http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/24/o3.htm
Gizi Buruk di Lumbung Beras Bagaimana Dengan Kabupaten Lainnya? Oleh Ir. I Made Purnadhibrata, M.Kes. GIZI buruk adalah salah satu dari kategori kurang energi dan protein (KEP) berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Artinya, balita gizi buruk itu saat ini memiliki berat badan sesungguhnya jauh di bawah berat badan yang seharusnya pada umumnya saat ini. Penyebab utama atau penyebab langsung yang juga dikenal sebagai penyebab primer KEP (gizi buruk) adalah konsumsi makanan (energi dan protein) yang rendah atau kurang dari kecukupan yang dianjurkan (kurang dari yang dibutuhkan badannya) dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Atau konsumsi makanan cukup tetapi karena mengalami gangguan penyerapan (malabsorpsi) sebagai akibat menderita penyakit infeksi. Dapat saja mereka menderita KEP terlebih dulu baru kemudian menderita penyakit infeksi atau sebaliknya atau secara bersama-sama. Sementara penyebab tidak langsung atau penyebab sekunder sangat banyak, di antaranya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, ada atau tidak adanya makanan tambahan bagi anak, tingkat pendapatan (kemiskinan), tingkat pendidikan (tingkat pengetahuan), pelayanan kesehatan, dan kesehatan lingkungan. Dampak paling umum dari KEP adalah ketidakmampuan seorang anak untuk tumbuh dengan layak. Keterlambatan pertumbuhan ini dapat diukur. Anak tersebut mungkin lebih pendek dari pada anak lainnya yang sebaya atau anak tersebut mungkin berat badannya lebih ringan (rendah) tidak sesuai dengan umurnya. Lengan dan kakinya mungkin lebih kurus daripada ukuran yang semestinya. Memang, KEP bukan satu-satunya penyebab mengapa anak-anak tumbuh terlalu lambat. Tetapi, apabila terdapat banyak anak dalam masyarakat yang tidak bisa tumbuh dengan baik, maka KEP adalah penyebab yang paling utama. Sekecil apa pun masalah KEP (gizi kurang + gizi buruk) tetap mendapat perhatian pemerintah (terbukti dengan pengalokasian dana secara khusus untuk penanganan gizi buruk, pemerintah/Depkes) telah memililki protap (prosedur tetap) penanggulangan gizi buruk. Setiap penderita gizi buruk mendapatkan PMT (pemberian makanan tambahan) pemulihan. Namun, upaya promotif dan preventif tetap dilakukan khususnya bagi para ibu, karena seperti kita ketahui ibu adalah sebagai pintu gerbang perbaikan gizi keluarga. Dengan pendekatan Neraca Bahan Makanan (NBM), di mana dibedakan menjadi ketersediaan pangan pada tingkat produksi untuk rata-rata penduduk seharusnya tercukupi. Sedangkan ketersediaan berikutnya pada tingkat eceran yaitu ketersediaan pada tingkat pasar atau pada tingkat distribusi. Ketersediaan ini sudah ada pada ketersediaan di tingkat rumah tangga, artinya bagi mereka yang memiliki lahan pertanian hasil produksinya mencukupi kebutuhan rumah tangga. Demikian juga bagi mereka yang tidak memiliki lahan pertanian, sepanjang ada daya beli (tingkat pendapatan rumah tangga per kapita) cukup pada akhirnya akan menjamin konsumsi makanan (energi dan protein) pada tingkat rumah tangga (individu) terpenuhi. Sedangkan pada tingkat konsumsi sepanjang ketersediaan pada tingkat rumah tangga cukup, konsumsi rata-rata per kapita pada anggota rumah tangga tidak menjadi masalah (sepanjang tidak menderita penyakit infeksi). Dengan munculnya kasus gizi buruk yang diduga penyebabnya adalah masalah kemiskinan, berarti dapat disimpulkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan rata-rata penduduk per kapita yang pada akhirnya memunculkan rendahnya pendapatan pada beberapa rumah tangga. Keadaan ini menjadikan rumah tangga tersebut tidak mampu menyediakan kebutuhan pangan pada tingkat rumah tangga, sehingga pada akhirnya juga terjadi ketimpangan kosumsi makanan (energi dan protein) rata-rata per kapita per hari pada anggota rumah tangga tersebut, dan konsumsi energi dan protein menjadi rendah. Adanya gizi buruk berarti terdapat balita yang konsumsi makanannya (energi dan protein) rendah dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Apabila memperhatikan proses terjadinya gizi buruk, maka seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan saja, karena akar permasalahannya cukup kompleks dan sudah tentu memerlukan penanganan lintas sektoral. Penulis, dosen pada Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Depkes Denpasar
