Riau Pos

      Aku Malu Akui Berstatus Janda  


      Minggu, 23 Maret 2008  
      Dua putriku dari hasil pernikahan pertamaku sudah meningkat remaja. Tentu 
ini tidak lagi membuat langkahku untuk  sering berpergian ke luar kota terikat. 
Apalagi, aku tinggal bersama mama dan seorang adik laki-laki, yang setiap saat 
mampu membantuku untuk mengawasi dua putriku tadi.

      Terus terang, aku tidak muda lagi. Umurku sudah menginjak 44 tahun. Perlu 
pembaca ketahui, dibalik tawa ceriaku bersama teman-teman di organisasi 
perempuan yang kuikuti, batinku sebenarnya  sering menjerit dan kesepian. 
Apalagi jika mereka bicara  tentang  suaminya masing-masing. Mulai dari 
suaminya yang sudah pandai berselingkuh dengan  perempuan lain, sampai dengan 
gaya romantisme kala saat sama  di atas ranjang.

      Saat mendengarkan celoteh mereka, aku sering tidak mau kalah pula 
bercerita, tentunya dengan  mengarang berbagai cerita romantisme. Seolah-olah 
aku memiliki suami yang sah. Padahal romantisme suami yang kuceritakan itu 
adalah pengalan-pengalan romantisme yang kujalani bersama pria beristri, yang 
tinggal satu komplek denganku.

      Pembaca, beberapa bulan belakangan ini aku mulai tertekan dengan 
kebohongan-kebohongan yang kubuat sendiri sejak berapa tahun ini. Apalagi, 
selama ini kepada teman-teman, aku selalu mengatakan suami ku yang baru seorang 
pengusaha yang tinggal di Jakarta.  Dan, aku selalu punya berbagai alasan untuk 
mengurungkan niat kedatangan teman-teman ke rumahku, salah satunya dengan 
mengatakan bahwa suamiku baru datang dari Jakarta.

      Mereka kularang datang ke rumah, sebelum buat janji denganku, karena aku 
tidak siap kebohonganku terbongkar. Aku takut, mereka bertanya-tanya dan 
menggorek soal keberadaan suami fiktif itu kepada ibuku, dan bisa juga kepada 
dua anakku yang tidak tahu bahwa di luar sana mamanya selalu berbohong soal 
status jandanya.

      Lantas, soal kebohongan suami fiktif itu? Kadang ada benarnya juga. Dan 
Aku malu sebenarnya membeberkannya, karena sejak menjanda beberapa tahun lalu, 
aku sudah menjalin hubungan dengan seorang pengusaha di kota kami, yang 
kebetulan rumahnya juga satu komplek denganku di kota P.

      Pria yang juga punya istri itu, sudah lama kugauli, bahkan hampir 4 tahun 
berjalan, sejak istrinya sekolah ke luar negri untuk mengikuti program 
pendidikan pasca sarjana, dua tahun sebelumnya.

      Pertemuan dan komunikasi kita  sangat intens, terutama telpon dan sms. 
Terus-terang, aku telah terlalu dalam bergelimang dosa besar, karena hubungan 
yang kujalin dengannya sudah layaknya hubungan suami- istri, karena kita sering 
berpergian ke luar kota, bahkan menginap di hotel di kota P, kota tempat kami 
tinggal, hanya sekedar melepas libido masing-masing. Semua itu kulakukan, tanpa 
anak dan ibu ku tahu, kendati sudah berjalan beberapa tahun ini. Karena semua 
kepergianku itu, jika keluar kota, selalu kukatakan, ada urusan organisasi.

      Hubungan terlarang itu dulunya juga malah sempat tercium oleh istrinya, 
namun tidak membuat aku dan dia patah arang untuk berhenti bercinta.

      Apalagi, saat ini, ekonomiku mulai terpuruk. Ketergantunganku pada pria 
ini semakin besar. Lagi pula, aku tidak mungkin memaksanya untuk menikahiku, 
karena perbedaan agama, dan dia juga mengaku tak siap menikahiku, karena takut 
ketahuan istrinya, namun juga tak  ingin meninggalkanku yang menurut 
pengakuannya, bisa memberikan kepuasaan di ranjang.

      Lantaklah! Saat ini yang terpenting dia mau membiayai hidupku, dan 
anakku, sekalipun enggan menikahiku.

      Alhasil, aku terus hidup bergelimang dosa, dengan mempertahankan statusku 
sebagai pacar simpanannya, hanya untuk mendapat uang  secara rutin tiap bulan 
guna membiayai keperluan anak-anakku. 

      Takut dosa? Luar biasa!. Ketakutan dosa yang sering hinggap. Kalau 
perasaan itu hinggap, aku mulai rajin salat, dan puasa Senin-Kamis, dan mulai 
sedikit menjaga jarak hingga beberapa minggu dengan pria tersebut. Namun, kala 
kebutuhan ekonomi mendesak, aku kembali menghubungi pria tersebut. 

      Aku amat sadar, pria itu memang takkan mungkin menikahiku, kendati kami 
saling cinta. Apalagi ketergantungan aku secara ekonomi cukup tinggi 
terhadapnya. Memang, sesekali aku coba bermain mata dengan pria lain, namun 
kalaupun aku sempat jatuh cinta, tapi kuamati secara materi dia pelit, dan 
takkan bisa menjadi sandaran ekonomi keluargaku, aku mulai menjauh darinya.

      Hubunganku dengan pria-pria lain itu, tak jarang juga berlangsung hingga 
ke atas ranjang. Namun, pria-pria itu selalu kutinggalkan, atas dasar mereka 
tidakkan bisa memberikanku materi, sebanyak kekasihku yang ada itu.

      Aku tidak tahu, sampai kapan aku berbohong, dan bertingkah laku ibarat 
seorang pelacur. Aku juga takut, karena lambat laun akan terbongkar. Yang 
pasti, aku takkan siap menatap anak-anakku dan saudara yang lain. Apalagi, ibu, 
yang tentu akan meninggal mendadak begitu dia tahu aku berselingkuh dengan 
suami tetangga dia sendiri. Tuhan... beri aku petunjuk!(lin)

     
  

Kirim email ke