http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=40567

Pesawat Thailand Jatuh, 87 Tewas
(17 Sep 2007, 226 x , Komentar) 
Pilotnya Ternyata WNI

BANGKOK - Pesawat maskapai penerbangan swasta Thailand, One-Two-Go, Minggu 16 
September, kemarin, mengalami kecelakaan di Phuket, Thailand. Sebanyak 87 
penumpang dan awaknya tewas, 43 lainnya dinyatakan selamat.Salah seorang korban 
ternyata diidentifikasi Warga Negara Indonesia (WNI). WNI tersebut adalah pilot 
yang bekerja di perusahaan maskapai One-Two-Go, namun belum diketahui namanya.

Duta Besar Indonesia untuk Thailand Ibrahim Yusuf yang dihubungi kemarin 
membenarkan informasi tersebut. "Saya baru mendapat telepon dari staf di 
kedutaan Bangkok kalau pilot pesawat yang meninggal itu adalah warganegara 
Indonesia," ujarnya Ibrahim kepada Fajar, malam tadi.

Staf KBRI tersebut, lanjutnya, mendapatkan kepastian kabar meninggalnya pilot 
itu dari perusahaan One Two Go dan surat kabar The Nations yang beredar di 
Thailand. "Tapi kami belum dapat detil nama dan alamat korban," bebernya. 

Saat ini, pihak kedutaan sedang menunggu informasi lebih lanjut dari pihak 
berwenang maupun pihak rumah sakit. Alasannya, kantor perwakilan tidak bisa 
serta merta mencari informasi sendiri dengan datang ke TKP (Tempat Kejadian 
Perkara). "Kami masih terus menunggu, dan saya rasa besok (maksudnya hari ini, 
red) mereka akan memberikan informasinya pada saya," ujarnya meyakinkan.

Informasi yang diperoleh di Bangkok, kecelakaan terhadap pesawat MD-82 itu 
dioperasikan maskapai penerbangan swasta dengan tiket murah. Menurut 
keterangan, kecelakaan terjadi saat pesawat yang mengangkut 130 penumpang, 
termasuk dua pilot dan lima awak kabin tersebut akan mendarat di Bandara 
Internasional Phuket.

Licinnya landasan akibat hujan deras yang turun membuat pesawat tergelincir. 
Akibatnya, pesawat terbakar dan sempat menabrak pepohonan yang ada di sekitar 
landasan. Kerasnya benturan membuat pesawat hancur berkeping-keping.

Menurut keterangan, dari jumlah korban yang selamat, 15 adalah warga negara 
Thailand dan selebihnya warga asing. Hingga kini, pihak berwenang Thailand 
masih melakukan identifikasi korban yang tewas. "Bagian forensik kepolisian 
akan segara melakukan autopsi 87 mayat yang ada," ungkap seorang pejabat.

++++

HARIAN KOMENTAR

18 September 2007



      Pilot Arief, tanya cucu sebelum kecelakaan
      "Phuket Itu Cuacanya Paling Jelek...'' 
     



DI mata keluarga, mendiang pilot Arief Mulyadi figur bapak yang baik dan sabar. 
Meski jadwal terbangnya padat, pilot korban kecelakaan pesawat di Phuket, 
Thailand, ini selalu menelepon keluarganya. "Bapak itu baik, sabar, tipe orang 
yang sayang keluarga. Di mana pun selalu diusahakan untuk telepon. Kalau 
menginap, diusahakan untuk pulang ke rumah. Meski waktu terbang padat, pasti 
diusahakan untuk telepon," kata putra pertama Arief, Agung Bayu Hanggono (29) 
yang dilansir detik.com.


Hal ini disampaikan Agung di rumah duka, Kompleks Dwikora, Jalan Mandala G-10, 
Jakarta Timur, Senin (17/09). Menurut Agung, keluarga sempat kirim SMS dan 
telepon dengan Arief sebelum kecelakaan pesawat pada Minggu 16 September 2007.


"Adik kemarin Sabtu telepon. Kalau saya cuma SMS-an. Rencananya tanggal 28 
September nanti mau balik ke Jakarta. Dia nanya cucunya. Dia memang perhatian 
sama cucunya," ujarnya. 


