http://www.sinarharapan.co.id/berita/0801/15/sh03.html

Indonesia Terbelenggu Sistem Kapitalis
Kesejahteraan Rakyat Sulit Tercapai



Jakarta - Angka pertumbuhan ekonomi dinilai tidak dapat menjawab kebutuhan 
kesejahteraan rakyat sepanjang Indonesia masih terbelenggu sistem kapitalis 
gaya Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat. Atas nama kebebasan, sistem tersebut 
sejatinya melahirkan diskriminasi antara orang miskin dan orang kaya. 


Alasannya, kebebasan yang diterapkan saat ini hanya menguntungkan orang kaya, 
sedangkan usaha milik rakyat tidak didukung dana supaya bisa bersaing secara 
bebas dengan pemilik modal besar. Pendapat tersebut disampaikan Aktivis Malari 
1974 Hariman Siregar ketika diwawancara di Jakarta, Selasa (15/1).


Peristiwa Malari terjadi tepat 34 tahun yang lalu, saat rakyat tidak sepakat 
dengan kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Soeharto karena "berkiblat" pada 
liberalisasi. Dalam sistem ini, kesejahteraan hanya dihitung berdasarkan 
pertumbuhan ekonomi, sementara hubungan kerja antara antara rakyat dengan 
pengusaha dan penguasa tidak diperhitungkan. Ini mengakibatkan kepemilikan 
modal hanya terpusat pada kroni-kroni Soeharto. 


"Tapi kan waktu itu, Soeharto ngotot ketimbang mendengar kritikan mahasiswa. 
Malah kami akhirnya ditangkapi dan dibilang melakukan pembakaran. Sekarang 
pengaruhnya sangat buruk karena ekonomi yang seharusnya didistribusikan untuk 
rakyat hanya terpusat pada segelintir orang. Generasi sekarang harus menanggung 
itu," kata Hariman. 


Menurutnya, saat ini yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah keluar dari 
jeratan ekonomi kapitalisme dan menekan upaya yang mengarah pada 
neoliberalisasi, apalagi, pemimpin yang ada saat ini mendapatkan mandat dari 
rakyat saat pemilu 2009. Tanpa adanya kepemimpinan yang kuat, mustahil 
penciptaan ekonomi yang berbasis kerakyatan seperti cita-cita pendiri bangsa 
akan dapat diwujudkan. 


Pemerintah, lanjutnya, juga perlu merombak nilai-nilai kebebasan dan hak asasi 
manusia (HAM). Saat ini, nilai kebebasan yang dianut adalah semua pihak bebas 
bersaing, demikian pula antara kaya dan miskin dengan alasan HAM. 


Nilai seperti ini padahal semu karena bagaimana pun juga orang miskin tidak 
memiliki uang sehingga bisa bebas berpolitik maupun menjalankan usahanya. 
Kesamaan nilai kebebasan antara kaya dan miskin hanya akan membuat jurang 
kesenjangan yang semakin lebar. 


"Ekonomi kapitalis hanya bicara profit. Semua kebutuhan dijawab dengan impor. 
Seperti kedelai ini, bukannya penguatan produksi dalam negeri malah pajaknya 
dihapuskan. Hubungan kerja tidak akan dipikirkan karena orientasinya profit. 
Kalau kita pilih sistem seperti ini, rakyat hanya menjadi asing di negara ini, 
karena kekayaan sudah digerus," paparnya. 

Jalan Amerika Latin. Sementara itu, aktivis Malari lainnya, Joppie Lasut, 
mengatakan pemerintah saat ini memberikan gambaran semu tentang perekonomian 
rakyat. Pemerintah hanya terpaku pada masalah ekonomi makro, sedangkan ekonomi 
mikro yang terkait langsung dengan sektor riil sama sekali tidak diperhatikan. 
Dalam soal sistem penggajian pun, terjadi jurang antara jabatan di tingkat atas 
dengan tingkat bawah padahal angka inflasi semakin tinggi. 
Ini membuat rakyat yang miskin bertambah sengsara karena tak memiliki modal 
untuk berusaha maupun menentukan pilihan politiknya. Politik sangat perlu untuk 
menempuh perubahan. 

Karena itu, jika pemerintah konsisten pada wacananya untuk meningkatkan ekonomi 
rakyat, jalan seperti yang dilakukan oleh negara-negara Amerika Latin harus 
dilakukan, sekalipun usaha untuk menggoyahkan langkah tersebut akan banyak 
dilakukan oleh ekonom di dalam negeri yang bekerja sama dengan kapitalisme 
global. 


"Dulu negara-negara barat itu mengembargo Amerika Latin. Tapi sekarang ketika 
Amerika Latin sudah memperlihatkan sebagai bangsa yang baik secara 
perekonomiannya, mereka yang mengembargo berlomba-lomba untuk menanamkan 
investasi lagi," paparnya. 

Tidak Mandiri
Ekonom Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM Fahmi Radhi menyatakan pemerintah 
tidak akan mampu menciptakan masyarakat yang sejahtera jika tidak berani 
menunjukkan kemandirian dalam membuat kebijakan ekonomi-politik. "Pelajaran 
dari pemerintahan di Amerika Latin seperti Venezuela, Bolivia, atau Argentina 
adalah mereka berani kritis dan tidak mengikuti kebijakan ekonomi politik 
neoliberalime/neokapitalisme," katanya. Keberanian untuk menciptakan 
kemandirian dan kedaulatan ekonomi merupakan syarat mutlak untu menciptakan 
kesejateraan masyarakat.


Pembangunan ekonomi-politik yang terjadi pada masa Soeharto adalah semu karena 
hanya mengandalkan utang luar negeri. Akibatnya, dampak negatifnya terasa 
sampai hari ini, mayoritas rakyat Indonesia miskin dan hanya segelintir elite, 
yakni Soeharto dan kroni-kroninya yang hidup sejahtera. "Siapapun pemimpin di 
Indonesia kalau dalam memilih kebijakan ekonomi-politik seperti Soeharto yang 
hanya mendasarkan parameter Bank Dunia, IMF, ADB, ataupun kacamata Washington, 
mana mungkin bangsa ini akan makmur dan sejahtera," katanya. 


"Indonesia tidak perlu terintimidasi dengan jargon-jargon dengan 
mengatasnamakan kepentingan investasi asing dan hal-hal lain yang tidak sesuai 
dengan kebutuhan bangsa," katanya. Faktor geopolitik yang terdiri dari ribuan 
pulau dan keanekaragaman budaya, agama dan lainnya seharusnya bisa sumber 
kekuatan bukan dilihat sebagai penghalang. 


Menurutnya, kekayaan alam dan sumber daya manusia anugerah Tuhan yang melimpah 
tidak akan berarti jika Indonesia hanya menjadi bangsa penurut. "Indonesia 
hanya akan menjadi bulan-bulanan negara-negara lain pengikut neoliberalime," 
katanya. Pendekatan kebijakan ekonomi-politik neoliberalisme yang ditempuh 
sejak Era Soeharto (Rezim Diktaktor Orde Baru) harus ditinggalkan. 
(tutut herlina/si

Kirim email ke