Refelksi: Bukankah Presiden SBY adalah doktor dalam ilmu ekonomi pertanian 
Bogor,  mungkin saja ilmunya tidak cocok,  karena  dialihkan kepada  ekonomi 
syariah yang diciptakan di gurun pasir pada zaman bahula, sedikit penduduk dan 
belum ada sistem kapitalisme transnasional, dimana mekanisme aplikasinya tidak 
cocok diterapkan di negeri nan rindang kehijauan, terkecuali bila 
hutan-hutannya telah dibabat mengakibatka erosi tanah yang kemudian menjadi 
padang tandus dan setelah itu menjadi padang pasir.

http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0801/17/utama/4171056.htm

 
Kondisi Pertanian Kacau-balau 
Krisis Kedelai Bisa Memunculkan Ketidakpercayaan Rakyat kepada Pemerintah





Jakarta, Kompas - Apa yang ditakuti bangsa ini benar-benar terjadi. Harga dan 
pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte bangsa 
lain. Ketika harga kedelai di pasar dunia naik, misalnya, Pemerintah Indonesia 
tak kuasa menahan laju kenaikan harga kedelai di dalam negeri. 

Guru besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin saat 
dihubungi di Australia, Rabu (16/1), mengungkapkan, ketergantungan pangan 
bangsa ini sesungguhnya tengah berlangsung. 

"Dulu pemerintah masih bisa membantah tidak ada ketergantungan pangan, tetapi 
kini terbuka satu per satu ketika harga kedelai di pasar dunia liar," katanya. 

Gejolak harga yang terjadi pada kedelai di pasar dunia baru permulaan saja 
karena sesungguhnya persoalan yang sama akan menimpa komoditas lain. Setelah 
harga kedelai melonjak, disusul tepung terigu. Selanjutnya kenaikan harga 
bungkil kedelai sebagai bahan baku pakan ternak. Padahal, industri pakan ternak 
memproyeksikan kebutuhan bungkil kedelai 2008 sebanyak 1,6 juta ton. 

Harga bungkil kedelai per Oktober 2007 naik 50,6 persen atau Rp 4.293/kg dari 
harga November 2006 sebesar Rp 2.850/kg. 

Naiknya harga bungkil kedelai akan mendorong kenaikan harga pakan ternak, yang 
pada gilirannya mendorong kenaikan harga daging ayam dan telur. Menyusul 
komoditas jagung yang juga bakal terus naik. Naiknya harga jagung memperparah 
industri peternakan. Peternakan rakyat di sektor empat dan lima menghadapi 
tantangan berat. 

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, yang juga Wakil Ketua 
Dewan Perwakilan Rakyat, menyatakan persoalan kelangkaan kedelai terjadi karena 
dua faktor. 

Pertama, kondisi pertanian di Indonesia memang kacau-balau karena pemerintah 
tidak memiliki kebijakan memadai. Kedua, ketergantungan pada impor tidak 
dipersiapkan dengan baik dan disesuaikan siklus kebutuhan. 

"Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan terbukti tidak ada koordinasi baik 
di dalam kabinet," katanya. 

Penasihat Senior Pertanian dan Studi Kebijakan (CAPS) HS Dillon mengatakan, 
kemelut kedelai dan bahan pangan lainnya menunjukkan pemerintah tidak memiliki 
wawasan jangka panjang dalam kebijakan pertanian. "Pemerintah harus mengubah 
paradigma pertanian, ciptakan kedaulatan pangan. Jangan seolah-olah memahami 
masalah, tetapi masalah pertanian bertambah buruk," kata Dillon. 

Mantan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan Rizal Ramli menyatakan, kemelut 
perekonomian saat ini seolah mengulang krisis ekonomi pada tahun 1997 hingga 
1998. Ketika itu harga beras melonjak 100 persen. 

Gejolak perekonomian tahun 1998 itu berdampak hilangnya kepercayaan rakyat pada 
pemerintah yang ditandai kejatuhan Presiden Soeharto tahun 1998. 

Produksi terus merosot 

Kegagalan pembangunan pertanian mulai tampak dari produksi kedelai yang terus 
merosot. Tahun 1992 produksi kedelai masih tinggi, 1,8 juta ton. Tahun 1999 
merosot menjadi 608.263 ton. 

Contoh lain dari rentannya ketahanan pangan bangsa Indonesia tampak pula pada 
tepung terigu, sayur-mayur, gula pasir, telur, daging ayam, daging sapi, susu. 

Sebagai contoh, tahun 2006 harga jagung dalam negeri Rp 950 per kg di tingkat 
petani. Tak lama berselang harga jagung dunia naik dari 135 dollar AS per ton 
menjadi 270 dollar AS per ton pada posisi Oktober 2007. Akibatnya, harga jagung 
lokal terdongkrak menjadi Rp 2.450 per kg. 

Kenaikan harga jagung mendorong kenaikan harga telur, ayam pedaging, daging 
sapi, dan susu. Sebab, jagung merupakan komponen utama (51,4 persen) pakan 
unggas dan merupakan makanan berprotein sapi perah. 

Nasib minyak goreng berbeda. Meski produksi minyak sawit mentah (CPO) melimpah, 
pemerintah tak mampu meredam kenaikan harga minyak goreng dalam negeri yang 
terseret tingginya harga CPO dunia. 

Gula pasir dalam negeri juga rentan. Ketika harga gula melonjak, pemerintah 
buru-buru mengimpor gula kasar dan rafinasi, tanpa ada kemauan keras mencukupi 
kebutuhan gula sendiri. Kalau soal tepung terigu tidak perlu bicara. Khusus 
produk makanan berbasis terigu, perut bangsa ini sudah tergadaikan. 

Kalaupun dikatakan masih tersisa komoditas pertanian yang relatif stabil, 
barangkali hanya beras. Namun jangan salah, apabila harga minyak mentah dunia 
dan semua kebutuhan pokok naik, harga beras tak dapat dikendalikan. Biaya 
produksi akan naik. 

Kondisi ketahanan pangan makin gawat ketika alih fungsi lahan pertanian tak 
bisa dikendalikan. Tahun 2003 sampai 2004 saja luas lahan pertanian menyusut 
703.869 hektar dari 8.400.030 hektar menjadi 7.696.161 hektar. Penyusutan 
terjadi di lahan beririgasi teknis, setengah teknis, irigasi sederhana, tadah 
hujan, dan pasang surut. 

Pandangan lain disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri 
Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman. Mengutip proyeksi Development 
Prospect Group Bank Dunia, Ardiansyah mengatakan, kenaikan harga komoditas 
pangan, termasuk kedelai, akan berlanjut, tetapi dengan tingkat kenaikan lebih 
moderat pada tahun 2008. 

Menanggapi penilaian atas kegagalan pembangunan pertanian, Menteri Pertanian 
Anton Apriyantono mengatakan, pemerintah menyadari ketergantungan pangan yang 
begitu dominan tidak baik bagi ketahanan pangan. 

Ditanya tentang tidak ada kemampuan meredam harga pangan dalam negeri akibat 
terseret harga pangan di pasar dunia, Anton justru mempertanyakan negara mana 
yang kuat menghadapi gejolak kenaikan harga dunia. 

"Dilema yang dihadapi pertanian, keinginan untuk memberikan insentif kepada 
petani yang selalu dihadapkan pada rendahnya daya beli masyarakat," katanya. 
(MAS/SUT/DAY/LKT

Kirim email ke