http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=190588

       MASALAH PANGAN
      Harga Bergejolak karena Ketergantungan pada Impor 

      HS Dillon, Pengamat Pertanian 

      Kamis, 17 Januari 2008
      JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah dinilai tidak sungguh-sungguh 
mengembangkan sektor pertanian di Tanah Air, sehingga selalu tergantung pada 
impor untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Hal ini terus terjadi dan semakin 
menggejala pasca-krisis ekonomi 1997-1998. 

      Indonesia sendiri kini semakin menggantungkan kebutuhan bahan pangan 
kepada impor, karena sektor pertanian dalam negeri bergerak tanpa proteksi atau 
terabaikan. Bahkan perlindungan yang semula dilakukan pemerintah praktis hilang 
sejak panandatanganan letter of intent (LoI) dengan Dana Moneter Internasional 
(IMF) pada tahun 1998. Akibatnya, kondisi pasokan dan harga komoditas pangan 
selalu bergejolak, baik akibat pengaruh eksternal maupun tindakan spekulasi di 
dalam negeri. 

      Penilaian di atas merupakan rangkuman pendapat dari berbagai 
sumber--pengamat pertanian HS Dillon, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, 
pengamat ekonomi Hendri Saparini, Ketua Komisi VI DPR Totok Daryanto, dan Ketua 
Fraksi PAN DPR Zulkifli Hasan--yang dihubungi secara terpisah, di Jakarta, 
kemarin. Mereka menanggapi gejolak pasokan bahan baku dan harga pangan yang 
ujung-ujungnya menyusahkan rakyat. 

      Bahkan, dengan nada lebih keras mengomentari terjadinya lonjakan harga 
kedelai akhir-akhir ini, HS Dillon menyebutkan hal itu mencerminkan "wajah 
buruk" pemerintahan yang kurang berpihak kepada rakyat. Padahal, beberapa tahun 
lalu pemerintah telah mencanangkan program pembangunan sektor pertanian 
bertajuk "Revitalisasi Pertanian" yang dikampanyekan secara nasional. 

      "Namun dalam pelaksanaannya tampak seperti tak sungguh-sungguh. Saat ini 
petani masih kesulitan mendapatkan bibit bersubsidi. Sementara pupuk bersubsidi 
bukan ditujukan kepada petani tetapi kepada produsen pabrik dan itu pun 
terkadang diselewengkan," kata Dillon. 

      Menurut dia, para petani maupun buruh tani di Indonesia saat ini juga 
tampak seperti kehilangan harapan untuk terus melakukan usaha pengembangan 
tanaman pangan, termasuk kedelai. "Oleh karena itu diperlukan perangkat 
insentif, terutama dari sisi harga dan efisiensi biaya. Petani akan memiliki 
harapan jika pada saatnya nanti usaha yang dilakukan memberikan hasil," ujar 
Dillon. 

      Tanaman pangan semusim seperti kedelai, lanjutnya, memang akan mengalami 
fluktuasi harga, yaitu tinggi di saat paceklik dan anjlok di saat panen. Namun, 
untuk itulah pemerintah harus mengatur agar disparitas harga tidak terlalu 
jauh. Dalam hal ini, pemerintah tidak bisa lepas tangan dalam urusan pangan. 
Apalagi era di mana harga pangan murah sudah berlalu, sehingga pemerintah harus 
turun tangan menangani masalah itu. 

      "Harga komoditas pangan akan terus naik. Tidak hanya akibat perubahan 
iklim tetapi juga karena pengembangan energi alternatif dari komoditas pangan. 
Sekalipun kalangan petani dan buruh tani merupakan rakyat kecil, tetapi mereka 
juga memiliki kemampuan. Pemerintah harus memahami masalah dan memberdayakan 
mereka untuk mengembangkan ketahanan pangan," tuturnya. 

      Sementara itu, Rizal Ramli mengatakan, masalah pokok berkaitan dengan 
harga kedelai yang meningkat akhir-akhir ini adalah akibat jumlah produksi 
kedelai dalam negeri yang tidak mencukupi. "Solusinya, produksi kedelai harus 
lebih banyak lagi. Ini dilakukan sekaligus supaya ada kedaulatan ekonomi dalam 
bidang pangan," kata Rizal. 

