Kiasan Berfungsi Untuk Mengecoh/Menyesatkan/Membungkus Arti Kata

Kiasan dalam agama umumnya memang untuk menyesatkan pengertian umat
agar tentunya lebih percaya kepada agamanya.  Digunakan untuk
membandingkan hal2 yang tidak sama untuk se-olah2 dipahami sama.

Hukum dan Science itu ada ketentuannya dimana tidak boleh menggunakan
kata yang Ambiquu yaitu kata yang berarti ganda.  Kata2 kiasan itu
adalah contoh dari kata ganda yang tujuannya seringkali digunakan
untuk menipu, menyesatkan atau mengecoh pemahaman yang mendengar atau
membacanya.

Demikianlah, kalo dalam Islam, meskipun tidak pernah menyaksikan
adanya Allah, bahkan belum pernah melihat nabi Muhammad, tapi umat
Islam wajib mengucapkan syahadat dengan "bersaksi bahwa Allah mengutus
Muhammad sebagai utusannya..."

Tidak berbeda dengan umat Kristen, mereka juga bersaksi bahwa "Yesus
itu adalah Allah", atau "Yesus anak Tuhan".

Apakah etis ajaran2 agama menggunakan kata bersaksi sementara mereka
sama sekali tidak menyaksikan dan kalo dikritik mereka berkilah bahwa
itu arti yang lebih dalam sebagai halnya kiasan !!!

Tahukah anda, bahwa kata kiasan itu tidak lain kata2 bersayap yang
bertujuan mengecoh, menipu, membohongi pendengarnya.  Dalam ilmu hukum
maupun science sangatlah diharamkan penggunaan kata2 seperti ini,
kecuali sebagai label referensi contoh2 dari hal2 yang tidak benar
atau yang tidak dibenarkan.  Jadi setiap ada kata2 bersayap atau yang
diperkirakan bisa mengecoh, maka harus ada index yang menerangkan atau
menjelaskan artinya.

Adakah Hadis menjelaskan bahwa kesaksian dalam syahadat itu tidak
perlu menyaksikan ???


> "tawangalun" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kedua dalam mencari terjemahan bhs asing kadang hanya 
> dipilih kata yang mendekati padahal jane belum tentu 
> pas betul. Contoh sifat Allah itu ada Ahad ada Wahid 
> tapi setelah diIndonesiakan keduanya diartikan 
> SATU,padahal pasti masing2 membawa makna yang rada 
> berbeda .


Enggak susah untuk terjemahkannya, cukup katakan bahwa "saya tidak
menyaksikan tapi saya percaya bahwa ada Allah yang mengutus Muhammad
sebagai nabi".

Bukankah artinya sama tetapi malah jujur tidak berbohong ????

Ny. Muslim binti Muskitawati.


> Jadi wawasan genduk perlu diperluas lagi agar jangan sembarangan 
> tuduh. 


Sebenarnya yang enggak punya wawasan itu anda sendiri, saya justru
mengkoreksi kesalahan2, sebaliknya anda mempertahankan kesalahan2.

Anda tidak mampu menyanggah lalu mencaci maki pribadi saya yang tidak
benar, apakah itu jujur???  Memang sih cara2 begitu adalah cara
Islamiah.  Sama halnya, terror 911 itu pelakunya adalah Yahudi,
pemerkosa massal itu umat Kristen atau rambut cepak, Bomb Bali itu
adalah CIA.  Lucu bukan???  Asal tuduh tanpa bukti, padahal pihak lain
punya bukti2 yang tidak mungkin dibantah.

Begitulah cara2 anda, semua yang saya ungkapkan adalah realitasnya
bukan angan2.  Coba deh kalo ada seorang Kristen yang bersaksi seperti
halnya bersyahadat cuma dia bilang: "Aku bersaksi, bahwa Yesus itu
adalah Allah......"  Lalu apa komentar anda kalo mereka kemudian
menyatakan bahwa bersaksi itu artinya sangat dalam dan tidak ada
terjemahannya atau sulit diterjemahkannya ?????  Gampang khan ????

Muslim bersaksi Allah mengutus Muhammad, tapi Kristen bersaksi Yesus
itulah Allah.  LALU KESAKSIAN SIAPA YANG BOHONG ???

Enggak bisa kita tuduh Kristen bersaksi bohong sementara Muslim
bersaksi benar, karena ke-dua2nya sama2 tidak ada yang menyaksikan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke