Refleksi: Rupanya telah ditetapkan garis penguasa NKRI untuk menjadikan Indonesia negara exportir pangan tropis, karena tgl 12 Mei 2008, di Stockholm School of Economics, Profesor Dorodjatum Kuntjoro-Jakti dari Uniniversitas Indonesia memberikan kuliah berjudul " From Suharto to Susilo Bambang Yudhoyono Economic and Political Development in Indonesia", memberikan gambaran serupa. Kurang lebih 40 peserta kuliah yang dari berbagai instansi termasuk wakil dari beberapa kedutaan , misalnya Malaysia, Jepang , Inida, Slovenia dan tentunya KBRI. Sebagai catatan barangkali kuliah yang dilakukan ini sebagai informasi pendahuluan bagi kunjungan SBY ke Europa beberap waktu lagi.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0805/13/opi01.html Menjadi Negara Eksportir Pangan Tropis Oleh Siswono Yudo Husodo Kenaikan harga pangan terjadi karena beberapa alasan. Pertama, karena penduduk dunia bertambah. Setiap 15 tahun, penduduk dunia bertambah 1 miliar jiwa. Kedua, karena sebagian komoditas pertanian yang tadinya hanya digunakan untuk keperluan pangan, seperti jagung, tebu, dan CPO juga digunakan secara besar-besaran sebagai energi alternatif, biofuel. Ketiga, meningkatnya permintaan produk ternak, yang menyebabkan peningkatan kebutuhan akan pakan ternak untuk memproduksi ternak yang lebih banyak. Produk pertanian untuk manusia seperti kedelai, jagung, juga digunakan untuk pakan ternak. Keempat, seiring dengan kemunduran di pasar modal dan pasar finansial global, banyak investor yang mengalihkan arena permainan ke perjudian di bursa komoditas, akibatnya harga komoditas meningkat. Kelima, pengaruh cuaca terkait global warming. Keenam, kebijakan negara-negara produsen menghentikan ekspor, memberi dampak psikologis yang tidak menguntungkan. Penyebab-penyebab diatas masih ditambah dengan ekonomi China dan India yang berpopulasi raksasa tumbuh tinggi. Menyebabkan orang China dan India lebih sejahtera dan bisa makan lebih banyak dari sebelumnya. Idealnya, era baru dimana harga pangan meningkat tinggi perlu dimanfaatkan untuk mendorong sektor pertanian menjadi motor dari kebangkitan ekonomi nasional. Ini wajar mengingat sektor pertanian yang sehat dapat diandalkan untuk memperbaiki dua hal sekaligus: kesejahteraan rakyat yang mayoritasnya petani dan landasan yang kokoh bagi pembangunan ekonomi kedepan. Indonesia perlu memanfaatkan peningkatan kebutuhan dunia akan beras, jagung, tebu, CPO, kedele, karet, teh, coklat, kopi dan lain-lain produk pertanian tropis, dengan meningkatkan produksi. Indonesia bukan hanya berpotensi swasembada, tetapi juga menjadi eksportir produk-produk pertanian tropis, sekaligus dengan agroindustrinya. Indonesia berpotensi menjadi pengeskpor utama produk-produk pertanian tropis, seperti beras, kopi, coklat, jambu mete, gula tebu, jagung, karet, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, lada putih, lada hitam, pala, minyak sawit, cengkeh, teh, minyak atsiri, buah-buahan tropis (durian, manggis, belimbing, nenas, pisang, rambutan, kelengkeng, duku) dan lain-lain dengan produk-produk turunannya. Produk Pertanian Tropis Secara politik, Indonesia akan lebih dihargai dunia bila berhasil menjadi negara pemasok kebutuhan pangan dunia akan produk-produk pertanian tropis. Untuk dapat mengambil peran itu, disamping pembinaan petani-petani yang ada, perlu dikembangkan pendekatan baru dengan melibatkan perusahaan pertanian besar dengan mekanisasi, dalam hubungan inti dan plasma. Perusahaan saya di Kurik, Merauke, sedang membuka 500 Ha kebun jagung bergantian kedele dan kacang tanah, dan dipersiapkan perluasannya sampai 10.000 Ha bekerja sama dengan petani-petani setempat. Ketidaksiapan Indonesia menyongsong era baru pertanian ini dalam banyak hal adalah buah kesalahan dimasa lalu. Reforma agraria amat lamban kita lakukan. Luasan lahan yang diusahakan per keluarga petani menjadi berkurang karena berbagai sebab, utamanya oleh sistem pewarisan, yang telah menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan di desa. Jumlah petani gurem, yaitu petani yang menguasai