http://www.sinarharapan.co.id/berita/0803/25/nus04.html


Tidak Akan Kembali untuk Papua Merdeka
Oleh
Soehendarto


JAKARTA - Hari Sabtu 23 Februari 2008 adalah hari yang bersejarah bagi Nicholas 
Simeon Messet dan Franzalbert Joku. Pada hari itu, kedua tokoh Organisasi Papua 
Merdeka (OPM) yang telah berjuang puluhan tahun di luar negeri untuk 
kemerdekaan Papua dan telah menjadi warga negara asing itu, telah kembali 
menjadi warga negara Indonesia. Akta kewarganegaraan Indonesia diserahkan oleh 
Alwi Hamu, utusan khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam suatu acara syukuran 
di Sentani, Jayapura. 


Dalam perbincangan santai dengan SH di sebuah kafe di Jakarta, Sabtu (15/3), 
Nick Messet mengungkapkan perjalanan hidupnya di luar negeri ketika menjadi 
warga negara Swedia. Melakukan lobi ke berbagai negara untuk mendapatkan 
dukungan perjuangan Papua Merdeka, sampai dia kembali lagi menjadi warga negara 
Indonesia (WNI). 


"Saya komitmen kembali dan tidak akan bermuka dua. Saya telah meninggalkan OPM 
dan tidak akan kembali lagi untuk perjuangan Papua Merdeka. Karena apa yang 
saya lihat di luar atau di dalam perjuangan untuk itu ternyata nol besar," 
tegasnya. Nick Messet meninggalkan Irian saat usia 43 tahun tanggal 3 September 
1969 dari Porasko, Jayapura dengan menggunakan perahu bermotor dan mendarat di 
Panimo, Papua Nugini (PNG), 4 Desember 1969 pukul 09.00 waktu setempat. Hampir 
dua tahun di kamp pelarian di satu tempat di PNG, kemudian mendapat beasiswa 
dari Australia, masuk sekolah pilot dan menjadi penerbang.  Awal mula 
perjuangan untuk Papua Merdeka, telah dimulainya pada saat usia 14 tahun, 
walaupun ia bertentangan dengan ayahnya, Tjontje Messet, seorang pejabat 
Republik Indonesia yang kemudian menjadi Bupati Jayapura.


Bapaknya sebagai Ketua Dewan Papua yang beranggotakan sebelas orang waktu itu, 
pada 30 April 1963 melakukan sidang Dewan Papua. Kalau waktu itu ayahnya 
mengetok palu memutuskan menyerahkan wilayah Papua ke negara, Papua bisa saja. 
Tetapi ayahnya mengatakan tidak, dan harus kembali menghormati perjanjian 
Agreement New York dan menyerahkan kepada Presiden Soekarno waktu itu tanggal 1 
Mei 1963, untuk membentuk Dewan Perwakilan Rakyat yang baru dan bergabung 
dengan NKRI. 


Sebagai ketidaksenangan dan ketidakpuasan dengan kondisi di Papua saat itu, 
Nick Messet nekat melarikan diri ke luar negeri. Sebagai pemegang paspor 
Swedia, untuk perjuangan Papua Merdeka ia bebas ke berbagai negara. Gejolak 
yang terjadi di Papua saat terbunuhnya Theys Eluay 10 November 2001, dia selama 
1,5 tahun sempat tinggal di Jakarta secara ilegal untuk menyelidiki dan 
mengetahui siapa sebenarnya pembunuh Theys. 


Pada 1 April 1994 pada hari Jumat Agung, pertama kali ia masuk Papua dari PNG, 
diajak oleh Franzalbert Joku. Setelah perjuangan untuk Papua Merdeka di luar 
negeri maupun di dalam negeri tidak membawa hasil, ia bersama Franzalbert Joku 
memutuskan kembali menjadi WNI dan ikut membangun Papua. 

Orang Papua Membangun 
"Saya tidak lagi OPM yang artinya Organisasi Papua Merdeka. Tetapi saya 
sekarang OPM yang artinya Orang Papua Membangun," ujarnya berseloroh. Orang 
Papua itu harus dididik untuk tidak berfoya-foya dan bermuka dua. Menjawab 
pertanyaan bagaimana kalau dicap sebagai pengkhianat oleh teman-teman 
seperjuangan, Nick Messet mengatakan, "Silakan, memang setiap orang punya hak 
untuk bicara dan berbuat."


Ia juga mengaku akan melakukan perjalanan keliling ke luar negeri untuk menemui 
rekan-rekannya dan mengajak kembali bersama-sama untuk membangun Papua. 
Keinginan ini telah disampaikan kepada pemerintah, tujuannya untuk menyampaikan 
informasi keadaan di Papua setelah ada Undang-undang Otonomi Khusus yang 
menjadi kewajiban bagi semua orang Papua untuk melaksanakannya.  Bendera 
Bintang Kejora itu dibuat 19 Oktober 1961. Penciptanya adalah Nicholas Youwe 
yang sekarang masih berada di negeri Belanda. Pada saat ia membuat bendera itu 
banyak orang tidak tahu, bahkan masih sampai sekarang mengatakan itu bendera 
kultural orang Papua, padahal yang benar adalah bendera perjuangan Papua 
Merdeka. 


Nicholas Youwe adalah tokoh OPM pertama, berdomisili di Den Haag. Bendera 
Bintang Kejora yang asli masih terpasang di ruang kerja Nicholas Youwe di Den 
Haag. Kamar tersebut adalah kamar pribadi dan tidak sembarang orang bisa 
melihat bendera itu. Istrinya sekalipun dilarang masuk ruang kerjanya. Ia 
berpesan kepada anaknya jika telah meninggal dunia, bendera itu harus masuk ke 
dalam peti jenazahnya. Nicholas Youwe lahir 24 Desember 1924.


Menjawab pertanyaan apakah ada usaha untuk mengajak Nicholas Youwe kembali ke 
Papua, Nick Messet mengatakan hal itu sudah direncanakan dan dia bersedia untuk 
kembali untuk bersama-sama berada di Indonesia. Hanya dia mengharapkan, semua 
pejuang Papua Merdeka yang berada di luar negeri dan telah sadar untuk kembali, 
mendapat jaminan dari pemerintah. Nick Messet mengatakan, dengan adanya UU 
Otsus dengan kucuran dana yang begitu besar, tentunya ke depan dapat 
menyejahterakan semua orang Papua. Namun kenyataannya, belum menyejahterakan 
orang Papua dan hanya dinikmati sebagian masyarakat.

Kirim email ke