Refleksi: Kalau mafia impor BBM  terdiri dari  petinggi penguasa NKRI, 
bisa-bisa yang mau sikat disikat. Inilah akbibat kalau umum  berpendapat 
masabodoh dan memilih penipu bin tukang catut dalam pemilihan umum untuk 
dijadikan penguasa negara. 

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0805/13/sh02.html


Sikat Mafia Impor BBM, Jangan Sengsarakan Rakyat     


Jakarta - Sejumlah ekonom yang berorientasi pada kepentingan ekonomi nasional 
menantang debat terbuka atas kebijakan pemerintah Yudhoyono-Kalla yang ingin 
menaikkan harga BBM. Kebijakan pemerintah Yudhoyono-Kalla yang berencana 
menaikkan harga BBM dinilai merupakan kebijakan yang terlalu berani melihat 
kondisi masyarakat yang hidupnya sudah dan semakin terimpit beban berat.
Demikian pendapat yang dihimpun dari sejumlah ekonom, yakni Ketua Umum Komite 
Bangkit Indonesia dan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, Ekonom Tim 
Indonesia Bangkit Ichsanuddin Noorsy dan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan 
Universitas Gadjah Mada M Maksum.


Menurut Rizal Ramli, presiden dan para menterinya telah melakukan kebohongan 
publik, dengan berkali-kali menyatakan kenaikan harga BBM merupakan pilihan 
terakhir. Mereka cenderung mencari solusi gampangan, dengan mengalihkan beban 
ke pundak rakyat yang sudah menderita. "Kehidupan rakyat sudah sangat berat. 
Kondisi sekarang sangat berbeda dengan tahun 2005. Rakyat kini sudah babak 
belur dihantam kenaikan harga pangan dan merosotnya pendapatan.  Sementara itu, 
omzet UMKM anjlok hingga 30-40 persen. Semua ini terjadi karena pemerintah 
tidak mampu menstabilisasikan harga. Saya tidak habis mengerti, bagaimana 
mungkin pemerintah mengabaikan kenyataan ini. Ini kok malah mau menaikkan harga 
BBM lagi," tukas Rizal. 


Rizal mengaku sangat prihatin dengan pembentukan opini yang dilakukan 
pemerintah dan berbagai lembaga penganut Jerat Washington (Washington 
Consensus), bahwa seolah-olah kenaikan harga BBM adalah langkah terakhir. Kalau 
saja pemerintah kreatif, mau dan berani, sejatinya banyak alternatif lain untuk 
menyelamatkan APBN tanpa harus menaikkan BBM. Beberapa langkah itu, antara lain 
mereformasi tata niaga migas dan menghapuskan mafia impor migas.  "Telah 
menjadi rahasia umum, proses pengadaan dan distribusi BBM oleh Pertamina sarat 
dengan KKN dan ketidakefisienan. Yudhoyono harus berani menyikat mafia yang 
mengutip minimal US$ 2/barel dari impor minyak. Kenapa ini tidak dilakukan?" 
katanya.
Rizal Ramli menilai Yudhoyono tidak berani melakukan renegosiasi dengan 
kreditor untuk memperoleh penundaan pembayaran utang, tidak berani mengurangi 
subsidi bank rekap, tidak berani memberantas mafia impor BBM, dan tidak mampu 
mengurangi inefisiensi di Pertamina dan PLN. 

"Tetapi Presiden dan Wapres sangat berani jika membuat kebijakan yang 
menyusahkan rakyat," tukasnya. Noorsy juga menantang pemerintah dan 
menteri-menteri ekonomi untuk berdebat soal kebijakan kenaikkan BBM. Pemerintah 
sebenarnya memiliki banyak opsi namun tidak mau dan tidak berani melakukan. 
Selain menaikkan BBM, pemerintah bisa melakukan penghentian korupsi 
ekspor-impor pengadaan BBM, menghentikan biaya cost recovery yang merugikan, 
melakukan penundaan pembayaran utang, transparan menjelaskan kondisi net cash 
in dan net cash out (arus dana yang masuk dan keluar) akibat kenaikan minyak 
dunia. Ekonom yang lebih suka disebut beraliran nasionalis-strukturalis ini 
mendesak pemerintah untuk tidak lagi mengikuti kebijakan-kebijakan menyesatkan 
dari ekonom-ekonom pasar bebas yang tidak paham ekonomi-politik internasional. 
"Para tim ekonomi hanya semata-mata melihat apa yang disampaikan IMF, Bank 
Dunia, ADB dan investor sebagai hal yang ideal dalam menangani perekonomian 
nasional," tandasnya.


M Maksum menyatakan kenaikan BBM akan semakin menyengsarakan para petani yang 
sudah terimpit kenaikan kebutuhan pokok. "Kenaikan harga BBM akan menyebabkan 
harga beli terhadap kebutuhan pokok naik tetapi harga jual petani menurun," 
katanya. Petani terpaksa harus menanggung kenaikan biaya transportasi. Ia 
menambahkan akibat kenaikan BBM akan semakin menyengsarakan buruh tani di 
pedesaan. "Kenaikan biaya produksi menyebabkan pengurangan tenaga kerja buruh 
sehingga akan banyak buruh tani yang kehilangan pekerjaan," tandasnya. 
Pemerintah bertindak serampangan dan hanya pintar menyusahkan masyarakat kelas 
bawah. 

