pikiran rakyat
Selasa, 15 Januari 2008 

Soeharto, Dosa Mental dan Sistemnya

Oleh Ajip Rosidi

Sudah lama orang berwacana tentang Soeharto yang pernah menjadi Presiden 
Republik Indonesia selama 32 tahun. Orang menduga, bangkrutnya negara kita 
adalah karena korupsi yang menggurita pada masa pemerintahan Soeharto. Namun, 
orang juga mengakui bahwa ia berjasa pada masa revolusi, di antaranya dengan 
memimpin penyerbuan "6 jam di Yogya" pada tahun 1949. Ada juga yang menganggap 
bahwa Soeharto yang membuat Indonesia pernah dianggap akan menjadi "harimau 
Asia" menyusul Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.

Bahwa Soeharto telah membuat bangkrut negara yang diakui kaya raya dengan 
minyak bumi dan tambang lain, hutan, isi laut, adalah kenyataan yang sulit 
dibantah. Bahwa pada masa pemerintahannya, Indonesia dianggap maju ékonominya, 
dipuji oleh negara-negara maju dan lembaga-lembaga internasional seperti Bank 
Dunia dan IMF, sekarang kita tahu, hanya semacam konspirasi untuk kepentingan 
vested interest mereka. Dengan bantuan Soeharto sebagai presiden, mereka 
leluasa menguras kekayaan negara kita.

Mereka tak henti-hentinya memuji kemajuan ekonomi kita walaupun orang yang 
matanya awas sejak awal akan tahu bahwa tidak mungkin negara ekonominya menjadi 
maju kalau digerogoti oleh korupsi. Korupsi memang menjadi bagian dari 
pemerintahan Soeharto yang mereka puji-puji itu.

Dengan melembagakan sistem "projek" Soeharto sepertinya "sengaja" memberi gaji 
yang jauh dari cukup buat para pegawai negeri, tetapi memberi kesempatan untuk 
mencari tambahan melalui projek. Dengan demikian, semua orang yang diberinya 
wewenang pada suatu jabatan, mendapat kesempatan untuk bersama-sama memperkaya 
diri secara melanggar hukum, tetapi terlindungi oleh sistem yang sengaja 
dibangun untuk itu sehingga tidak ada yang berani menuduh yang lain maling 
karena dia sendiri juga melakukannya.

Itulah yang dikenal dengan sebutan "korupsi berjemaah". Oleh karena itu, 
sesudah jatuh dari kedudukannya sebagai presiden, tak ada aparat hukum yang 
berani menyeret Soeharto ke pengadilan karena mereka tahu kalau Soeharto 
diadili, mereka pun akan terbawa serta. Selama hampir sepuluh tahun, kita 
menyaksikan sandiwara pengadilan Soeharto yang mundur-maju.

Namun, dosa Soeharto bukan cuma korupsi seperti dugaan banyak orang. Dosanya 
yang paling besar ialah karena selama memerintah dia telah menumbuhkan 
mentalitas korupsi yang kemudian menyebar menjadi bagian dari kebudayaan 
bangsa. 

Di samping itu, pemerintahan Soeharto telah menumbuhkan dengan sengaja iklim 
yang membuat warga negaranya bermental rakyat jajahan yang menganggap pejabat 
sebagai penguasa yang berwewenang menentukan baik dan buruk, benar dan salah, 
dan menentukan arah hari depan, sementara rakyat sendiri harus terus bungkam.

Rakyat tidak diberi kesempatan ikut menentukan rencana pembangunan yang sesuai 
dengan cita-cita dan kemampuan mereka. Rakyat tidak boleh punya pikiran yang 
berlainan dengan pemerintah. 

Mereka yang berani mengemukakan pendapatnya sendiri yang berbeda, apalagi kalau 
berlawanan dengan pikiran yang resmi, akan disebut "vokal", "anti-Pancasila", 
"komunis", "Islam ekstrem", "teroris", dan semacamnya dan "dilempar" keluar 
sistem. Mereka disamakan dengan orang berpenyakit lepra yang tak boleh diajak 
bergaul dalam masyarakat. 

Melalui indoktrinasi P-4 maupun yang lainnya, kebebasan berpikir dan hati 
nurani dibunuh.