lahan kurang dari 0,2 Ha/keluarga meningkat. Pemerintah perlu memberikan perhatian serius pada persoalan ini. Ke depan dalam jangka menengah, Indonesia harus segera memperluas lahan pertanian dan melalui reforma agraria dan memodernisir kegiatan disektor pertanian. Peningkatan skala usaha per keluarga petani adalah jawaban atas tuntutan efisiensi. Penyempitan lahan telah menyebabkan menurunnya produktivitas berbagai produk pertanian. Produktivitas pertanian kita dahulu termasuk yang terbaik di dunia, untuk gula tebu dahulu pernah mencapai 15 ton/Ha, sekarang tinggal 7 ton/Ha, jauh dibawah India yang mencapai 11 ton/Ha; di kopi tinggal 1 ton/Ha, dibawah Vietnam (1,5 ton/Ha) yang dulu belajar menanam kopi dari kita, di coklat kita hanya 0,8 ton/Ha, Malaysia 1,5 ton/Ha. Meningkatnya persaingan antarnegara dalam bidang ekonomi juga mendorong setiap negara meningkatkan efisiensi industrinya. Brasil adalah contoh negara yang berhasil mengembangkan industri pertanian dengan efisiensi yang tinggi dari sisi pemangkasan biaya transportasi. Water front plantation di tepi Sungai Amazon, menghasilkan efisiensi luar biasa bagi ekspor pertaniannya. Setiap produk pertanian yang dihasilkan langsung dikirim ke pasar dunia melalui pelabuhan yang ada di muka perkebunan-perkebunan raksasa. Untuk jagung, gula tebu, kedele, tapioka, tak ada negara yang bisa menyaingi Brasil dalam hal harganya. Sementara di negara kita, membawa 1 ekor sapi dari Bima ke Jakarta, ongkosnya 180% lebih mahal daripada membawa sapi dari Darwin ke Jakarta. Brasil yang Berhasil Infrastruktur pertanian kita (irigasi, jalan-jalan desa dan jalan dari pusat-pusat produksi pertanian kepasar/pelabuhan) masih sangat memprihatinkan. Infrastruktur transportasi sangat besar peranannya dalam membentuk harga produk pertanian di Indonesia, yang memerlukan perbaikan-perbaikan yang mendasar. Selain itu, pengembangan industri berbasis pertanian perlu lebih digalakkan dengan memberi insentif dan memanfaatkan pasar dalam negeri. Cita-cita menjadi negara eksportir pangan tropis haruslah merupakan tujuan dari pembangunan pertanian di Indonesia, setelah melewati tahapan swasembada. Hal ini layak dilakukan mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang dianugerahi kekayaan alam yang sangat beragam. Buku World in Figures edisi 2003 yang diterbitkan oleh majalah The Economist, membeberkan fakta posisi terhormat Indonesia di bidang pertanian. Indonesia adalah penghasil biji-bijian terbesar no.6 di dunia; penghasil beras no.3 di dunia setelah China dan India; penghasil teh terbesar no.6 di dunia; penghasil kopi terbesar no.4 di dunia; penghasil cokelat terbesar no.3 setelah Ghana dan Pantai Gading; penghasil minyak sawit no.2 setelah Malaysia (sekarang menjadi no.1); penghasil karet alam no.2 setelah Thailand; penghasil cengkeh, pala, puli dan lada putih terbesar di dunia. Upaya meningkatkan produksi pangan perlu mempertimbangkan liberalisasi yang amat pesat di semua sektor kehidupan, tak terkecuali di sektor pertanian. Negara perlu meningkatkan perlindungan pada petani. Liberalisasi perdagangan dunia ini menjadikan petani dari berbagai negara dengan kondisi sosial ekonomi dan penggunaan teknologi yang berbeda, harus bersaing bebas dipasar yang sama. Tekanan untuk melakukan liberalisasi perdagangan, telah memaksa Indonesia membuka pasar domestiknya, ditengah kondisi pertanian kita yang daya saingnya amat rendah. Meskipun pertemuan WTO di Cancun, Meksiko 2003; Hongkong 2005; Geneva 2006, gagal menyusun sistem perdagangan internasional baru, namun kita berlomba dengan waktu yang sangat terbatas oleh tahapan-tahapan yang ditetapkan WTO, sebelum dunia benar-benar menjadi satu pasar bebas dunia, ditahun 2020. Setiap peluang dari pengaturan di masa transisi yang ditetapkan WTO ini yang dapat digunakan haruslah kita manfaatkan secara optimal untuk memperkuat pertanian kita. Penulis adalah praktisi peternakan dan pertanian. Tulisan ini disadur dari makalah untuk Seminar Sinar Harapan-Agrina tentang Krisis Pangan di Hotel Aryaduta, 6 Mei 2008.
