http://www.bangkapos.com/opini/ebabc011494658df6ad6412baa18919c/36/baca/0/7/0/0/2007/November/17/0

Kesehatan Menentukan Kualitas Bangsa

edisi: Sabtu, 17 November 2007 WIB 

Penulis: Supriyadi SKm MKm
       
      Yudhi 
      Kesehatan Menentukan Kualitas Bangsa  
Kesehatan bukanlah segalanya dalam pembangunan suatu bangsa, tapi kesehatan 
adalah salah satu faktor awal yang menentukan kualitas suatu bangsa

PERINGATAN Hari Kesehatan Nasional (HKN), setiap tanggal 12 November, selalu 
diperingati. Untuk tahun ini HKN yang ke 43 mengambil tema "Rakyat Sehat, 
Negara Kuat". Makna yang disampaikan pada tema ini adalah perlunya kesadaran 
kemauan & kemampuan semua komponen bangsa untuk mewujudkan rakyat sehat sebagai 
sumber ketahanan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik 
Indonesia.

HKN tahun ini mestinya dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi dan 
introspeksi sekaligus advokasi tentang pentingnya pembangunan kesehatan untuk 
mendukung cita-cita luhur bangsa kita sesuai pasal 5 dalam Pancasila yaitu 
terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lolosnya momentum HKN beberapa hari lalu dari perhatian, karena masih salah 
persepsinya pemerintah dan masyarakat kita terhadap kesehatan. Masyarakat kita 
menganggap pentingnya kesehatan pada saat kondisi sedang sakit saja. Sikap 
berlebihan atau panik ditunjukkan ketika ada anggota keluarga kita yang sakit, 
dan apapun dilakukan, termasuk membayar mahal, agar keluarga yang kehilangan 
kesehatannya segera sembuh.

Baru kita sadari dalam kondisi seperti itulah, sepertinya kita sepakat bahwa 
kesehatan sangat penting dan menjadi prioritas utama untuk diperhatikan.

Pada tatanan makro pun, pemerintah mulai dari tingkat Pusat, daerah provinsi 
maupun kota/kabupaten masih salah dalam memperlakukan bidang kesehatan. Betapa 
sibuknya pemerintah ini pada saat terjadinya kejadian luar biasa seperti demam 
berdarah, polio, diare, marasmus & kwashiorkor. Segala sumber daya dan 
perhatian dikeluarkan termasuk biaya untuk memulihkan keadaan walaupun sifatnya 
hanya sporadis bak pemadam kebakaran.

Kembali, dalam situasi ini kita pun sepakat bahwa kesehatan sangatlah penting 
dan selayaknya mendapat prioritas untuk diperhatikan.

Pertanyannya, apakah seperti ini cara kerja bangsa ini dalam membangun 
manusianya. Di manakah gerangan konsep pembangunan berwawasan kesehatan yang 
mestinya menjadikan kesehatan bangsa sebagai tujuan pembangunan nasional dan 
bagian dari pembangunan kesejahteraan umum?


Tantangan Berat


Pemahaman yang tidak tepat terhadap kesehatan, telah menjadi satu faktor yang 
memberatkan dalam pembangunan kesehatan di negeri ini. Akibatnya, kita selalu 
terlambat membuat program yang terencana dan sistematis. Seperti contoh kita 
selalu gagal dalam mengendalikan kejadian luar biasa yang selalu muncul 
berulang seperti DBD, Malaria, Polio. Hal ini dikarenakan kita tidak mau 
belajar atau mengambil hikmah dari bencana yang telah lewat.

Hal ini dapat dilihat dari besarnya anggaran kesehatan yang disediakan oleh 
pemerintah maupun masyarakat yang tidak beranjak dari sekitar 2,2% dari produk 
domestik bruto sejak zaman Orde Baru hingga sekarang. Padahal amanat/anjuran 
dari WHO minimal 5% dari PBB per tahun. Gimana mau rakyat sehat, negara kuat 
kalau alokasi kesehatan sangat minim, sangat ironis memang.

Pada tingkat individu rumah tangga, belanja kesehatan kita pun masih rendah dan 
hampir 90 persen untuk kegiatan pengobatan. Kondisi itu lebih memprihatinkan 
lagi karena anggaran kesehatan itu masih dialokasikan lebih banyak untuk 
program dan kegiatan yang bersifat pengobatan dibandingkan dengan upaya 
pencegahan dan peningkatan (preventif & promotif) kesehatan.

