadikan bekal di
Tanah Suci nanti, adalah baca-tulis Alquran.
Keberanianku bukan tanpa alasan, pamanku yang sudah tiga tahun lebih dulu
tinggal di sana telah memberiku harapan untuk memberanikan diri merantau.
Jangan takut, banyak kok orang kita di sini (Mekah). Yang penting, kita bukan
sebagai pendatang gelap. Nanti juga pasti ada jalan, tulis pamanku, dalam
suratnya yang dikirim beberapa bulan sebelum keberangkatanku.
Untuk itu aku harus mempersiapkan diri sematang mungkin, utamanya kesiapan
material dan mental. Terus terang, desakan kebutuhan hidup telah membuatku
nekat dan siap setiap saat untuk bekerja apa saja, kapan, dan di mana pun.
Sebagai petani pengolah garam, penghasilanku sangat kecil, tak cukup untuk
biaya hidupku seorang diri, apalagi kalau nanti sudah berkeluarga.
Dengan kondisi seperti itu, aku semakin mantap mempersiapkan diri. Aku menabung
sedapat mungkin, meskipun harus mengurangi jatah makan setiap hari. Ketika
mulai mempersiapkan diri untuk meninggalkan Tanah Air, tabunganku sangat
sedikit. Berdasarkan perhitunganku, seperti juga perhitungan sejumlah rekan
sekampungku yang juga akan berangkat ke Arab, aku masih harus menyiapkan uang
Rp 5 juta, sedangkan tabunganku hanya Rp 1,5 juta.
Karena sudah tak ada jalan lagi, aku memberanikan diri mengutarakan maksudku
sekaligus menyampaikan keluhanku soal kekurangan biaya yang kubutuhkan. Aku
merayu ibu dan ayah agar mau menjual sepasang sapi yang selama ini dijadikan
modal keluarga untuk mengais rezeki sebagai pembajak sawah. Cukup alot juga
prosesnya, tapi akhirnya berhasil juga. Orangtuaku bersedia menjual sepasang
sapi karena masih ada dua ekor sapi lagi yang bisa dijadikan modal pekerjaan
ayah ibuku nanti. Uang hasil penjualan dua ekor sapi tadi cukup untuk menutup
kekurangan biaya yang kuperlukan.
Singkat cerita, semua keperluan mulai masalah administrasi, paspor, visa, uang
bekal selama tinggal di sana sebelum memperoleh pekerjaan, sudah lengkap,
tinggal menunggu waktu keberangkatan. Lewat sebuah perusahaan pengerah tenaga
kerja yang sudah biasa mengirim TKI ke Arab, aku bersama belasan TKI lainnya
terbang juga ke Arab Saudi sekitar Oktober 2000.
Sebelumnya aku sudah menulis surat kepada paman tentang rencana
keberangkatanku, karena itu aku tak perlu khawatir selama tinggal di sana.
Apalagi paman telah berjanji akan membantu sekuat tenaga. Selama di Mekah,
paman juga mengajakku tinggal di ruÂmahnya. Begitulah, aku berangkat dengan
mantap dan penuh keyakinan. Tentu saja keberanianku itu disebabkan ada paman
dan keluarganya yang akan melindungiku di sana nanti.
Pesawat yang membawa rombonganku tiba di Jeddah sore hari, kira-kira pukul
17.00 WAS (Waktu Arab Saudi). Dengan menggunakan mobil minibus (kalau di sini
seperti mobil elf), rombongan kami berangkat menuju Mekah. Sejak dari Jeddah
hingga Mekah yang memakan waktu kira-kira dua jam, aku tak begitu mengalami
kesulitan, kecuali pada saat pemeriksaan di kantor imigrasi di Bandara King
Abdul Aziz, Jeddah, prosesnya cukup lama dan bertele-tele.
Untung saja karyawan perusahaan yang menjadi kepala rombongan, sudah
berpengalaman dan mahir berbahasa Arab. Dalam hal urusan administrasi tidak ada
kesulitan berarti, tapi saat pemeriksaan barang bawaan, terjadi salah
pengertian yang nyaris saja membuat aku dan rekan-rekan TKI lainnya menjadi tak
tenang. Di telingaku, kata-kata yang dilontarkan para petugas imigrasi sangat
kasar sehingga sulit untuk dimengerti. Bahasa isyarat menggunakan tangan pun
tak banyak menolong.
Tapi aku tidak terlalu terkejut karena sudah mendengar cerita dari paman
tentang karakter petugas di sana, termasuk saat berbicara dengan suara keras
mirip orang marah. Dan memang, meskipun cukup lama dan bertele-tele hingga
memakan waktu hampir dua jam, akhirnya kami semua lolos dari pemeriksaan dan
diperkenankan melanjutkan perjalanan.
Menurut cerita paman, memang petugas bandara, khususnya imigrasi, jika
mengetahui ada rombongan TKI, mereka menjadi kurang ramah, bahkan terkesan
menganggap rendah. Tapi sikap mereka, masih menurut paman, tak bisa disalahkan
karena memang tak sedikit pula TKI yang datang sebagai pendatang gelap sehingga
pada akhirnya merepotkan petugas. Sebuah alasan yang bisa dimaklumi.
Hari sudah malam, tak banyak pemandangan yang bisa kunikmati pada malam itu
karena sudah gelap. Samar-samar memang aku bisa melihat rangkaian bukit batu di
sepanjang jalan diselingi pohon-pohon kurma dan tanaman jenis lain yang tak
kukenal. Ketika masuk ke dalam sebuah terminal bus dan melewati Kota Jeddah,
aku merasakan nuansa baru. Lampu warna-warni dan udara panas yang mulai
kurasakan, membuat aku mulai bermandikan keringat.
Tapi rasa gerah hanya kurasakan sesaat karena aku mulai terpesona dengan
suasana Kota Jeddah yang tampak tertata rapi, ditandai dengan lampu jalan yang
terang benderang, bangunan dengan arsitektur modern, dan taman-taman kota yang
menarik dan artistik. Aku juga terpesona dengan mobil-mobil keluaran tahun
terbaru yang berseliweran di jalan-jalan raya. Menurut kepala rombongan, kami
cukup beruntung bisa masuk Kota Jeddah karena biasanya rombongan TKI seperti
kami harus melewati pinggir kota. Entah apa alasannya, aku sendiri tidak tahu.
(bersambung)**