http://www.surya.co.id/web/index.php/Umum_-_Politik/Mengapa_Habibie_Tak_Menjenguk_.html
Mengapa Habibie Tak Menjenguk?
Monday, 14 January 2008
HINGGA Minggu (13/1), sudah sepuluh hari mantan Presiden Soeharto dirawat
di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Selama itu, puluhan tokoh dan pejabat
sudah berdatangan menjenguk. Mulai Wapres Jusuf Kalla, sejumlah Menteri Kabinet
Indonesia Bersatu, termasuk para mantan menteri yang dulu menjadi pembantu
Soeharto. Namun, ada tokoh yang dulu dianggap sebagai orang paling dekat dengan
Soeharto justru belum sekalipun menjenguk hingga kemarin, yakni mantan Presiden
BJ Habibie. Bahkan tidak hanya Habibie. Santer menjadi rasan-rasan, 3-H belum
sekalipun menjenguk Soeharto, yakni Habibie, Harmoko (mantan Menteri Penerangan
dan mantan Ketua DPR/MPR), dan mantan KSAD Jenderal TNI Purn Hartono.
Konon, Soeharto masih enggan bertemu mereka, terutama terhadap BJ
Habibie. Humas The Habibie Center, Doddy Yudhista enggan berbicara banyak
ketika ditanya masalah ini.
Ia hanya mengisahkan, terakhir kali Habibie ingin bertemu Soeharto
terjadi pada awal Maret 2003 lalu. Waktu itu, Habibie yang pulang dari Jerman,
singgah di Indonesia. Ada beberapa acara yang harus diikutinya, termasuk
bersaksi di pengadilan mengenai kebijakannya melepaskan Timor Timur dari
pangkuan Ibu Pertiwi. Saat berada di tanah air itulah, mantan menteri riset dan
teknologi (menristek) itu sangat ingin bertemu Soeharto.
Namun, Soeharto ternyata tidak merespons keinginan Habibie tersebut.
"Hingga saat ini (permintaan bertemu itu) masih belum ada jawaban (dari pihak
Cendana)," ujar Doddy menjawab Surya, Sabtu (12/1) malam.
Tidak diketahui jelas mengapa Pak Harto enggan memberi waktu untuk
bertemu dengan yuniornya itu. Sampai Habibie balik ke kampung keduanya di
Jerman pada 22 Maret 2003, tak juga sempat bertemu dengan Soeharto.
Muladi, Ketua Institute for Democracy and Human Rights di The Habibie
Center, enggan menanggapi ketidakhadiran Habibie menjenguk Soeharto ke RSPP.
"Maaf, bapak (Muladi) tidak mau berkomentar soal itu. Ini sesuai imbauan Pak
Presiden (SBY), beliau tidak mau berpolemik," terang ajudan Muladi, meneruskan
perintah Muladi yang terdengar pelan.
Meskipun tidak pernah bertemu, BJ Habibie melalui Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI) mengimbau rakyat Indonesia agar mengingat jasa-jasa
besar Soeharto.
Saat pembukaan Silaknas pada Jumat (12/1) lalu, Ketua Presidium ICMI 2007
Nanat Fatah Natsir menangis tersedu ketika membacakan isi surat mantan Presiden
BJ Habibie yang mengingatkan agar semua kalangan mempertimbangkan jasa mantan
Presiden Soeharto.
Habibie menyampaikan isi hatinya kepada anggota ICMI melalui surat yang
ditulisnya dari Muenchen, Jerman. "Perkenankanlah saya menyampaikan isi hati
saya mengenai Pak Harto, tokoh generasi Angkatan 1945 yang selama 53 tahun
berturut-turut tanpa mengenal lelah selalu berada di ujung tombak perjuangan
bangsa," tutur Habibie dalam suratnya.
Ia mengatakan, tidak ada manusia yang sempurna dan hanya Allah SWT
sajalah yang akhirnya dapat menilai. Oleh karena itu dia mohon agar para tokoh
ICMI bersama tokoh nasional lainnya berkenan untuk mengusulkan agar kasus Pak
Harto dideponer.
"Saya yakin bahwa para hadirin yang hadir dan dimana saja ia berada dapat
menerima usulan saya mengenai Pak Harto yang sejak tanggal 21 Mei 1998, hampir
10 tahun lamanya saya tidak dapat bertemu. Dengan demikian peran generasi
angkatan 1945 diakhiri dan dicatat oleh sejarah dengan manis," ungkap Habibie
dalam suratnya.
Sedangkan dalam pernyataan resminya, ICMI mengimbau masyarakat Indonesia
memaafkan kesalahan Soeharto mengingat jiwanya kini dalam kondisi kritis. "ICMI
mendorong agar masyarakat bisa tulus ikhlas memaafkan Pak Harto," kata Hatta
Radjasa, Ketua Presidium ICMI, di Pekanbaru, Minggu (13/1).
Hatta didampingi Menkominfo M Nuh, Gubernur Riau HM Rusli Zainal, mantan
Ketua Presidium ICMI Nanat Fatah Natsir, dan Ketua ICMI Wilayah Riau Tengku
Dahril, mengeluarkan pernyataan tersebut kepada pers sebagai salah satu hasil
rekomendasi sidang pleno Silaknas ICMI.
Menurut Hatta, sebagai manusia, Pak Harto tentu tak lepas dari kesalahan,
tetapi harus juga dilihat betapa besar jasanya terhadap bangsa ini. Namun,
lanjut dia, terkait kasus hukum yang melibatkan Pak Harto, ICMI tidak akan
mencampurinya dan hal tersebut diserahkan kepada proses pengadilan.
Doa Harmoko
Sedangkan Harmoko, meski tidak menjenguk langsung di RSPP Jakarta, mantan
menteri penerangan ini menggelar doa untuk kesembuhan Pak Harto bersama sekitar
100 santri Pondok Pesantren (Ponpes) dan Padepokan Al Barakah di Patianrowo,
Nganjuk, Jawa Timur. Ponpes ini memang dipimpin oleh Harmoko.
Acara yang dimulai Sabtu (12/1) malam hingga Minggu dinihari itu diisi
pembacaan surat Yasin dan doa yang dipimpin KH Rosyidin Ali Said.
Dalam kesempatan tersebut, Harmoko berharap agar kesehatan mantan bosnya
itu segera pulih dan diberi kekuatan dalam menjalani sisa waktu hidupnya.
"Kepulangan saya dari Jakarta ke sini tidak ada maksud lain, kecuali hanya
mendoakan Pak Harto bersama para santri pondok dan padepokan," kata Harmoko.
Mengenai pro dan kontra di kalangan masyarakat terkait proses hukum
Soeharto, Harmoko tidak banyak memberikan komentar, kecuali menyerahkan
sepenuhnya kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden SBY. "Masalah itu
tergantung pemerintah, sekarang kita berbicara mengenai orang sakit, jadi harus
kita doakan agar lekas sembuh," kata menteri yang terkenal dengan ucapannya,
"menurut petunjuk Bapak Presiden" itu.
Harmoko mengingatkan, agar pemerintah dan masyarakat tetap menghormati
jasa-jasa Soeharto terlepas dari segala kekurangan yang dimilikinya. "Beliau
punya jasa yang cukup besar terhadap bangsa dan negara ini, tidak ada alasan
untuk tidak menghormati beliau sebagai mantan pemimpin di negeri ini, meskipun
masih ada kekurangan dan kesalahannya," kata mantan Ketua DPP Golkar itu.
jbp/had/ant
<<pdf_button.png>>
<<printButton.png>>
<<emailButton.png>>
