http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=327803&kat_id=151

Senin, 24 Maret 2008



Ilmu Pertanian Belum 'Siap Panen' 


Pertanian perkotaan diharapkan mampu menarik perhatian calon mahasiswa 
mendalami disiplin pertanian. 

Pertanian merupakan bidang yang sangat luas. Karena itu, bidang ini menyediakan 
peluang kerja yang sangat besar. Ini sesuai dengan karakteristik pertanian yang 
menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Apalagi Indonesia merupakan negara agraris 
yang basis perekonomiannya ditopang oleh bidang pertanian. Ironisnya, luasnya 
kesempatan ini tidak diikuti oleh perkembangan di bidang pendidikan.
Meskipun masih bertahan, tapi secara umum pendidikan di bidang pertanian tidak 
mengalami perkembangan yang berarti. Bahkan, pertanian tertinggal sangat jauh 
jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain yang saat ini sedang populer. Seperti 
ilmu komunikasi atau pun teknik informatika.

Hal ini diungkapkan oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nasional (Unas) 
Jakarta Ir Tri Waluyo, M Agr. Ia menambahkan, indikasi ini terlihat dari jumlah 
mahasiswa masuk ke fakultas ini. "Dari tahun ke tahun, tidak ada peningkatan 
yang signifikan di fakultas pertanian. Paling hanya berkutat di kisaran angka 
20. Jauh dari mahasiswa ilmu komunikasi yang mampu mencapai ratusan," ungkap 
Tri.

Ada beberapa alasan kenapa peminat pertanian cenderung stagnan. Yang pertama 
adalah adanya image di masyarakat bahwa pertanian merupakan lapangan yang 
berkutat dengan cangkul, tanah, kotor dan sebagainya. Bahwa pertanian hanya 
menghasilkan petani. Sehingga jika masuk pertanian akan sulit untuk mencari 
pekerjaan.

Image seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat perkotaan 
saat ini yang cenderung lebih memilih pekerjaan kantoran. Padahal, jelas Tri, 
pertanian menjanjikan kesempatan dan keuntungan yang sangat besar.

Untuk mengatasi hal ini, Tri menerapkan beberapa penyesuaian. Yang pertama 
memfokuskan pembelajaran ke pertanian perkotaan. Yaitu pertanian yang dapat 
diaplikasikan sesuai dengan karaktiristik perkotaan. Ia menyebutkan dua ciri 
pertanian perkotaan. Yaitu memanfaatkan lahan yang sempit dan penggunaan 
teknologi yang lebih intensif.

Dengan pertanian perkotaan ada beberapa kelebihan yang akan didapat. Antara 
lain tidak memerlukan lahan yang terlalu luas. Serta adanya unsur kedekatan 
dengan pasar. Sehingga dapat mengurangi biaya yang tidak perlu dan meningkatkan 
margin keuntungan.

Dosen mata kuliah hortikultura ini juga memfokuskan pembelajaran kepada 
pertanian organik. Yaitu pertanian yang mengandalkan bahan-bahan organik dan 
bebas dari unsur kimia. Pertimbangannya, pertanian organik memberikan mutu yang 
lebih baik, dari segi kualitas barang maupun kesehatan manusia yang 
mengkonsumsi. "Dua hal ini yang menjadi ciri khas pertanian Unas," ujar Tri.

Untuk membentuk kompetensi ini, proses belajar dibuat secara berkesinambungan. 
Pada tahun pertama, mahasiswa diajarkan mengenai filosofi pertanian. Pada tahun 
kedua, mahasiswa diberikan penguasaan dasar teknik budidaya dan materi mengenai 
agribisnis. Pada tahun ketiga, mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan materi 
yang telah dipelajari pada tahun sebelumnya.

Pada tahun ini, mahasiswa akan melakukan praktik pembuatan dan pengolahan hasil 
pertanian. Beberapa produk yang telah dihasilkan adalah nata de semangka, nata 
de melon, atau juga nata de pepaya. Sementara pada tahun keempat, mahasiswa 
dituntut untuk melakukan praktik langsung semua materi yang telah dipelajari. 
Hasilnya yang kemudian dituangkan dalam bentuk skripsi.

