Harian Analisa Edisi Senin, 24 Maret 2008 Tajukrencana Setengah Hati untuk Konflik Darfur
SANGAT tepat apa yang dikatakan mantan Sekjen PBB Kofi Annan, saat berpidato dalam di New York, Sabtu, bahwa dunia setengah hati dalam menyelesaikan krisis Darfur. Walau jumlah korban yang tewas dalam krisis di Sudan ini sudah begitu besar, dunia belum mengambil langkah konkrit dan tegas untuk mengatasinya. Dalam kritiknya itu, Annan menyebut 'banyak kepura-puraan di semua pihak' dalam upaya menyelesaikan konflik yang disebut sebagai krisis kemanusiaan terbesar dunia itu. Menurutnya, banyak pihak yang hanya 'omong besar' tapi tak bertindak apa pun di lapangan, terutama negara-negara besar dunia. Apa yang dikemukakan Annan itu memang sangat tepat. Kita memang tak melihat upaya dunia yang benar-benar serius dalam menyelesaikan konflik di Sudan ini. Bahkan upaya internasional dalam kasus ini boleh dikatakan sangat aneh. Dunia, melalui Dewan Keamanan PBB, sebenarnya telah menyetujui pengerahan pasukan internasional yang terdiri dari pasukan Uni Afrika, yang mayoritas, dan sejumlah pasukan internasional lainnya yang jumlahnya mencapai 26.000 tentara. Tapi kenyataannya, hanya segelintir pasukan yang ada di lapangan, itu pun dengan peralatan yang seadanya. Penyebab utama masalah ini disebut akibat tidak adanya dana yang memadai untuk pasukan perdamaian tersebut, akibatnya negara-negara Afrika, yang sebagian besar miskin itu, tak mampu untu mengerahkan pasukan mereka secara penuh. Kondisi ini diperparah oleh keengganan negara-negara besar dunia untuk mengerahkan pasukan mereka, padahal pasukan negara besar seperti AS dan Eropa Barat, sangat efektip dalam melakukan tugas penjagaan keamanan karena sumber-sumber daya mereka yang sangat memadai. Dan yang semakin menyulitkan, selain enggan mengirim pasukan, negara-negara besar dan makmur dunia tak bersedia memberikan bantuan peralatan, seperti helikopter, kepada pasukan yang ada di lapangan, padahal perangkat tersebut sangat dibutuhkan dan telah berulang kali diminta oleh PBB. Dengan kejanggalan ini maka tepatlah apa yang dikatakan Annan bahwa dunia memang 'berpura-pura' untuk mau terlibat dalam penyelesaian konflik ini. Kalau kita lihat lebih jauh, kepura-puraan ini merupakan bagian dari konflik Darfur itu sendiri. Walau konflik ini sebenarnya murni konflik dalam negeri Sudan, tapi begitu banyak kepentingan dunia yang ikut masuk dalam konflik ini, yang saling bertolak belakang. Di satu sisi ada Amerika Serikat yang menginginkan konflik ini menjadi batu loncatan untuk menggusur pemerintah Sudan saat ini yang masuk kategori 'Islam garis keras', model pemerintah yang menjadi musuh AS terutama dalam kampanye perang melawan terornya. Di sisi yang berlawanan, terdapat sejumlah negara seperti negara-negara Arab, negara Eropa termasuk Rusia serta China yang malah sebaliknya ingin membangun hubungan yang lebih erat dengan pemerintah Sudan saat ini. Negara-negara Arab ingin pemerintah Sudan saat ini tetap eksis karena alasan politik dan budaya, maklum pemerintahan saat ini yang dominasi etnis Afrika keturunan Arab. Sementara bagi negara seperti Eropa, Rusia dan China, berusaha terus untuk tetap mesra dengan Khartoum untuk mendapatkan konsesi minyak negara Afrika ini. Dengan dua kubu yang saling berbeda ini, dengan masing masing kubu mempertahankan kepentingan masing-masing, tak heran jika tak pernah ada kata sepakat dunia dalam mengatasi masalah Darfur. Di berbagai konferensi perdamaian semua pihak pun lebih fokus pada kepentingan mereka bukan pada penyelesaian konflik. Semua komentar dan upaya perdamaian memang hanya pura-pura.
