http://www.suarapembaruan.com/News/2008/01/14/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Konversi Minyak Tanah ke Gas 

Rakyat Makin Sengsara 
[JAKARTA] Kelangkaan minyak tanah di sejumlah daerah merupakan bukti tidak 
berhasilnya program pemerintah mengkonversi penggunaan minyak tanah ke gas. 
Warga di beberapa wilayah menjerit karena kondisi perekonomian keluarga yang 
sudah sulit, kini masih dibebani kelangkaan dan mahalnya minyak tanah. 
Sementara penggunaan gas dinilai belum ideal dan harganya tidak terjangkau. 
Demikian rangkuman wawancara SP dengan sejumlah warga di Jakarta, Bekasi, dan 
Tangerang, Sabtu (12/1) dan Minggu (13/1). 

Ira (45), warga RT 01/RW 07, Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, 
mengeluh sulit mendapatkan minyak tanah dalam sebulan terakhir. Selain minyak 
tanah yang masih menjadi primadona ibu-ibu rumah tangga dalam memasak ini sulit 
didapat, kompor dan tabung gas yang dijanjikan pemerintah juga tak kunjung ada. 
Konversi minyak tanah ke gas merupakan kebijakan pemerintah yang tidak berdasar 
karena harga gas juga tetap lebih tinggi dibanding minyak tanah. 

"Pemerintah harus menyediakan pasokan dan persediaan gas di pasaran yang cukup, 
sebagaimana minyak tanah. Jadi, pemerintah tidak boleh gegabah mengurangi 
pasokan minyak tanah. Itu sama saja menyengsarakan rakyat," tuturnya. 

Sedangkan Muryati (32), ibu rumah tangga, mengeluhkan kebijakan pemerintah yang 
selalu mempermainkan rakyat. "Sudah dua bulan saya mendaftarkan diri ke RT 
untuk mendapatkan tabung gas, kenyataannya hingga sekarang tidak ada. Sementara 
minyak tanah kosong di mana-mana. Bagaimana kita mau memasak?" ujarnya. 


Pilih Minyak 

Di Tangerang, sejumlah warga mengaku lebih suka menggunakan minyak tanah 
ketimbang gas. Warga yang sudah mendapat jatah tabung dan kompor gas hanya 
menggunakannya sampai isi tabung habis. Setelah itu, tabung dibiarkan teronggok 
tak dipakai, bahkan ada yang dijual Rp 100.000. 

Warga pun kembali menggunakan minyak tanah dan kayu bakar. Akibatnya, antrean 
minyak tanah marak kembali di Tangerang. Antrean hingga ke trotoar jalan, 
antara lain terlihat di Jalan Hasyim Ashyari, Kota Tangerang. 

"Sudah satu pekan kami sulit mendapat minyak tanah. Kelangkaan minyak tanah 
membuat terus naik dan jika beli di warung, harganya Rp 5.500 per liter," kata 
Ela (40), warga RW 07 Kelurahan Buaran Indah, Kecamatan Tangerang. 

Menurut Ela, dia tetap menggunakan minyak tanah karena takut memakai gas. Dia 
mengaku sudah mendapat tabung gas, tetapi isinya habis. "Saya merasa lebih 
nyaman gunakan minyak tanah. 

Harga gas Rp 14.000 itu sangat mahal. Kalau minyak tanah, cukup Rp 5.000 bisa 
untuk masak tiga hari. Suami hanya buruh dengan upah Rp 20.000 per hari. Kalau 
beli gas semua, uangnya habis, mana bisa beli beras?" ujarnya. 


Langka 

Sementara itu, Rodiah, pemilik pangkalan minyak tanah, mengatakan, antrean 
warga terjadi setelah Pertamina mengirim 5.000 liter minyak tanah ke pangkalan 
miliknya. "Minyak tanah ini untuk tujuan operasi pasar (OP) dan hanya dijual 
kepada warga saja," katanya menirukan petugas Pertamina. Hanya dalam waktu dua 
jam, 5.000 liter minyak tanah, habis dibeli warga. 

Pendapat yang sama dikemukakan H Kasirin (45), pemilik pangkalan minyak di 
Perumahan Pondok Permai Kotabumi. Menurutnya, penjualan minyak tanah merupakan 
program operasi pasar murah yang diselenggarakan pemerintah melalui PT 
Pertamina dengan pasokan sebanyak 5.000 liter. 

"Warga masih suka minyak tanah, jadi saya belum menjual gas," katanya. 
[HTS/ATW/ASR/132] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 14/1/08

Kirim email ke