http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2008/5/4/opini.html


Keajaiban Dunia Ke-8


TIBA-TIBA nama Naval Medical Research Unit 2 disingkat Namru-2, menyebar ke 
ruang publik Indonesia lantaran cekcok antara Menteri Kesehatan RI dengan 
beberapa staf asing lembaga itu. Lewat media, masyarakat baru tahu, kalau di 
negeri mereka ada Angkatan Laut Amerika Serikat bekerja sama dengan Departemen 
Kesehatan Indonesia, meneliti penyakit tropis. Lalu timbul pertanyaan, penyakit 
tropis apa saja yang diteliti Namru-2, padahal flu burung dan demam berdarah 
yang jadi momok masyarakat dan mewabah sejak beberapa tahun silam seperti sulit 
diatasi?

"Padahal menurut segelintir orang yang tahu, Namru-2, penelitian di bidang 
kesehatan yang dikelola AL-AS dan Depkes RI itu, konon sudah ada sejak 1970. 
Lucunya, Menkes RI yang tiba-tiba berkunjung ke laboratorium yang terletak di 
kawasan ramai di Jakarta itu, katanya, tidak mendapat perlakuan semestinya dari 
staf asing di lembaga penelitian itu. Bahkan mereka menuntut kekebalan 
diplomatik karena berada di bawah yuridiksi kedutaan besar AS di Indonesia. 
Perseteruan itu meledak jadi isu nasional setelah media mewartakannya. Dalam 
polemik, bukan cuma fungsi dari lembaga riset itu yang diributkan, tapi isu 
mata-mata asing juga terlontar, yang di antaranya tertuju pada seorang jubir 
presiden," tutur Rubag.

"Benar! Aku sempat menggunting gambar di Bali Post halaman 1 edisi 26 April, 
karena tertarik melihat kepala berhelm dan bertopeng gas, yang di bawahnya 
tertulis 'Namru Topeng AS untuk menjajah Indonesia'. Plakat yang dibawa para 
demonstran ke depan laboratorium Namru-2 itu, jika dianggap kesadaran atas 
keterjajahan, bagiku, adalah kesadaran yang terlambat. Sebab, seorang mantan 
bandit ekonomi berkebangsaan AS, John Perkins, telah menulis dua buku  berjudul 
'Pengakuan Preman Ekonomi' yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia," ujar 
Kudil.

Sanggra langsung mencegat Sanggra, "Mendingan terlambat dibanding tidak sadar 
sama sekali alias mati suri! Tidak semua orang mampu membeli buku, kendati 
mampu, mereka lebih senang mendengar ketimbang membaca, karena kantuk keburu 
menyerang sebelum membaca satu halaman. Apa saja tulis John Perkins tentang 
penjajahan?"

"Dia kisahkan, bagaimana negara-negara ketiga di Asia, Afrika dan Amerika 
Latin, yang baru merdeka pasca-Perang Dunia II dijebloskan dalam ember 
penjajahan bentuk baru.  Indonesia dikunjunginya tahun 1970, guna menjebak 
negeri ini dalam utang, yang tiap tahun bertambah akibat program pembangunan 
berjangka lima tahunan yang disebut 'Repelita'. Dengan dalih menyelamatkan 
Indonesia dari cengkeraman komunisme, tugas Perkins sebenarnya adalah menyedot 
kekayaan alam, khususnya minyak negeri ini. Maka dalam setiap kunjungannya, dia 
bernegosiasi dengan para pejabat Orde Baru, pengusaha yang menjadi kroni 
kekuasaan dan para politisi negeri ini. Perkins mengaku, melakukan segala 
pemerasan di negara-negara ketiga atas kendali ketamakan para pengusaha AS di 
bawah kebijakan luar negeri pemerintahnya," tutur Kudil.

"Kalau tak salah, tadi kau ada menyebut istilah 'ember penjajahan' bentuk baru. 
Mengapa ember, kenapa bukan sistem penjajahan baru?" tukas Meregeg.

"Istilah itu didapat Perkins ketika diajak nonton wayang Golek oleh seorang 
putra pengurus sebuah Wisma di Bandung, yang juga seorang aktivis kampus. Ki 
Dalang, malam itu memunculkan boneka Richard Nixon, diiringi komprador 
Indonesianya yang memegang ember di tangan. Dalam ember sudah ada nama dan peta 
negara-negara yang telah dijebloskan dalam penjajahan bentuk baru, lewat 
jeratan utang Bank Dunia atau IMF. Kalau tidak bisa ditundukkan lewat utang, 
maka dibikin terjungkal dalam kekacauan. Ternyata para penonton di sekeliling 
Perkins adalah para aktivis melek politik, yang seusai nonton bareng terlibat 
diskusi hangat dengannya karena para mahasiswa tersebut rata-rata paham bahasa 
Inggris."

