http://www.gatra.com/artikel.php?id=113297
Dato' Zainal Abidin Zain: Kami Tidak Mengambil Seinci Pun Negara Orang Lain Hubungan Indonesia-Malaysia belakangan ini diwarnai riak-riak yang cukup mengganggu. Simak saja, dari masalah reog Ponorogo, pemukulan wasit karate asal Indonesia di Kuala Lumpur, sampai perlakuan buruk terhadap sejumlah pembantu rumah tangga yang bekerja di sana. Dan yang terbaru adalah heboh Askar Wathaniyah. Diberitakan, sejumlah warga negara Indonesia di perbatasan Kalimantan-Serawak direkrut pihak Malaysia untuk menjadi penjaga perbatasan. Dalam rangka silaturahmi, Senin siang pekan lalu, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato' Zainal Abidin Zain, berkenan berkunjung ke kantor Gatra. Bagi Dato' Zain, Indonesia bukan tempat yang asing. Pertama kali ia datang ke Jakarta pada 1974. "Jakarta adalah pos saya yang pertama," katanya. Setelah itu, ia sempat bertugas sebagai diplomat di Teheran, Jeddah, Abu Dhabi, Vancouver, Brasil, dan Vietnam. "Di antara pos-pos itu, saya sering juga pulang ke Malaysia. Kini balik ke sini lagi," ia menambahkan. Dalam suasana perbincangan yang akrab, diselingi humor-humor segar, Dato' Zain menjawab beberapa pertanyaan awak redaksi Gatra. Berikut petikannya: Apa komentar Anda soal pemberitaan tentang Malaysia di Indonesia? Kami merasa heran sekali pada laporan dimuat di harian, majalah, televisi, dan radio di sini bahwa kami melecehkan Indonesia. Pertanyaannya, apa keuntungan Malaysia mau merendahkan martabat Indonesia? Kalau mendapatkan laporan yang negatif, kita tanya, berikan satu gambaran, laporan yang fair. Saya tidak menghendaki satu laporan yang selalu saja melecehkan atau selalu baik. Tidak begitu. Yang diinginkan adalah laporan yang balance dan fair, saling respek, bertanggung jawab, dan laporan yang seimbang. Hubungan apa yang bisa ditingkatkan? Selain soal pendidikan yang berkembang, pada Desember lalu saya melihat, pada 2006-2007 perdagangan Malaysia dan Indonesia mendekati US$ 10 milyar. Baru-baru ini, dalam pembicaraan di Kuala Lumpur antara Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Malaysia, ada usul untuk meningkatkan hubungan tahap demi tahap. Pada 2007, investasi Malaysia ke Indonesia merupakan investasi yang keempat terbesar sebanyak US$ 2,2 milyar. Terdiri dari investasi untuk kebun kelapa sawit, telekomunikasi, bank, dan minyak. Jadi, sesungguhnya hubungan Indonesia dengan Malaysia berjalan baik dan selalu ingin meningkatkan hubungan. Bagaimana dengan penanganan TKI di Malaysia yang buruk? Di dalam hal ini, kami dapati semua yang baik-baik. Namun yang kami dapati, selalu diberitahukan kepada kami bahwa TKI jadi masalah. Biarlah kami membuat penjelasan bahwa secara mendasar kerajaan hendak mengadakan hubungan serapat-rapatnya, sebaik-baiknya, dengan Indonesia. Jadi, perbuatan segelintir rakyat Malaysia tidak perlu disamakan dengan dasar Kerajaan Malaysia. Sebabnya, penganiayaan berlaku di negara mana pun. Tetapi tengoklah, berapa banyakkah rakyat Indonesia yang ada di Malaysia? Menurut statistik, satu juta yang legal. Yang ilegal, siapa yang tahu jumlahnya? Nah, itulah yang hari demi hari kena tangkap. Mengapa penanganan pembantu rumah tangga tidak manusiawi? Malaysia memerlukan pekerja-pekerja