http://www.bangkapos.com/opini/cd276c8c96453c19e752bab8b66dfd5a/75/baca/0/7/0/0/2008/Januari/16/0
Menatap Perfilman Indonesia 2008
edisi: Rabu, 16 Januari 2008 WIB
Penulis: Brahmanto Anindito
yudhi
Menatap Perfilman Indonesia 2008
..orang-orang di negara maju berani berjalan kemana-mana dan bekerja hingga
larut malam, orang kita? Melangkahkan kaki sedikit sudah ketakutan,
jangan-jangan di situ muncul sundel bolong, genderuwo, pocong, hantu jeruk
purut, kuntilanak, siluman babi, leak, suster ngesot, Nyi Loro Kidul, si manis
jembatan Ancol ... alamak! Banyak sekali sosok yang wajib ditakuti warga
Indonesia!
TAHUN 2007 sudah habis. Di tahun itu, industri perfilman kita telah sukses
merilis 49-an film bioskop. Tiga besar sementara adalah Nagabonar Jadi Dua
(film komedi dengan 1,3 juta penonton), Get Married (film Komedi dengan 1,2
juta penonton), dan Terowongan Casablanca (film Horor dengan 1,1 juta penonton).
Saya tulis sementara karena ada film yang berpeluang menyodok ke posisi tiga
besar itu, seperti Quickie Express (komedi) dan film horor (komedi). Cuma
lantaran rilis mereka baru November 2007, belum bisalah kita membandingkannya
dengan film-film lain yang telah mencapai ujung lifecycle-nya pada tahun yang
sama.
Apa saja genre ke-49 film tersebut? Tak banyak berubah, tetap didominasi oleh
horor, dan disusul percintaan. Sebenarnya, film drama diproduksi lebih banyak.
Namun kalau genre yang memang terlampau luas itu dipecah-pecah menjadi subgenre
seperti drama percintaan, drama komedi, maka hororlah yang nomor satu.
Republik Mistik
Sekitar 20 film atau 41 persen dari total film 2007 bernuansakan horor semua.
Tampaknya, industri perfilman Indonesia masih menganggap genre ini sebagai
jimat bagi kelarisan film. Memang, dalam tahun-tahun belakangan 'jimat'
tersebut terbukti keampuhannya. Apalagi ada bonus tambahan membuat film horor
jatuhnya lebih murah dibanding genre drama. Salah satu sebabnya, film horor
tidak membutuhkan bintang top, cukup pendatang baru.
Bandingkan saja dua film dari sutradara yang sama (Hanung Bramantyo) ini. Bujet
Get Married adalah sekitar 4,5 milyar, sementara Legenda Sundel Bolong hanya
perlu dana di kisaran 2,5 milyar. Itupun sudah tergolong besar. Kadang-kadang
bujet sebuah film horor bisa ditekan di bawah angka 2 milyar rupiah. Tapi tetap
laris bak kacang goreng! Soal ini sangat bisa jadi dipengaruhi oleh
karakteristik penonton Indonesia.
Diakui atau tidak, film-film bergenre horor tumbuh subur lantaran penonton
begitu menikmatinya. Kita ini senang sekali ditakut-takuti. Tidak ada yang
salah dengan fakta itu. Seseorang menonton film laga supaya dibuat tercengang
dan ikut ngos-ngosan. Menonton film komedi agar dibuat tertawa ngakak. Menonton
film horor, apa lagi tujuannya kalau bukan supaya dibuat ketakutan? Sepintas
tidak ada yang salah, memang.
Tapi apapun kalau berlebihan pasti ada efek sampingnya. Tidak usah membicarakan
anak kecil (karena perkembangan jiwa anak yang terbiasa ditakut-takuti dan anak
yang dibiarkan tumbuh tanpa dicekoki tahayul jelas-jelas beda). Sementara
orang-orang di negara maju berani berjalan kemana-mana dan bekerja hingga larut
malam, orang kita? Melangkahkan kaki sedikit sudah ketakutan, jangan-jangan di
situ muncul sundel bolong, genderuwo, pocong, hantu jeruk purut, kuntilanak,
siluman babi, leak, suster ngesot, Nyi Loro Kidul, si manis jembatan Ancol ...
alamak! Banyak sekali sosok yang wajib ditakuti warga Indonesia!
Masyarakat kita mau-maunya membuang waktu untuk mempelajari dunia yang
seharusnya bukan urusan manusia itu. Coba, mengapa dukun togel masih juga
laris? Mengapa orang percaya pada kartu tarot? Sebagian anak muda yang
seharusnya merupakan generasi berpola pikir modern pun bergantung pada zodiak
dalam menjalani hidupnya (kalau tidak, mengapa rubrik 'ramalan bintang' di
media-media remaja/kosmopolitan masih ditunggu-tunggu juga?).
Orang bilang, masyarakat kita spiritualis (baca: terlalu banyak 'percaya'. Jadi
bagaimana mungkin perfilman Indonesia bisa lepas dari genre-genre klenik?
Mustahil! Bagi yang tidak suka dengan genre ini, siap-siap saja kecewa. Karena
horor, mistik, klenik dan kawan-kawannya masih akan terus diproduksi di tahun
2008.
Meskipun demikian, ternyata keadaan belum sepesimis itu. Harsiwi Achmad,
Direktur Program televisi swasta, pernah mengatakan kalau stasiun televisinya
berkomitmen menghindari film yang mengangkat kisah-kisah mistik atau kehidupan
gelap. Misalnya pocong-pocongan, hantu-hantuan, atau setan yang mengeksplorasi
kejahatan dan kegelapan.
Komitmen yang patut diacungi jempol. Entah bagaimana stasiun TV lainnya. Yang
jelas, di tahun 2006 saja KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) menerima 199
pengaduan masyarakat tentang tayangan mistik. Itu belum termasuk film-film
bioskop yang kita bicarakan di awal-awal tadi.
Pasar Bicara Lain
Sekali lagi keadaan belumlah sepesimis itu. Kalau kita meneropong kembali tahun
2007, kita akan melihat bahwa ternyata sebuah pergeseran tren sedang terjadi.
Posisi film terlaris tahun 2007 dan runner up-nya justru dipegang film non
horor, atau tepatnya film komedi. Setelah itu baru judul-judul semacam
Terowongan Casablanca (horor), Suster N (horor), Malam Jumat Kliwon (horor
lagi), Pocong 3 (lagi-lagi horor), Kuntilanak (idem), Bukan Bintang Biasa (baru
drama percintaan), dan Lawang Sewu (horor).
Hegemoni horor masih terasa, namun dia bukan lagi yang terlaris. Masyarakat
mulai jenuh. Yang berjaya di festival-festival film pun genre komedi, dalam hal
ini diwakili Get Married, Nagabonar Jadi 2, Mengejar Mas-Mas, dan Maaf, Saya
Menghamili Istri Anda. Tengok saja, Nagabonar Jadi 2 memperoleh penghargaan
film terpilih, film terlaris. Penulis naskah terpilih dan pemeran pembantu pria
terpilih pada Festival Film Jakarta. Film besutan Deddy Mizwar itu juga
merajalela di Festival Film Indonesia 2007.
Syukurlah, ternyata mencari sesuap nasi tak perlu dengan terus-terusan
mengeksploitasi tahayul dan tuyul. Komedi pun bisa keren. Merespon pergantian
hembusan tren ini, beberapa film komedi bahkan sudah diproduksi pada tahun 2007
lalu untuk dirilis tahun ini. Salah satunya 'Otomatis Romantis' yang dibintangi
Tukul Arwana.
Lantas, apakah genre ini yang akan menjadi primadona di tahun 2008? Entahlah.
Satu yang pasti, film-film komedi yang disebut di sini bukan komedi-komedi
slapstik dan klise seperti yang masih banyak dipertahankan stasiun-stasiun TV
kita. Ini adalah komedi-komedi yang dikemas secara elegan dan cerdas. Di
sinilah kita patut menatap perfilman Indonesia 2008 dengan optimisme.
Tapi alangkah bagusnya kalau hadir semakin banyak variasi dalam perfilman kita.
Action, thriller, petualangan, musikal, bahkan animasi. Bagaimana, Bapak atau
Ibu Produser? (*)
(* Penulis Adalah Peneliti film-komik-sastra di komunitas Warung Fiksi)
showhs.php?id=1200
Description: Binary data