Ini berarti, pada tataran pemerintah dan masyarakat melakukan hal sama. Padahal 
kalau dana pemerintah dialokasikan lebih banyak untuk pencegahan dan promosi, 
bukan berarti pengobatan tidak diperhatikan, karena masyarakat secara interen 
akan berusaha  mengobati anggota keluarganya yang sakit.

Selanjutnya, tantangan yang berat pada sektor kesehatan adalah apa yang disebut 
triple burden of diseases. Kenapa triple bukan ganda, karena memang kenyataan 
bahwa kita menghadapi beban dari tiga jenis penyakit yang berbeda pada saat 
yang sama.

Jenis penyakit pertama adalah penyakit konvensional. Termasuk dalam kelompok 
penyakit ini adalah penyakit diare, infeksi saluran pernafasan akut, tetanus, 
demam berdarah, yang masih selalu ada di negeri kita ini. Hal ini dipengaruhi 
oleh buruknya saluran air bersih, perumahan yang padat, penanganan sampah yang 
kurang baik, polusi udara serta air.

Jenis penyakit kedua adalah penyakit yang baru muncul (New-emerging diseases) 
seperti HIV AIDS dan flu burung. Kedua penyakit ini selalu meningkat jumlahnya. 
Untuk penyakit flu burung kita menempati urutan pertama di dunia dari banyaknya 
kasus yang muncul yaitu dengan jumlah kasus 112 orang yang meninggal sebanyak 
90 orang dengan CFR 80,3%. Sangat ironis memang karena Negara lain sudah bisa 
mengendalikan penyakit ini, sedang negara kita masih menghadapi tantangan yang 
berat, apabila gagal akan terjadi pandemi yang akibatnya tidak bisa kita 
bayangkan sebelurnnya.

Jenis penyakit ketiga adalah penyakit yang telah lama hilang kemudian muncul 
lagi (Re-emerging diseases). Jenis penyakit ini yang bikin sewot orang 
kesehatan adalah kemunculan polio, dan yang terakhir adalah gizi buruk dengan 
manifestasi marasmus dan kwasiorkor.

Tantangan yang tidak kalah pentingnya adalah anggaran pembangunan berbagai 
sektor lain belum sepenuhnya mendukung pembangunan kesehatan. Misalnya anggaran 
pembangunan sektor pertanian yang tidak memperhitungkan biaya penanggulangan 
efek samping penggunaan pestisida. Demikian pula untuk biaya penanggulangan 
dampak pencemaran lingkungan akibat kebakaran hutan, serta akibat dari sektor 
perhubungan, perindustrian dan pertambangan.


Martabat Bangsa


Gimana mau rakyat sehat, negara kuat kalau alokasi kesehatan sangat minim, jadi 
hendaknya momentum HKN ini dijadikan refleksi bagi semua pihak untuk merubah 
pandangan bahwa sektor kesehatan jangan dipandang sebelah mata, karena dianggap 
sektor ini tidak menguntungkan dari sudut pandang manapun. 

Padahal sektor kesehatan harus sejajar dengan sektor-sektor yang lain terutama 
pendidikan ekonomi, contohnya kalau sektor pendidikan mendapat dana dari 
alokasi APBN/APBD yang besar tapi anak didiknya kurang gizi, terserang malaria, 
DBD apa bisa maksimal menyerap semua pelajaran yang diterima. 

Akibat lain yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara derajat kesehatan 
bangsa dengan produktivitas bangsa ini ditinjau dari sektor pendidikan dan 
sektor ekonomi. Mau tidak mau hubungan ini harus diperhatikan dengan seksama, 
karena bangsa yang tidak sehat, apalagi semenjak usia dini (bayi dan balita) 
akan membawa pengaruh pada prestasi akademik yang tidak optimal.

Jadi, momentum Hari Kesehatan Nasional tahun ini menjadi renungan bahwa 
kesehatan memiliki peranan penting dalam membangun bangsa Indonesia tercinta 
ini. (*)

(* Penulis Adalah Kantor Kesehatan pelabuhan Pangkalpinang &
Dosen Stikes Abdi Nusa Pangkalpinang)

Attachment: showhs.php?id=558
Description: Binary data

Kirim email ke