"Wah, hebat! Tahun 1970-an sudah ada mahasiswa Bandung yang mampu berdebat 
dengan preman ekonomi antek-antek korporatokrasi. Ironisnya, baru-baru ini ada 
sebuah perguruan tinggi di Bali yang bangga mengiklankan bahwa beberapa tahun 
lagi para alumnusnya akan mampu berbahasa Inggris secara baik, agar bisa 
bersaing di pasar bebas. Tapi, itu baru iklan, kenyataannya bisa jadi beda! 
Kemampuan berbahasa, lebih banyak ditentukan oleh bakat dan minat, lebih afdol 
bila ditambah dorongan dan motivasi. Sebab, sering kita jumpai orang yang 
keluar-masuk kursus bahasa, bahkan tamatan perguruan tinggi, bahasa asingnya 
masih belepotan bila diajak bicara," papar Lonjong.

"Kau benar, Bung Karno pada 30 September 1960 di depan Sidang Umum PBB 
berpidato tentang 'Tata Dunia Baru' dengan bahasa Inggris tanpa teks. Pancasila 
yang ditawarkan Bung Karno sebagai referensi untuk negosiasi AS dan Uni Soviet 
agar Perang Dingin tidak meletus jadi Perang Dunia III dan dunia bisa harmonis 
dalam kedamaian, ditanggapi sinis utusan negara-negara adidaya. Bukan karena 
paparan Bung Karno sulit dimengerti atau karena ideologi itu terlalu utopis, 
melainkan karena dilontarkan pemimpin sebuah negara yang baru 15 tahun merdeka!"

"Sialan! Barat dan Timur sama saja, orang baru atau orang muda selalu dianggap 
lebih bodoh. Untung para utusan negara adidaya tidak bisa tembang 'eda ngaden 
awak bisa' untuk menjatuhkan mental Bung Karno, seperti dilakukan di Bali untuk 
menyela omongan anak yang dianggap terlalu wayah," potong Meregeg.

"Masalah sebenarnya, Presiden I RI itu selalu mendengungkan netralitas bahkan 
jadi pencetus negara-negara nonblok, yang tidak disukai pihak kapitalis maupun 
komunis. Sebab prinsip mereka 'kalau Anda tidak di pihak kami, Anda adalah 
musuh kami'. Makanya, negeri ini tidak pernah henti digoyang subversi dan soal 
mata-mata bukan perkara baru di Indonesia.   Coba baca 'Subversi sebagai 
Politik Luar Negeri' karya Audrey R. Kahin dan George Mc T Kahin, juga tulisan 
Paul F. Gardner berjudul '50 Tahun Amerika Serikat Indonesia' yang mengulas 
berbagai pemberontakan bersenjata di negeri ini sejak merdeka hingga awal 
1960-an," tegas Kudil.

"Setelah Perang Dingin usai, pemberontakan bersenjata juga surut, namun 
kriminalitas bersenjata meruyak ke seantero negeri. Perekonomian alami 
stagflasi, pengangguran terus bertambah, tapi barang- barang produk asing 
membanjiri negeri ini, yang anehnya, konon omzet penjualannya cukup tinggi. 
Gaya hidup mewah mewabah ke seluruh strata, tragisnya kelaparan, kekurangan 
gizi, pengidap stres dan bunuh diri juga meningkat. Setiap saat terberitakan 
ribuan sarjana dari berbagai disiplin ilmu diwisuda, tapi persoalan SDM 
berkualitas rendah tetap jadi masalah. Apakah semua ini akibat ulah mata-mata?" 
tanya Rubag.

"Pertanyaanmu sulit dijawab, namun bagiku, inilah keajaiban dunia yang 
kedelapan. Negeri ini seakan menjadi laboratorium raksasa dipenuhi hal-hal aneh 
dan kontroversial. Pun jika ilmuwan setaraf Hawking diminta meneliti negeri ini 
mungkin akan menyerah, karena segala teori dan metodologi yang  digunakan 
justru akan dilumat hancur 'lubang hitam' keanehan dan kontroversi itu," 
komentar Kudil.

Kirim email ke