Selain mata kuliah pertanian, mahasiswa juga diberikan mata kuliah 
Kewirausahaan. Sehingga, mahasiswa memiliki kemampuan untuk menciptakan usaha 
sendiri. Fakultas pertanian Unas memiliki satu program studi, yaitu Agronomi. 
Meskipun begitu, disediakan dua peminatan. Seperti Agronomi yang lebih fokus 
kepada teknik budidaya pertanian. Serta Agribisnis yang lebih fokus kepada 
pemasaran hasil pertanian.

Kami berencana untuk membuat satu peminatan lagi, yaitu Agri-industri. 
Peminatan ini fokus kepada pengolahan lebih lanjut hasil pertanian. Sehingga 
fakultas pertanian kami dapat mencakup seluruh kegiatan pertanian. Mulai dari 
hulu sampai hilir," jelas magister Universitas Ryukyu, Jepang ini.

Proses Hilir
Jika Unas memilih untuk mencakup seluruh proses pertanian, hal berbeda 
dilakukan Universitas Sahid (Usahid) Jakarta. Melalui Fakultas Teknologi 
Industri Pertanian, Usahid lebih menekankan di proses hilir. "Kami menyediakan 
satu program studi, yaitu Teknologi Pangan yang lebih menekankan kepada 
pengelolaan pelayanan produk makanan," jelas Dekan Fakultas Teknologi Industri 
Pertanian Usahid Ir Iman Basriman, MSi.

Dalam program studi ini, mahasiswa diajarkan agar mampu menangani pengolahan 
produk pertanian menjadi produk setengah jadi atau pun produk jadi. Mahasiswa 
juga diharapkan mampu mengidentifikasi dan membantu mengatasi permasalahan yang 
timbul dalam industri pangan. Baik dalam pengolahan maupun pada pengembangan 
produk baru dan rekayasa pangan.

Kompetensi lainnya adalah mampu mengendalikan proses dalam industri pangan. 
Sehingga dapat menghasilkan produk pangan yang aman, bergizi tinggi, menarik 
konsumen, dan memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

Selama perkuliahan, mahasiswa Usahid dididik untuk mendapat sertifikat keahlian 
dalam beberapa bidang. Antara lain Good Handling Practices, Good Manufacturing 
Practices, Good Catering/Food Service Practices, HACCP System, Food Sanitation 
and Hygiene, dan ISO 22000.

Program studi Teknologi Pangan menyediakan dua peminatan. Teknologi Industri 
Pangan yang dicirikan dengan mata kuliah Manajemen Mutu Sistem Pangan, 
Bioteknologi Pangan, Makanan Kesehatan, Bahan Tambahan Makanan, Pemasaran 
Produk Industri Pangan, dan Pengembangan Produk Pangan.

Peminatan lainnya Manajemen Sistem Pelayanan Makanan. Ini dicirikan dengan mata 
kuliah Teknologi Industri Jasa Boga, Strategi Pemasaran Produk Makanan, 
Pengolahan Makanan Eksperimental, Manajemen Industri Pelayanan Makanan, Etika 
dan Komunikasi Bisnis, dan Gizi dalam Daur Ulang Kehidupan.

Iman mengatakan, salah satu hal yang menjadi ciri khas Usahid adalah mengenai 
pangan halal. Saat ini materi mengenai pangan halal masih diberikan secara 
terpisah. Dengan cara disisipkan di dalam mata kuliah lain yang berkaitan 
dengan masalah halal. Nantinya, Iman berencana untuk memberikan materi mengenai 
pangan halal secara terintegrasi. Bisa dalam satu mata kuliah atau beberapa 
mata kuliah yang khusus membahas mengenai hal ini.

Di negara lain, seperti Malaysia dan Australia, masalah halal telah mendapat 
perhatian yang serius. Bahkan telah masuk dalam tingkat akademik. Sementara di 
Indonesia, masalah ini belum mendapat perhatian yang serius. Padahal sebagian 
besar masyarakat Indonesia beragama Islam, ungkap Iman.

Sebagaimana Unas atau pun perguruan tinggi lain, Usahid memberikan mata kuliah 
mengenai Kewirausahaan. Tidak hanya itu, melalui dosen kewirausahaan turut 
diberikan dalam mata kuliah lain. Ini sesuai dengan core Usahid yang fokus 
kepada bidang wira usaha dan pariwisata, jelas Iman.

Kirim email ke