GALAMEDIA
SABTU, 24 NOVEMBER 2007
Ibadah Haji Malah Dipakai Selingkuh (1)
Masih Bersuami, Diajak Nikah
SELANG beberapa bulan setelah ibadah haji tahun 2006, biduk keluarga Drs.
H. Jono (bukan nama sebenarnya) asal Kab. Bandung, berantakan. Ia bercerai
dengan istrinya dan menikah lagi dengan seorang wanita, sebut saja namanya Ny.
Hj. Tati, teman karibnya sewaktu ibadah haji. Selidik punya selidik, perkawinan
itu ternyata hasil perselingkuhan selama menjalankan rukun Islam kelima
tersebut. Pengakuan perselingkuhan Tati dengan Jono dikisahkan H. Undang
Sunaryo.
BERUMAH tangga hampir 14 tahun dengan Kang Aang (nama samaran), belum
membuahkan keturunan. Berobat ke dokter kandungan sering dilakukan. Sudah tak
terhitung berapa kali kami mendatangi tabib, dukun, paranormal, dan orang
pintar. Namun hasilnya tetap begitu-begitu saja. Akhirnya, kami malas untuk
berusaha mengubah nasib ini.
Keterangan para dokter justru membingungkan. Kata dokter A sayalah yang mandul,
sementara menurut dokter lain malah Kang Aang yang hapa. Harapan dan ramalan
bahwa kami akan mendapat keturunan pupuslah sudah. Makanya, kami mencoba
bersabar, menunggu barangkali saja sang buah hati bisa datang.
Mungkin ada satu jalan lagi yang harus kami tempuh agar cita-cita untuk
mempunyai momongan tercapai. Caranya, kami harus menunaikan ibadah haji. Di
Tanah Suci, kami akan berdoa di tempat-tempat mustajabah, meminta langsung
kepada Allah agar segera dikaruniai anak.
Kang Aang setuju rencana itu. Sayang, pada saat itu uang untuk bayar ongkos
naik haji hanya cukup untuk satu orang. Kang Aang mempersilakan saya yang lebih
dulu berangkat haji. Nanti kalau ada rezeki, katanya, bisa bersangkat sama-sama
pada musim haji berikutnya.
Tak apalah saya berangkat sendirian, yang penting Kang Aang mengizinkan dan
rela saya tinggal selama 40 hari. "Tolong selama di Tanah Suci, Mamah harus
mampu menjalankan rukun, wajib, dan sunah haji. Perbanyaklah amal ibadah dan
jangan lupa sering-sering berdoa agar sepulang haji, kita dikasih keturunan,"
begitu berkali-kali Kang Aang menyarankan saya sebelum berangkat menunaikan
ibadah haji pada tahun 2006.
Seperti pada umumnya sebelum berangkat haji, para calon haji rajin melaksanakan
manasik. Setelah pembagian rombongan dan regu, kebetulan saya sendiri jemaah
calon haji yang tak memiliki pasangan. Kebetulan juga hanya sayalah perempuan
calon haji yang paling muda di antara sekian banyak calon haji yang berangkat
dari kecamatan tempat saya tinggal.
Mungkin karena saya perempuan paling muda, banyak teman-teman yang menaruh
perhatian kepada saya karena kasihan. Tak terkecuali ketua regu kami, yakni Pak
Jono. Dia begitu sayang sama saya. Begitu pula istrinya, segala keperluan yang
menyangkut kelengkapan administrasi, Pak Jonolah yang mengurusnya.
Kang Aang dan kedua orangtua saya sangat berterimakasih atas bantuan Pak Jono.
Mereka berkali-kali menitipkan saya agar selama di Tanah Suci dibantu dalam
segala hal. "Insya Allah. Karena saya ketua regu, tentu bertugas membantu
segala urusan anggota selama kegiatan ibadah haji. Tak terkecuali istri Anda,"
kata Pak Jono kepada suami saya.
Saking sayangnya, Pak Jono sempat memberi aneka barang kelengkapan untuk
keperluan haji. Entah berapa duit ia keluarkan. Keluarga kami, termasuk Kang
Aang, tidak curiga apa-apa. Memang heran juga ada orang seperti Pak Jono.
Orangnya baik sekali kepada saya. Sejak berangkat naik bus menuju Bekasi, saya
duduk berdampingan dengan Pak Jono dan istrinya.
Di dalam pesawat terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Bandara Jedah,
Arab Saudi, kami duduk berdampingan. Bahkan selama di pondokan Tanah Suci, baik
Mekah maupun di Madinah, sama-sama satu kamar bersama sepuluh anggota regu.
Bila berangkat beribadah ke Masjidilharam, saya tak pernah lepas dari Pak Jono
dan istrinya. Dalam melakukan miqat (start untuk menunaikan umrah) di Tanaim
dan Jaronah pun selalu bersama mereka. Beribadah, pergi ke pasar, berwisata
ziarah, termasuk makan di restoran selalu bersama-sama. Saya diperlakukan
seperti adik atau anaknya sendiri.
Diakui dalam beberapa kesempatan, istri Pak Jono berhalangan pergi ke Masjidil
Haram. Maka atas seizin istrinya, Pak Jono bersama saya berdua berangkat ke
Masjidilharam. Pulangnya, suka diajak jalan-jalan ke pasar dan makan di
restoran. Pulang ke maktab, istrinya tak menaruh curiga apa-apa, bahkan
sebaliknya sering mengucapkan terima kasih kepada saya.
Lama-kelamaan saya agak kaget juga. Tak disangka Pak Jono mengungkapkan
kata-kata aneh. Dia mengatakan cinta sama saya. Katanya kalau saya mau, pulang
haji akan menikah alias dijadikan istri kedua. "Wah, kok Bapak punya rencana
begitu. Saya 'kan masih punya suami, Pak?," saya balik bertanya.
"Biar nanti bila sudah berada di Tanah Air, langsung minta cerai sama suami
kamu. Bila sudah cerai, kita nikah saja. Nikah itu gampang sekali, cukup
dinikahkan oleh ayah kamu. Sah hukumnya dan kita halal bergaul," katanya.
"Bapak 'kan pegawai negeri sipil. Katanya PNS tidak boleh beristri dua," kata
saya.
"Sudah, jangan banyak omong, itu urusan Bapak. Kalau kamu ingin punya anak,
maka nikahlah dengan saya," katanya.
"Ya...," akhirnya saya menjawab pendek dengan dada berdebar. Jono sang ketua
regu tak memberi teladan kepada anggotanya. Ia berselingkuh dengan saya.
(bersambung)*