Soeharto juga menggunakan tentara bukan untuk kepentingan seluruh bangsa, 
melainkan untuk memperkokoh kedudukan dan sistemnya. Sistem dwifungsi yang 
konsepnya dibuat oleh Jenderal A.H. Nasution oleh Soeharto (meskipun Nasution 
sendiri disingkirkan) digunakan secara efektif dan efisien. Dengan dia sendiri 
berpangkat sebagai Jenderal (kemudian Jenderal Besar) dan menjadi Panglima 
Tertinggi Angkatan Bersenjata, dia dapat menentukan arah dan fungsi tentara 
demi kepentingan pribadi dan sistemnya. 

Dwifungsi menempatkan anggota tentara sebagai warga negara kelas satu yang 
dapat menduduki jabatan apa saja walaupun di luar kemampuannya. Apalagi, karena 
para perwira yang mendapat kedudukan dalam ketentaraan atau di luarnya itu 
mendapat kesempatan untuk menjadi kaya tanpa batas. 

Pemupukan pemimpin tidak berjalan wajar dari bawah karena pemerintah selalu 
turut campur terhadap hasil pemilihan ketua ormas dan parpol dan selalu 
menyingkirkan pemimpin yang terpilih dalam kongres atau muktamarnya apabila 
tidak sesuai dengan kehendak pemerintah atau dianggap tidak punya pikiran yang 
sejalan atau mau sejalan dengan pikiran resmi pemerintah. 

Kalau ada pemimpin yang memperlihatkan prestasi yang bagus sehingga menjadi 
populer di kalangan rakyat, dan dianggap bisa menjadi saingannya, Soeharto 
langsung mengucilkannya sehingga keluar dari "sistem". Yang menonjol adalah H. 
Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta (1966-1977) yang telah berhasil membangun 
ibu kota sehingga menjadi kebanggaan rakyatnya. 

Artinya, prestasinya sebagai administrator boleh dikatakan luar biasa. Setelah 
habis masa jabatannya, oleh Soeharto hanya diberi kesempatan memimpin urusan 
sepak bola. Ditutup segala kemungkinannya untuk muncul sebagai pemimpin 
masyarakat apalagi sebagai administrator dalam pemerintahan, lalu hak-hak 
sipilnya dilucuti secara tidak resmi dan aktivitasnya diberangus.

Artinya, Soeharto telah menyia-nyiakan orang yang punya bakat mengatur 
pemerintahan, padahal orang yang begitu sangat jarang di Indonesia. Hal itu 
akibat dari mental dan sistem yang dibangun Soeharto.

Dengan alasan bahwa pembangunan ekonomi harus didahulukan, pemerintah Soeharto 
mengabaikan pembangunan bidang-bidang lainnya, terutama bidang politik yang 
bahkan dengan sengaja dijauhi karena dianggap menghalangi pembangunan ekonomi. 
Nasionalisme dikalahkan globalisme yang masuk ke negeri kita didukung oleh 
modal besar dan sistem kapitalisme.

Sekarang, setelah munculnya pengakuan John Perkins dan berbagai studi lain 
menjadi jelas bahwa hal itu direncanakan untuk kepentingan perusahaan di 
negara-negara maju yang hendak mengeruk kekayaan negara kita. Presiden Soeharto 
dengan sistemnya, seperti juga presiden-presiden lain di negara-negara lain 
yang kaya minyak, dijadikan alat kaum kapitalis itu dengan memberinya 
kesempatan untuk melakukan korupsi. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana 
kepentingan mereka dilindungi oleh rezim yang didukungnya.

Soeharto bukan saja telah melakukan korupsi yang oleh PBB dianggap paling besar 
di dunia, melainkan juga telah merusak mentalitas bangsa kita secara 
keseluruhan sehingga kita menjadi bangsa paria di antara bangsa-bangsa lain. 
Kalau besarnya korupsi mungkin dapat (kalau mau!) diusut jumlahnya dan mungkin 
uangnya dapat diambil kembali, tetapi kerusakan yang ditimbulkan dalam 
mentalitas bangsa yang menjadi busuk sukar dihitung, dan kita tidak tahu 
bagaimana cara mengobatinya serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk 
itu.***

Penulis, budayawan

Kirim email ke