Antrean Panjang BBM
Kekhawatiran terhadap tingginya harga BBM yang akan diumumkan pemerintah, 
membuat masyarakat beramai-ramai memborong BBM di stasiun pengisian bahan bakar 
umum (SPBU) maupun di pengecer. Dari pantauan SH di beberapa SPBU besar di Kota 
Malang, sejak Senin (12/5), pembelian premium dan solar meningkat antara 2-5 
kiloliter per hari, paling banyak oleh pengendara sepeda motor. Untuk 
mengantisipasi penimbunan, di tiap SPBU dipasang tulisan larangan pembelian 
dengan jerigen. 


Diperkirakan pembelian akan terus meningkat mendekati akhir Mei sebagai batas 
waktu dinaikkannya harga BBM. "Penjualan premium pada hari biasa sekitar 25 
kiloliter naik menjadi 30 kiloliter," ungkap Sugiyanto, petugas SPBU Jl 
Panglima Sudirman. Pembelian solar juga mengalami kenaikan sekitar 2 kiloliter, 
dari biasanya 8 kiloliter menjadi 10 kiloliter per hari. Di Sumatera Barat, 
stok premium dan solar juga semakin menipis. Situasi ini kemudian dimanfaatkan 
oleh sejumlah pengecer dengan menjual premium hingga Rp 10.000 per liter. Di 
Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), kondisi ini sudah berlangsung sejak seminggu 
lalu, dengan antrean panjang di tiga SPBU.


Tidak jauh beda dengan Pasaman Barat, BBM di Pesisir Selatan juga meningkat di 
tingkat pengecer, mencapai Rp 6.000 per liter, mengakibatkan antrean panjang di 
beberapa SPBU. Begitu pula di Solok, stok BBM semakin menipis karena diserbu 
masyarakat. 
Selain bensin, ada pula warga yang memanfaatkan momen rencana kenaikan BBM 
dengan menimbun solar. Seperti yang dilakukan AF (29) warga Jl Rayid Baroneang 
Pariaman, yang diringkus polisi dengan barang bukti 1.000 liter solar subsidi 
yang akan dibawa keluar kota. Asisten II Setprov Sumbar, Surya Dharma Sabirin, 
menjelaskan pihaknya akan mengeluarkan kebijakan pembatasan pembelian BBM 
melalui jerigen di SPBU. 


Sementara itu, demo penolakan kenaikan harga BBM terus berlanjut di hampir 
semua wilayah. Senin kemarin, Ikatan Muhammadiyah Malang (IMM) Komisariat 
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdemo di Kantor DPRD Kota Malang. 
Selain berorasi, mereka juga membagikan selebaran berisi ajakan penolakan 
kenaikan harga BBM. 


Demikian pula unjuk rasa di Pekanbaru, dilakukan oleh ribuan massa yang 
tergabung dalam Sentral Gerakan Rakyat (Segera) dan Forum Komunikasi Mahasiswa 
Peduli Riau (Forkompari), dilakukan di depan kediaman gubernur, Gedung DPRD 
Riau, dan mendatangi sejumlah SPBU. Aksi massa ini nyaris ricuh dan terjadi 
insiden saling dorong dengan polisi. Tetapi akhirnya polisi mengalah dan 
membiarkan koordinator lapangan dan simpul mengendalikan massanya.


Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Jawa Barat pun tegas menolak 
rencana kenaikan harga BBM. Menurut Ketua Organda Jabar, Andriansyah, naiknya 
harga BBM justru membuat load factor (jumlah penumpang) angkutan umum semakin 
menurun, padahal operasional cost (biaya operasilnal)-nya bertambah. Jika harga 
BBM naik 30 persen, berarti biaya operasionalnya naik 10-20 persen, dan jumlah 
penumpang turun 20 persen.


Ia tidak begitu antusias menanggapi kebijakan Menteri Perhubungan yang 
memperbolehkan kenaikan tarif hingga 15 persen. Sebab selama ini saja jumlah 
penumpang turun 50 persen akibat semakin banyaknya orang yang beralih 
menggunakan sepeda motor. Idealnya, jumlah penumpang sekitar 75 persen. 


Jumlah armada angkutan umum di Jabar 3.400 unit untuk angkutan kota dalam 
propinsi (AKDP) dan 2.300 unit untuk angkutan kota antar propinsi. Sebanyak 60 
persen di antaranya merupakan angkutan kelas ekonomi. Andriansyah mengungkapkan 
selama ini hanya 70 persen armada yang beroperasi, dan dipastikan jumlah ini 
akan bertambah sebagai imbas kenaikan harga BBM. 
Jika pemerintah tidak memberikan subsidi, maka armada kelas ekonomi akan 
berkurang, sehingga lebih banyak armada layanan komersial. 
(sigit wibowo/eka susanti/purwandi/denny w

Kirim email ke