Menarik juga kisah Agung, anak pertama Arief. Katanya, dilihat dari angkasa, 
peman-dangan Phuket sangat indah. Namun kawasan ini memiliki cuaca yang paling 
jelek untuk penerbangan. Itulah seke-lumit cerita pilot Arief Mulyadi kepada 
sang buah hati. "Ba-pak ngomong Phuket itu cua-canya paling jelek, tetapi kalau 
dilihat dari atas paling bagus," kata Agung (29).

 
Agung mengatakan, sang ayah menolak terbang jika pesawatnya jelek lantaran 
tidak mau ambil risiko. "Tetapi entah kemarin cuaca buruk kok tetap maksa 
mendarat," ujarnya lirih. Agung pun menangkap firasat sebelum pesawat yang 
dikemudikan ayahnya jatuh.


"Saya selalu melihat benda pemberian bapak. Padahal saya tidak pernah perhatiin 
sebelumnya. Kalau HP saya pencet selalu nomor bapak yang keluar, pingin telepon 
nanti aja ah setelah buka puasa tidak tahunya setelah Maghrib kejadian," terang 
Agung.


"Ada yang bilang bapak sempat menyelamatkan penumpang sebelum meninggal. Tetapi 
kalau saya lihat nggak yakin, ruang pilotnya sudah hancur," lanjut Agung dengan 
mata berkaca-kaca.


Jenazah pilot Arief Mulyadi sendiri telah disemayamkan di Kantor Orient Thai 
Airlines di Bandara Swarnabumi, Bangkok, Senin (17/09). "Jenazah disemayamkan 
di Kantor Orient Thai Airlines di Bandara Swarnabumi,'' ujar Jubir Deplu 
Kristiarto Legowo.


Menurut Kristiarto, kemarin, istri korban dan pejabat KBRI sudah berangkat ke 
Phuket. Mereka akan menjemput jenazah pada pukul 14.00 waktu setempat untuk 
dibawa ke Bangkok. Direncanakan jenazah Arief akan tiba Selasa ini. 
Arief adalah pilot maskapai One-Two-Go yang celaka pada Minggu 16 September. 
Pesawat naas jenis MD-82 yang dikemudikan eks pilot Sempati Air itu celaka saat 
berusaha landing di Bandara Phuket, Thailand.


Saat cuaca buruk menaungi bandara, pesawat bernomor penerbangan OG 269 itu 
tergelincir, terbelah dua dan terbakar. Pesawat itu ditumpangi 123 penumpang 
dan 7 orang kru. Korban tewas mencapai 89 orang. 
NERAKA


Bagai berada di neraka. Itulah gambaran tragedi kece-lakaan pesawat di Phuket, 
Thailand yang menewaskan 89 orang. Saat itu, puluhan penumpang berusaha 
mene-robos kobaran api. Parinyawich Chusaeng (23), pria asal Phuket yang 
bekerja sebagai seniman ini, adalah seorang korban selamat dari pesawat naas 
yang dioperasikan maskapai One-Two-Go itu.


"Pesawat jatuh sangat cepat dan terbanting. Sayap kanan-nya menabrak pohon dan 
pesawat langsung menabrak tanah," kata Chusaeng. Selanjutnya, dia mendapati 
amuk si jago merah mulai menjamah sekitarnya. Sebagian orang terjatuh di 
lantai, sebagian berdiri. Mereka semua dikelilingi api. "Orang-orang di sekitar 
saya terkena luka bakar," tuturnya.
Chusaeng juga mengalami luka memar dan harus men-jalani rawat inap rumah sakit. 
Meski demikian, dia mengaku sempat menangkap momen awal kecelakaan itu dengan 
video singkat di telepon geng-gamnya. Untung saja, kisah-nya, saat itu dia 
berhasil mengikuti petunjuk lampu darurat. Dia pun berhasil keluar pesawat dan 
menda-pati regu penolong telah ber-siap menolongnya.(dtc/afp

Kirim email ke