http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=301618

Jumat, 31 Agt 2007,

Penderitaan TKI Dimulai di Negeri Sendiri
oleh Viddy A.D. Daery 


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini membongkar praktik penindasan 
terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) di beberapa meja birokrasi Indonesia, 
setelah direkam menggunakan kamera tersembunyi. 

Hasilnya, ditemukan 11 pelanggaran dalam birokrasi penanganan TKI, yang 
sebetulnya langkah KPK tersebut sudah terlambat puluhan tahun.

Jadi, baru kali ini pemerintah dan media Indonesia merilis secara serius 
penindasan TKI di Indonesia setelah selama ini hanya menyiarkan tindak 
kekerasan yang dialami di Malaysia dan Singapura. 

Pemerintah Malaysia sebenarnya geram atas ulah majikan Tiongkok-Malaysia yang 
mencoreng wajah pemerintah Malaysia yang terkena getah ulah majikan Tiongkok 
tersebut.

Baru-baru ini, Datuk Zainuddin Maidin, menteri penerangan Malaysia yang aktif 
hadir dalam acara-acara kebudayaan yang diadakan GAPENA, sebuah LSM kebudayaan 
Malaysia, ketika menjadi pembicara dalam seminar mengenai TKI di Bandung dengan 
jujur mengaku bahwa Malaysia sangat bergantung pada TKI, terutama TKI dari 
Jawa. Sebab, kata dia, orang Melayu tidak berani melakukan pekerjaan yang 
riskan. Misalnya, memanjat gedung-gedung tinggi. Jadi, pemerintah Malaysia ikut 
geram jika ada TKI yang disiksa majikan dari etnis Tiongkok-Malaysia.

Karena itu, seperti yang sering saya saksikan di Malaysia, jika ada TKI-TKW 
bekerja di warung (kedai) milik bos Melayu, biasanya mereka adalah "sesama 
Melayu" berasal dari Sumatera. Tapi, TKI yang memasang kaca-kaca dan mengecor 
bangunan-bangunan tingkat tinggi adalah orang-orang dari Jawa, terutama 
Lamongan, Tuban, Gresik, dan Madura.

Otomatis, gaji mereka sangat tinggi dibandingkan yang bekerja di sektor warung 
dan perkebunan. Perkebunan biasanya dikuasai TKI dari Sulawesi dan Nusa 
Tenggara. Tapi, dalam sektor itu, bukan satu dua yang jatuh dan meninggal, 
terutama TKI yang membandel tidak mau memakai sabuk pengaman.

Menara Kembar Petronas itu, kata beberapa sumber, telah memakan korban TKI yang 
jatuh dan meninggal, namun tak pernah masuk surat kabar. Bukan karena 
ditutup-tutupi, tapi karena diselesaikan menurut "hukum". Yakni, keluarga TKI 
mau dibayar ganti rugi nyawa sangat tinggi. 

TKW 

Tapi, nasib baik TKI buruh bangunan tidak banyak dialami TKW yang bekerja 
menjadi pembantu rumah tangga. Datuk Zainuddin menyatakan, banyak TKW yang juga 
bernasib baik. Mendapat majikan baik dan bijak. Namun, memang ada 0,001 persen 
yang mendapat majikan jahat. Itu pun ada di mana-mana, baik di Malaysia, Arab 
Saudi, maupun di Indonesia.

Datuk Zainuddin kecewa karena justru kasus 0,001 persen itulah yang 
dibesar-besarkan oleh media massa Indonesia, sedangkan yang 99 persen TKI 
sukses tidak pernah diberitakan. 

Sebenarnya, saya sering menulis hal TKI sukses di Jawa Pos, sebuah koran 
Indonesia satu-satunya yang juga beredar di beberapa tempat di Kuala Lumpur, 
Malaysia, yakni di Terminal Puduraya, Pasar Chow Kitt, Kampung Baru, dan 
Kampung Pandan, yang 60 persen pemukimnya adalah TKI sukses dari Lamongan, 
Tuban, Gresik, serta Madura.

