Refleksi: Kalau negarawan tukang cuci piring tidak berkekurangan di NKRI, malah 
berlimpah-limpah. Sama halnya juga negarawan berkaliber dan berlidah fasih 
mengucapan-ucapan faham surgawi berlebi-lebihan atau inflasi!  

Tetapi, yang sangat dibutuhkan ialah negarawan yang sanggup mengorganisasikan 
agar selalu makanan bergizi dan lezat tersedia dan mudah dihidangkan di piring  
rakyat untuk disantap, Perut kenyang - hati pun senang, jadi bukan  negarawan 
tukang ngoceh cerita seribu satu malam.


http://www.suarapembaruan.com/News/2007/12/19/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Catatan Akhir Tahun 2007

Dicari, Negarawan Tukang "Cuci Piring" 
Tahun 2007 segera berakhir. Tinggal menghitung hari dan kemudian memasuki tahun 
2008 yang makin panas, jika mengacu pada perpolitikan di negeri ini. Hal itu 
karena pada tahun berikutnya, yakni 2009, merupakan tahun politik memperebutkan 
kursi kepemimpinan, dan dipastikan konsentrasi para elite negeri ini fokus ke 
sana. Baik untuk posisi di eksekutif maupun legislatif. 

Kalau pada 2007 ini saja para pemimpin sudah tidak lagi fokus untuk 
menyejahterakan rakyat, dipastikan 2008 dan terlebih 2009 makin tidak fokus 
lagi. Janji-janji hanya akan tinggal janji dan digantikan janji baru. 
Ironisnya, justru di saat itulah rakyat di negeri ini diperlukan suaranya dan 
berarti rakyat seperti sebuah kata wajib bagi mereka yang ingin menduduki 
kursi-kursi kekuasaan. 

Sayangnya, ketika kursi kekuasaan sudah diraih, hal itu identik dengan 
pengabaian (kembali) si pemilik sah kedaulatan, yakni rakyat. Rakyat kembali 
diabaikan dan dilupakan untuk nanti diingat lagi ketika ritual lima tahunan 
harus diulang. 

Ini ibarat banjir di Ibukota negeri ini, Jakarta, yang dibahas, disorot, 
didiskusikan, di-segala macam-kan ketika akan terjadi, tengah terjadi dan baru 
saja terjadi. Lalu setelah itu, serempak dilupakan, terutama karena masalah 
baru bermunculan. Begitulah "siklusnya". 

Begitu juga dengan rakyat. Ritual terus berulang dan berulang. Pada Pemilu 
2004, semua elite politik, pemimpin negeri dan calon pemimpin negeri 
mengumandangkan kata-kata magis, yakni "Rakyat". Sampai akhirnya memperoleh 
kekuasaan atas dukungan rakyat dalam Pemilu 2004 dan juga Pemilu Presiden 
(Pilpres) 2004. 

Setelah itu? Selesai sudah urusan dengan rakyat dan rakyat yang harus 
menanggung beban beratnya. 


Contoh konkret semua itu adalah ketika harga minyak dunia nyaris menembus US$ 
100 per barel. Langkah nyata yang dilakukan pemerintah (penguasa) yang notabene 
memberikan dukungan sekaligus menitipkan harapannya adalah dengan mengurangi 
subsidi. 

Memang, ini semua baru rencana. Namun mengacu pada pengalaman yang sudah-sudah, 
pemerintah memang lebih memilih jalan mudah untuk mengatasi persoalan yang ada. 
Kenaikan harga BBM dua tahun silam, 2005 yang mencapai 87,5 persen sampai 185,7 
persen begitu menyesakkan rakyat kecil yang sampai sekarang pun masih terasa 
dampaknya. 

Ketika harga minyak dunia terus meroket, saat ini, langkah yang direncanakan 
pun juga membuat rakyat makin sesak. Tidakkah pernah dipikirkan bahwa dampak 
dari pengurangan subsidi bensin premium pun berdampak pada kemampuan ekonomi 
rakyat kecil. Salah besar kalau pengurangan subsidi pada bensin premium untuk 
kendaraan pribadi hanya berdampak pada pemilik mobil pribadi saja. Tentu para 
ekonom tahu persis. 

Begitu juga ketika harga beras mulai tidak stabil. Lagi-lagi langkah pragmatis 
yang ditempuh pemerintah, yakni impor beras. Sementara ketika itu dilakukan, 
rakyat kecillah yang terkena dampaknya. Susahnya, beras sudah telanjur diberi 
label politik. Pemerintah hanya khawatir kekuasaannya akan goyah jika harga 
beras tidak stabil. 

Tidak pernah dipikirkan dampak buruk bagi para petani beras yang mayoritas 
adalah berstatus buruh. Padahal jika berani mengambil risiko lebih besar, 
pemerintah bisa saja menutup kran impor beras sama sekali dan dengan begitu 
harga beras menjadi tinggi. Dengan harga beras tinggi, petani (dan buruh tani) 
bergairah menanam padi. Bahkan mungkin investor pun berlomba-lomba karena harga 
yang tinggi tersebut, sementara diversifikasi pangan pun terjadi. Dampak lain 
adalah berkurangnya urbanisasi karena tanpa perlu meninggalkan desa dan profesi 
petani, rakyat bisa hidup cukup. Bahkan mungkin dalam jangka menengah dan 
panjang, pemuda dan warga di pedesaan meyakini profesi petani memiliki prospek 
cerah. 

Namun, sekali lagi, semua ini hanya terjadi jika pemerintah (penguasa) memiliki 
komitmen menyejahterakan rakyatnya. Memang, jalan ini tidak mudah dan perlu 
waktu lama. Sementara kekuasaan relatif singkat, yakni lima tahun. Maka, 
daripada bersusah payah dengan pembangunan yang benar-benar prorakyat, lebih 
mudah menggunakan jalan pintas. 

Jadilah prorakyat hanya sebatas jargon dan hanya bertujuan meraih atau 
mempertahankan kekuasaan. Tidak lebih. Dan itulah yang terjadi di sepanjang 
2007, seperti di tahun-tahun sebelumnya dan bisa dipastikan masih akan terjadi 
di tahun-tahun mendatang. Entah sampai kapan, karena harus diakui, sulit benar 
memutus "lingkaran setan" semacam ini. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di awal tahun 2007 menyampaikan pidato awal 
tahun pada 31 Januari 2007. 

Presiden Yudhoyono hanya menyatakan, pidato awal tahun tersebut merupakan 
tradisi baru menggantikan pidato akhir tahun, mengingat pada Januari sudah 
diperoleh gambaran utuh semua yang telah dicapai tahun sebelumnya. Apalagi di 
akhir tahun biasanya DPR, parpol dan lembaga-lembaga kajian melakukan evaluasi 
atau refleksi kritis terhadap kinerja pemerintah. Presiden Yudhoyono sepertinya 
hendak menyatakan, pidato awal tahun adalah jawaban dari semua evaluasi dan 
refleksi kritis tersebut. 

Ketika itu Presiden Yudhoyono menyebutkan adanya enam permasalahan mendasar 
yang dihadapi bangsa ini. Keenam masalah mendasar itu adalah jumlah orang 
miskin yang masih tinggi, jumlah pengangguran yang besar, utang pemerintah yang 
juga masih besar, korupsi yang kronis (entah mengapa tidak disebut korupsi, 
kolusi dan nepotisme, namun hanya korupsi yang kronis), penegakan hukum yang 
lemah dan perekonomian yang masih rapuh. 

Karena itu, katanya, pembangunan ekonomi tetap menjadi fokus perhatian yang 
utama, yakni pertumbuhan yang disertai pemerataan. Tanpa komitmen pada 
kesejahteraan rakyat dan hanya berorientasi pada politik, terutama politik 
kekuasaan, rasanya mustahil mengatasi enam masalah tersebut. Bahkan kalau pun 
hanya ada dua atau satu masalah. Diperlukan sikap kenegarawanan, bukan sekadar 
manajer atau CEO untuk mengatasi persoalan bangsa yang sudah telanjur rumit. 

Siapa pun orangnya, presiden (dan pemimpin) di negeri ini sekarang (dan mungkin 
sampai lima tahun mendatang) memang harus menjadi "tukang cuci piring" untuk 
"pesta" berikutnya. Nah, mampukah menjadi "tukang cuci piring" yang tulus dan 
sekaligus mempersiapkan "pesta" sejati yang berikutnya, yakni "pesta" untuk 
rakyat, bukan "pesta" yang "jorok" seperti di masa lalu. [SP/YW Nugroho] 


Last modified: 19/12/07 

Kirim email ke