      Dia menyebutkan, negara maju dan kaya seperti Amerika Serikat dan 
negara-negara di Eropa masih menerapkan proteksi kalau sudah menyangkut soal 
pangan. "Semua negara tahu kalau kedaulatan pangannya harus dipertahankan. Tapi 
di Indonesia justru sebaliknya," ujarnya. 

      Menurut dia, penurunan bea masuk (BM) impor kedelai hanya solusi jangka 
pendek. Untuk jangka panjang, seharusnya petani dalam negeri didorong untuk 
meningkatkan produksi kedelai karena menguntungkan. "Masalah utama kita adalah 
produksi. Itu dulu yang harus diselesaikan," tuturnya. 

      Hal senada diungkapkan Hendri Saparini. Menurut dia, Indonesia seharusnya 
bisa mempertahankan kedaulatan pangan. "Negara-negara Barat yang paling liberal 
pun, kalau sudah menyangkut pangan, pemerintahnya akan turun tangan. Jadi tidak 
sepenuhnya diserahkan kepada pihak swasta," kata Hendri. 

      Dia juga menganggap bahwa kemelut yang melanda industri tahu dan tempe 
disebabkan lonjakan harga kedelai akhir-akhir ini seharusnya tidak terjadi. 
Apalagi Indonesia merupakan negara agraris, di mana 70 persen masyarakatnya 
petani. 

      Secara terpisah, Totok Daryanto mengemukakan, sejak dulu, Indonesia 
sangat bergantung pada komoditas pertanian. Tetapi, ironisnya sektor pertanian 
nasional bergerak tanpa perlindungan. "Untuk tempe saja, kita harus bergantung 
pada kedelai impor. Padahal, sekitar puluhan juta rakyat sangat tergantung 
kepada tempe," kata Totok. 

      Gejolak harga kedelai ini, menurut Totok, akan menimbulkan kerawanan 
sosial, apalagi jika berlanjut dengan kebangkrutan industri tahu-tempe yang 
sebagian besar berskala kecil. Selanjutnya, kebangkrutan industri tahu-tempe 
akan memperpanjang deret angka kemiskinan dan pengangguran. 

      Di lain pihak, Zulkifli Hasan meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha 
(KPPU) mengusut praktik oligopoli oleh kartel yang menguasai perdagangan 
kedelai impor, terkait melonjaknya harga kedelai di dalam negeri. Sistem 
perdagangan dan impor kedelai saat ini bersifat oligopoli, karena dikuasai 
segelintir importir. Dan berdasarkan pergerakan harga yang berkembang selama 
ini, terlihat adanya indikasi kartel, sehingga KPPU wajib menindaklanjuti 
indikasi pengendalian harga kedelai oleh importir. 

      "Kebijakan pemerintah dalam kasus kedelai bersifat liberal dengan 
membiarkan petani tradisional berhadapan langsung dengan pasar global. Pemain 
impor kedelai hanya segelintir orang, namun memiliki modal yang kuat 
untukmengendalikan pasokan dan harga. Jadi kebijakan pemerintah tersebut tidak 
tepat karena tidak sedikit pun melindungi kepentingan petani. Karena itu, 
pemerintah harus mengubah kebijakannya," katanya. 

      Akibat pembiaran oleh pemerintah ini, menurut Zulkifli, sistem produksi 
dan ketahanan pangan, khususnya kedelai, sangat rentan dan cenderung menurun 
selama satu dekade terakhir. Padahal kebutuhan pasokan idustri tempe, tahu, 
kecap, dan lainnya terus meningkat sehingga mutlak tergantung pada impor. 

      "Ini menyedihkan, karena negara agraris sebesar Indonesia menggantungkan 
diri, industri, dan rakyatnya pada impor. Koordinasi di instansi pemerintah 
terkait selama ini kurang sinergis sehingga perlu ditingkatkan. Setidaknya 
Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Perum Bulog, Menko Perekonomian, dan 
kementerian terkait lainnya sudah membangun sistem pasokan serta perdagangan 
komoditas pangan nasional yang baik. Pemerintah perlu membangun sistem produksi 
yang intensif, efisien, dan produktif," tutur Zulkifli. (Indra/Andrian/Rully)  

Attachment: news_icon.html?id=190588
Description: Binary data

Kirim email ke