asing dalam berbagai sektor, yakni sektor formal dan sektor informal. Sektor formal ini melibatkan pekerja dalam sektor konstruksi, perdagangan, plantation. Dan sektor informal khusus untuk pembantu rumah. Sektor yang banyak memberi masalah adalah sektor informal. Sebab kita ini deal dengan manusia. Ini ada yang baik hati, ada yang garang sedikit, bermacam manusia. Jadi, janganlah disamakan bahwa kerajaan memberi penganiayaan kepada rakyat asing. Bagaimana dengan klaim Malaysia atas beberapa produk budaya Indonesia? Tahun lalu, kita ada masalah hingga kebudayaan, makanan, batik, dan reog. Soal makanan, misalnya, jadi bagaimana kita mau buka puasa kalau kita suka buka puasa dengan es batu Bandung, tapi disoal dan dipermasalahkan. Di Malaysia, es batu Bandung ada, mi Jawa ada, mi Bandung ada. Di sini mungin tidak ada. Jadi, kami tidak mengklaim. Coba Bapak lihat, seperti ada agenda beberapa pihak yang tidak senang dengan hubungan baik dan rapat antara Indonesia dan Malaysia. Soal batik, misalnya. Di Hawaii ada batik, di Afrika Selatan ada batik, di Nigeria ada batik. Tapi, ketika menyangkut ada batik di Malaysia, seperti ada saja orang yang tak senang. Menurut Anda, siapa yang tak senang? Ya, perlu investigasi. Baru itu semua reda. Keluar pula isu Askar Wathaniyah. Nah, masuk atau akal tidak sebuah negara menggaji orang asing untuk menjaga, melindungi kedaulatan, dan perbatasan negerinya? Tidak ada. Maka, saya adakan press conference yang menyatakan bahwa laporan itu tidak ada dan tidak benar. Untuk menjadi Askar Wathaniyah, mestilah warga negara Malaysia nomor satu dan ada aturan administrasi yang ketat. Di kawasan Nusantara, 150-200 tahun lalu orang Indonesia yang pergi ke Malaysia, Afrika Selatan, Suriname. Mereka bekerja, mencari nafkah, menetap, dan menjadi rakyat negara masing-masing. Jadi, kalaupun reog ada, itu dibawa oleh mereka, juga nyanyian. Semua menjadi tradisi di situ karena dimainkan terus oleh mereka. Hal itu terjadi di Johor dan Selangor, di mana orang asal Jawa Timur banyak tinggal di sana. Kebudayaan itu diturunkan kepada cucu mereka. Angklung, misalnya, sudah kami mainkan dengan mahir. Lalu lagu Rasa Sayange dan Soleram, pada usia 6-7 tahun saya sudah menyanyikannya karena diajarkan kepada saya. Kalau sudah begitu, kami jadi bengong, mau cari alasan apa lagi? Bagaimana dengan penanganan masalah hukum di Malaysia menyangkut orang Indonesia? Ya, jadi kita perlu membuat investigasi sebenar-benarnya dan diproses hukum. Jika mendapati salah, maka masukkan jail. Lalu masalah wasit Indonesia, kami telah panggil dia. Kami telah bawa juga polisi Indonesia. Kami telah bawa asosiasi karate Indonesia dengan pihak di Malaysia jumpa di sini. Interviunya 10 jam. Kami mau pastikan, kalau kami membawa masalah ke mahkamah, biarlah matang. Kami bawa 34 gambar orang untuk memastikan siapa yang melakukan pemukulan. Kami melihat, Indonesia adalah negara yang penting untuk Malaysia. Jadi, marilah kita buat, apa pun stabilitas Malaysia adalah stabilitas Indonesia juga, negara besar. Biarkan Malaysia dan Indonesia bersama-sama membangun negara masing-masing untuk memberi kesejahteraan rakyatnya. Kami dengar, TKI kerap mendapat masalah di Malaysia? Di Malaysia, semua masalah hukum