Pada kasus-kasus TKW yang mendapat perlakuan kejam dari majikan, ketika saya 
wawancarai, kebanyakan adalah memiliki majikan non-Melayu dan nonmuslim karena 
persoalan pertama-tama adalah perbedaan agama. Majikan yang kejam itu tidak 
suka atau malah tidak mengizinkan TKW beribadah salat, baik karena faktor "time 
is pemerasan" maupun faktor kebencian terhadap kepercayaan keagamaan.

Kemudian, faktor makanan. Majikan yang kejam jengkel karena harus menyediakan 
makanan yang lain kepada pembantunya. Sebab, pembantu tidak mau makan hidangan 
yang dimakan keluarga majikan. Karena itu, majikan yang sering berlaku kasar 
akan memberikan makan seadanya. Kadang tidak layak. Mereka ogah membelikan 
makanan yang diinginkan pembantunya.

Tapi, ada pula TKW yang jahat. Misalnya, lari dari majikan yang baik, meski 
sudah dibayar banyak dan diberi berbagai fasilitas. Karena itu, kini perusahaan 
pengerah jasa tenaga kerja (PJTKI) memberlakukan kontrak. Yakni, kalau selama 
masa kontrak yang biasanya per dua tahun, lalu si TKW pergi tanpa pesan, 
seperti yang biasa terjadi di Indonesia, si TKW akan didenda uang yang 
jumlahnya cukup memberatkan.

Karena itu, banyak majikan yang mengambil taktik dengan menahan paspor TKW agar 
tidak melarikan diri. Namun, kasus tersebut merugikan TKW yang dijahati 
majikan, padahal TKW itu bekerja dengan baik.

Kasus Ceriyati yang melarikan diri karena disiksa majikannya baru-baru ini 
membuat pemerintah Malaysia mau bijaksana dengan mengeluarkan smart-card 
sebagai pegangan TKW selama paspornya ditahan majikan.

Dengan memegang smart-card, TKW berhak berjalan-jalan ke mana pun tanpa takut 
ditangkap Polisi Diraja maupun pasukan RELA, yakni pasukan keamanan swasta atau 
hansip atau pamswakarsa atau garda-partai kalau di Indonesia yang sangat banyak 
jenisnya. 

Pemerintah Malaysia sekarang juga bersedia menyediakan gedung sekolah bagi 
anak-anak TKI, terutama di wilayah perkebunan yang terpencil. Biasanya di 
negara bagian Sabah dan Serawak. Di kota-kota besar tidak ada masalah karena 
anak-anak TKI bisa bersekolah di sekolah swasta atau di lingkungan kedutaan 
atau konsulat.

Geram tanpa Introspeksi

Berdasar jajak pendapat yang dilansir salah satu LSM dan koran Indonesia 
baru-baru ini, 75 persen berpendapat sebaiknya pemerintah Indonesia 
menghentikan sementara pengiriman TKI-TKW karena kasus-kasus penganiayaan, 
meski cuma 0,001 persen.

Kegeraman publik Indonesia sangat bisa dimengerti. Sayang tanpa introspeksi 
diri, apakah TKI-TKW yang dilarang bekerja di luar negeri tersebut dikasih 
makan oleh pemerintah Indonesia.

Karena itu, jika ada TKI-TKW yang hidup enak di negara tetangga, tetap saja 
kita harus menuding dan menyalahkan pemerintah Indonesia yang membiarkan 
rakyatnya mengais rezeki di negeri orang. Apalagi, jika TKI-TKW itu hidup 
menderita di negeri orang, tentu tangan kita harus mengepal ke hidung 
pemerintah Indonesia dulu sebelum menyalahkan negara lain.


Viddy A.D. Daery, direktur bidang Pengembangan Sebuah Jaringan Sekolah Televisi

Kirim email ke