REFLEKSI: Megawati,  mantan presiden NKRI, juga sekarang telah menempelkan 
gelar haji didepan namanya, karena sudah pernah naik haji. Tentunya janggal 
disebut Pak Haji Megawati.


REPUBLIKA

Jumat, 23 Nopember 2007

Pak Haji! 

Oleh : Zaim Uchrowi 


"Mengapa orang berhaji disebut Pak Haji, dan orang shalat tak disebut Pak 
Shalat?" Pesan ringkas itu masuk ke telepon genggam saya. Pak Akhyar, seorang 
guru di Tangerang, pengirimnya. Tak ada yang dapat saya jawab selain tersenyum. 
Itulah kita. Pertanyaan 'nakal'-nya memgingatkan siapa sosok kita sebenarnya.

Di masa-masa lampau, seorang haji memang selalu pribadi istimewa. Seorang haji 
adalah seorang yang nyaris paripurna sebagai manusia. Mereka tentu 
pribadi-pribadi yang telah melampaui banyak hal dalam hidup. Baik lahir maupun 
batin. Baik yang terkait kebendaan maupun yang bukan kebendaan. Seorang haji, 
secara umum, memiliki jejak langkah melebihi jejak langkah orang kebanyakan.

Dalam ekonomi, misalnya. Kaji Ngusman, ayah kakek buyut saya, punya sawah luas 
dan sukses berdagang sebelum berhaji. Hampir semua haji lain di tanah nusantara 
ini seperti itu. Petani sukses, atau pedagang sukses. Mereka umumnya bukan 
orang gajian, dan jelas bersih dari bau-bau korupsi. Kesuksesannya juga tidak 
dinikmati sendiri. Mereka adalah orang-orang yang selalu membantu orang lain. 
Bukan hanya dalam urusan sosial, melainkan juga ekonomi. Mereka sosok-sosok 
yang aktif untuk memberdayakan masyarakat. Urusan hubungan sesama manusia, 
hablum minannas, mereka relatif sempurna.

Dalam urusan hubungan dengan Tuhan, hablum minallah, mereka juga nyaris 
sempurna untuk ukuran manusia biasa. Shalat lima waktu akan selalu terjaga 
tepat waktu. Hampir semuanya dilakukan secara berjamaah di masjid yang 
dibangunnya sendiri. Ibadah-ibadah sunah juga tak pernah ditinggalkan. Shalat 
dhuha, shalat tahajud, hingga puasa sunah adalah bagian dari hidup mereka. 
Wajar bila hidup mereka berkah, ditinggikan maqamnya, serta damai-sejahtera. 
Mereka umumnya orang-orang terbaik dalam agama maupun dalam penghidupan 
dibanding masyarakat sekitarnya.

'Orang-orang terbaik' itulah yang lalu bertekad menyempurnakan hidup dengan 
menunaikan Rukun Islam paripurna: Berhaji. Mereka menyiapkan diri menempuh 
perjalanan yang, di masa itu, merupakan 'perjalanan hidup-mati'. Tak ada 
asuransi, dan ada penyelenggara haji, atau jaminan apa pun bahwa akan ada yang 
kembali ke rumahnya sendiri. Perjalanan yang rumit dan berbahaya selama 
berbulan-bulan ditempuhnya. 

Tak sedikit pun itu menggentarkan mereka. Mereka tahu, perjalanannya bukan 
apa-apa dibanding perjalanan Nabi Ibrahim-Siti Hajar-Nabi Ismail untuk 
mengukuhkan esensi kebenaran hidup. Yakni, untuk menjadi manusia yang 
benar-benar merdeka dengan bergantung hanya pada Allah. Keluarga itu tidak mati 
di tengah gurun saat meneguhkan ketauhidannya. Mereka sangat siap meneladani 
keluarga istimewa tersebut.

Dengan kesiapan demikian, proses haji yang dijalaninya pun menjadi sempurna. 
Mereka bukan saja menunaikan rukun dan wajib haji, namun memahami persis makna 
setiap langkah ibadah yang dilakukannya. Berhaji membuat mereka benar-benar 
menjadi manusia Tauhid. Manusia yang benar-benar memiliki jiwa merdeka karena 
tak mau tergantung pada apa pun dan siapa pun selain Allah. Haji inilah menjadi 
'haji mabrur'.

Kemabrurannya ditandai dengan perilaku yang lebih banyak lagi memberdayakan 
masyarakat; Juga lebih santun dalam kata-kata. Jadilah mereka pribadi-pribadi 
utama di lingkungannya. Wajar bila orang-orang menghormatinya, dan menyebutnya 
'Pak Haji'. Berhaji sekarang jauh lebih mudah dibanding dulu. Semua orang 
praktis bisa berhaji tanpa perlu kesiapan diri seberat dulu. Siapa pun bisa 
berhaji sepanjang punya uang. Maka sungguh tak mudah bagi kita yang berhaji 
sekarang untuk mendapatkan 'kualitas haji' sebanding para haji terdahulu.

Jadi, apakah pantas kita mendapat penghormatan sebutan 'Pak Haji'? Jika tidak, 
mengapa tidak kita singkirkan atribut haji dari nama kita? Banyak haji luar 
biasa melakukan itu sebagaimana banyak orang salih yang jelas keturunan Nabi 
Muhammad yang memilih tak menggunakan sebutan 'Habib' untuk diri sendiri. Bila 
langkah ini ditempuh, mereka percaya, mereka percaya, agama akan lebih bernilai 
maknawi dibanding sebagai label dan atribut.

Kirim email ke