diselesaikan melalui jalur yudikatif. Seperti kasus Nirmala Bonet yang tidak selesai sehingga menimbulkan rasa tidak senang. Tapi perkara ini juga akan diselesaikan. Januari lalu, Presiden Indonesia melawat ke Malaysia. Perdana menteri sendiri telah membacakan 17 kasus yang dikatakan high profile. Semuanya diterangkan satu per satu. Kami memberi teguran supaya kasus ini dapat diselesaikan. Bagaimana penanganan orang yang terlibat kejahatan internasional? Itu semua perbuatan segelintir manusia yang tidak baik. Jika ada yang ditangkap, ya, proses kasusnya. Jadi, kami tidak mau melindungi. Kalau ada laporan Interpol ke Malaysia, saya jamin, pasti akan ada bantuan dari pihak Malaysia. Ada juga pemikiran tidak benar dan tidak tepat, konon Malaysia menghantarkan Azhari dan Noordin M. Top supaya membuat kacau di Bali, supaya turis pariwisata turun dan supaya datang ke Langkawi. Ini saya katakan, perbuatan manusia, terorisme, penyelundupan, dadah (obat terlarang) adalah masalah bersama. Di Malaysia, jika mengedarkan dadah, maka gantung saja. Lalu soal kartu kredit juga terjadi di mana-mana, bukan cuma di Indonesia. Mainan orang Malaysia macam-macam. Kalau dia pulang, belum ada jaminan dari pihak Malaysia? Kan, masing-masing ada undang-undangnya. Kita tidak mau merugikan pihak Indonesia atau pihak Malaysia. Semua orang tahu, dia sekarang ada di sini. Apabila dia tidak pulang ke Malaysia, dipersilakan. Dia masih diperlukan di sini. Apakah ada komunikasi dengan kedutaan? Masih juga berlaku paspornya. Dia rakyat Malaysia, semua orang tahu di mana dia berada. Bukan dia menghilangkan diri, tidak. Dia ada di sini. Malaysia tidak mengenal dua kewarganegaraan. Bagaimana dengan sebutan "Indon" yang muncul di media massa Malaysia? Saya jelaskan, kini tidak ada lagi kata itu. Di sana, kadang-kadang sesama orang Indonesia menyebut "Indon". Kami tidak tahu bahwa perkataan ini sangat buruk dan dipakai media massa Malaysia. Mengapa masih banyak warga Aceh di sana dan tidak segera pulang? Memang ada. Mereka datang setelah tsunami. Banyak orang Aceh yang ke sana. Setelah mendapat otonomi dan sudah aman, kami suruh mereka balik. Ada juga yang belum dan minta diperpanjang setahun saja. Bila terkait masalah hukum, maka kami pulangkan. Seperti Filipina yang minta tolong warganya yang lari ke Malaysia karena melakukan pembunuhan. Maka, kami ambil orang itu dan diserahkan ke Filipina. Rakyat asing kami suruh pergi. Bagaimana penyelesaian sengketa perbatasan, tampaknya Malaysia ingin mencaplok wilayah Indonesia? Kami tidak ingin mengambil seinci pun negara orang lain. Begitu pun kami tidak mau negara lain mengambil seinci pun negara kami. Dalam hal ini, mari kita buktikan sama-sama melalui proses hukum internasional. Kini masih belum selesai permasalahan garis perbatasan. Tapi perkara ini terus diselesaikan. Baru-baru ini, ada rapat di Lombok. Mengenai ini, setiap dua bulan ada rapat. Tempatnya bergantian dan sudah masuk pertemuan yang ke-12. Ada jaminan tidak terjadi sengketa lagi? Pada prinsipnya, kami mendukung, menghormati yurisdiksi dan kedaulatan negara Indonesia. Kami tidak pernah ada pernyataan supaya mengambil wilayah lain. [Nasional, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 20 Maret 2008]
<<87.jpg>>
