http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=319973&kat_id=16

Rabu, 16 Januari 2008

Potret Buram Sektor Pertanian 
Oleh : Agus Suman Ph.D
Dosen Ekonomi Universitas Brawijaya

Stigmatisasi bahwa petani Indonesia adalah wajah kemiskinan dari hari ke hari 
semakin jelas. Meski ikrar Indonesia sebagai negara agraris dan keberpihakan 
telah dicanangkan, nasib para petani masih terjebak pada ranah kemiskinan.

Gambaran kemakmuran dan kemajuan sektor ini sulit disebutkan. Justru 
permasalahan yang dapat di hidangkan, dari rendahnya harga gabah, langkanya 
pupuk, maupun kekeringan. Semua itu masih menggenangi wilayah pertanian. 
Bagaimanakah nasib petani Indonesia ke depan?

Pertanyaan seperti ini tentu sulit dijawab karena kondisi yang ada adalah 
potret buram. Kejayaan sektor ini semakin hari semakin meredup. Masalah-masalah 
sektor ini semakin menjulang dan kompleks.

Petani menjadi semakin asing dan terpinggirkan di tengah kemajuan dan 
pembangunan yang sedang kita lalui. Hiruk-pikuk kemajuan yang dicapai sama 
sekali tidak menyisakan kebahagiaan pada sektor ini.

Revitalisasi pertanian dan pencanangan keberpihakan pemerintah pada sektor ini 
masih berputar pada tataran konsep dan wacana, sementara kenyataan yang 
menghadang semakin membuat petani sulit bernapas. Bagaimana harus meyakinkan 
bahwa kondisi pertanian kita benar-benar dalam kesulitan dan membutuhkan 
perhatian serta perawatan agar tidak benar-benar hancur? Bagaimana juga harus 
menunjukkan bahwa ketidakberpihakan pada pertanian saat ini akan melahirkan 
bencana pada masa depan? 

Beberapa gambaran berikut menunjukkan betapa sektor pertanian semakin 
memprihatinkan. Data kemiskinan BPS dapat menjadi gerbang awal untuk melihat 
kronisnya kondisi sektor ini. 

Jumlah rakyat miskin di Indonesia 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total 
penduduk. Sebanyak 23,61 juta penduduk miskin itu berada di daerah perdesaan 
dan umumnya terlibat atau berhubungan dengan sektor pertanian. Bahkan, 72 
persen kelompok petani miskin adalah dari subsektor pertanian pangan (BPS, 
2007).

Data lain menunjukkan laju konversi lahan pertanian relatif tinggi. Jika tahun 
2002 konversi lahan pertanian baru mencapai 110 ribu hektare, pada empat tahun 
terakhir melonjak menjadi 145 ribu hektare. Informasi ini memberi indikasi 
tentang semakin tidak menariknya sektor pertanian dibanding dengan sektor lain. 

Mengonversi lahan pertanian menjadi perumahan dan industri lebih mendapat 
tempat di hati petani karena hasil panen dari tahun ke tahun sering tidak mampu 
mencukupi kebutuhan. Karena itu, menjual lahan seakan menjadi pilihan akhir 
yang lebih manusiawi.

Semakin merosotnya pertumbuhan sektor ini mungkin dapat membuka mata kita bahwa 
sektor yang menopang kebutuhan dasar ternyata jauh dari kondisi sehat, seperti 
terus merosotnya pertumbuhan sektor ini atau subsektor pendukungnya. Sebagai 
ilustrasi, pada awal 2000 subsektor pangan hanya tumbuh 1,62 persen. 

Tahun 2004 memang sedikit naik karena tumbuh dengan 2,81 persen. Namun, 
dibanding dengan rata-rata pertumbuhan antara tahun 1978 sampai 1986, saat 
pertumbuhannya lima persen (FAO), maka yang dialami beberapa tahun terakhir 
menunjukkan kemunduran cukup signifikan.

Di sisi lain, jumlah penduduk yang harus dipenuhi kebutuhan dasarnya terus 
meningkat. Pada 2000 penduduk Indonesia 205,8 juta jiwa, lalu pada 2005 naik 
menjadi 219,2 juta jiwa dan pada 2007 sudah mencapai 224,3 juta jiwa. Informasi 
yang terakhir ini mengindikasikan betapa seriusnya tantangan dalam memenuhi 
kebutuhan pangan masyarakat.

Pada titik tertentu ketika pertumbuhan penduduk tidak terkejar oleh pertumbuhan 
subsektor pangan, sementara kebutuhan akan pangan tidak mungkin untuk 
dihentikan, maka sudah barang tentu kebijakan impor bahan pangan menjadi sebuah 
solusi. Tetapi, inilah gerbang persoalan lain lagi karena sudah menjadi rahasia 
umum bahwa impor kebutuhan pokok dari berbagai negara menjadi prolog dari 
episode buram sektor pertanian.

Celakanya, atas nama kestabilan harga, pemerintah terus melakukan impor barang 
kebutuhan pokok tersebut. Misalnya, pemerintah mengimpor 40 ribu ton beras 
kualitas premium dari Thailand. Padahal, bahan pokok beras jenis super 
(premium) selama ini diwakili oleh beras Cianjur dan IR-64. Tentu petani tidak 
banyak mendapat manfaat dari kebijakan ini.

Data produktivitas pekerja Indonesia dapat pula menjadi indikasi tentang tidak 
sehatnya kondisi sektor pertanian. Pada 1997 seorang pekerja sektor pertanian 
hanya menghasilkan output senilai Rp 1,7 juta selama satu tahun, sedang pada 
tahun yang sama seorang pekerja sektor industri menghasilkan Rp 9,5 juta. Pada 
2005 pekerja di sektor pertanian menghasilkan Rp 6,1 juta, sementara pekerja di 
sektor industri dapat meraup hingga Rp 41,1 juta (BPS, 2006)

Dari beberapa data di atas, sulit untuk menyembunyikan bahwa nasib petani dari 
waktu ke waktu cukup memprihatinkan. Sebuah ironi yang membuat kita patut 
prihatin, mengingat kelompok petani inilah yang selama ini sangat berjasa bagi 
pembangunan pertanian khususnya dan pembangunan ekonomi Indonesia pada umumnya.

Magnet sektor pertanian semakin melemah, daya pikatnya semakin menurun, dan 
justru sektor industri yang dijadikan gantungan hidup. Maka, semakin tidak 
menariknya sektor ini dan bertimbunnya masalah yang terjadi pada subsektor 
pangan sulit untuk tidak meramal masa depan sektor pertanian begitu buram.

Masalah pertanian bukan hanya masalah petani. Ini yang harus dipahami. Awan 
hitam yang menyelimuti subsektor pangan tersebut harus dimaknai sebagai potensi 
rawan pangan kita ke depan. Ketika urusan pangan sebagai kebutuhan primer 
menuju bencana dan teriakan petani tidak kita dengar maka kemajuan, 
kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa ini akan menjadi ilusi dan fatamorgana

Kirim email ke