http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008042901305416

      Selasa, 29 April 2008 
     

      BURAS
     
     
     
     

KPK, Cerita Sedih dari Senayan 


       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      "KPK--Komisi Pemberantasan Korupsi--akhirnya menggeledah ruang kantor 
sejumlah anggota DPR terkait kasus Al Amin Nur Nasution, tanpa peduli pada 
suara lakangan DPR untuk membubarkan KPK!" ujar Umar.

      "Suara kalangan DPR untuk membubarkan KPK sebagai perlawanan terhadap 
lembaga yang dibentuk sendiri oleh legislatif (lewat amendemen konstitusi) itu 
jelas merupakan cerita sedih dari Gedung DPR, Senayan!" sambut Amir. "Sedih 
ibarat DPR itu pandai besi pembuat tombak, ternyata tombak itu mengarah ke 
pembuat sendiri--senjata makan tuan!"

      "Lebih menyedihkan lagi karena dari pendapat umum yang mengalir, rakyat 
justru mendorong dan memberi semangat kepada KPK untuk maju terus membersihkan 
korupsi di lembaga wakil rakyat itu!" tegas Umar. "Soalnya, selama ini kalangan 
DPR tidak mengacuhkan hasil survei Transparency International yang menempatkan 
partai politik dan DPR pada ranking atas korupsi di Indonesia! Padahal, sejak 
dana kelautan dan perikanan yang menyebabkan Rohmin Dahuri--mantan 
Menteri--dipenjara 8 tahun, lalu dana BI yang membuat Gubernur BI Burhanuddin 
Abdullah masuk tahanan, semua mengalir ke kalangan DPR! Pengungkapan korupsi 
dari sisi DPR yang sedang dilakukan KPK hasilnya ditunggu rakyat, Untuk 
memperjelas pola korupsi yang di-seeded Transparency International itu!"

      "Paling menyedihkan, entakan suara di DPR untuk membubarkan KPK itu 
justru dari partai yang dilahirkan reformis!" tukas Amir. "Entah bagaimana 
rekrutmen partai itu, sampai bisa 'kecolongan' orang yang tidak memahami arti 
pemberantasan korupsi sebagai amanat reformasi lewat Tap MPR No. XI/1999. 
Selain pembentukan KPK sendiri dilakukan atas perintah konstitusi!"

      "Memang menyedihkan!" timpal Umar. "Termasuk kurangnya pemahaman DPR 
terhadap UU Pers sebagai jaminan kemerdekaan pers itu amanat reformasi sehingga 
seenaknya saja membuat UU Pemilu yang menabrak kemerdekaan pers!"

      "Harapan akhirnya terpulang ke parpol agar meningkatkan kualitas kadernya 
yang direkrut mengisi jabatan-jabatan dalam pengelolaan negara sehingga hal-hal 
yang menyedihkan tidak selalu berulang datang dari Senayan!" tegas Amir. 
"Selain kualitas teknis di bidang tugasnya, kualitas moral dan integritas 
kepribadiannya menjadi dasar seleksi yang harus amat tegas diterapkan! Dengan 
multikualitas yang serbaprima itu, bukan hanya cerita sedih dari Senayan bisa 
diakhiri, melainkan lebih penting lagi, kapasitasnya menyelesaikan masalah 
bangsa bisa diandalkan! Bukan malah menjadi bagian dari masalah yang memang 
sudah serbaamat ruwet itu!"

      "Di samping seleksi multikualitas itu, masih perlu dilengkapi dengan 
teknik dan gaya bicara yang baik!" timpal Umar. "Dengan begitu para tokoh yang 
menjadi wakil rakyat di Senayan itu tidak lagi asal cuap dan semata menonjolkan 
kekuasaan! 'Bubarkan KPK!' yang diucapkan anggota DPR sebuah contoh asal cuap 
sok kuasa, jauh dari pemahaman pada sistem ketatanegaraan!
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke