15/05/08 13:34
Akbar : Indonesia Butuhkan Pemimpin Yang Mampu Hadapi Globalisasi
http://www.antara.co.id/arc/2008/5/15/akbar--indonesia-butuhkan-pemimpin-yang-mampu-hadapi-globalisasi/


Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua DPR Akbar Tandjung mengatakan, Indonesia 
membutuhkan seorang pemimpin yang kuat dan memiliki visi ke depan dalam 
menghadapi tantangan globalisasi yang semakin berat.

Hal tersebut disampaikan Akbar pada acara Temu Silaturahmi Antar Generasi 
bertema "Kebangkitan Nasional Babak Dua" yang diselenggarakan Komunitas 
Keluarga Besar (KKB) Angkatan 66, di Jakarta, Kamis.

Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan 
Nasional 1908-2008 itu dihadiri para aktivis pergerakan nasional dari angkatan 
45, 66, 74, 78 dan 98.

"Hakekat seorang pemimpin bangsa itu adalah mempunyai amanah dan mampu hadapi 
kesulitan di tengah kondisi yang serba sulit," katanya dalam acara yang juga 
dihadiri tokoh Angkatan 66, Cosmas Batubara, itu.

Akbar Tandjung yang juga aktivis Angkatan 66 itu menambahkan, dalam sistem 
demokrasi di Indonesia, hanya partai politiklah yang berhak mengajukan calon 
presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden yang dilaksanakan secara 
langsung, terbuka, dan demokratis.

"Tetapi tentunya parpol yang berhak mengajukan itu juga harus memenuhi syarat 
dukungan suara yang cukup melalui pemilu legislatif. Karena itu, parpol 
diharapkan dapat menetapkan pemimpin yang betul-betul sesuai dengan harapan 
rakyat," katanya.

Akbar yang juga mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu menganggap penting 
dilakukannya rekrutmen calon pemimpin bangsa oleh partai politik sesuai 
mekanisme partai tersebut.

"Kita harus berani mendorong parpol untuk menyeleksi calon pemimpin yang bisa 
diandalkan," katanya.

Pada bagian lain, Akbar Tandjung juga menyinggung mengenai penyederhanaan 
jumlah partai politik yang dinilainya memang saat ini terlalu banyak.

"Kita tidak perlu jumlah partai yang terlalu banyak. Akan lebih bagus kalau ke 
depan didorong penyederhanaan partai, tetapi harus secara demokratis dan tumbuh 
dari kesadaran bahwa negara kita memang tidak memerlukan jumlah partai yang 
banyak," katanya.


Kondisi bangsa

Sementara itu, Ketua Umum KKB Angkatan 66, Bangun Usman Harahap, menyatakan 
rasa keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini, ditandai dengan hilangnya rasa 
persatuan dan kesatuan.

"Perbedaan pendapat selalu diselesaikan dengan mengedepankan keegoan dan 
arogansi, sehingga kekerasan kerap terjadi di mana-mana, hanya untuk 
mempertahankan pendapatnya," katanya.

Hal tersebut, kata Usman harahap , harus segera dihentikan dengan kembali 
menanamkan semangat kesatuan dan persatuan bangsa melalui momentum seabad 
Kebangkitan Nasional.

Sedangkan Ketua Umum Dewan Harian Nasional Angkatan 45 (DHN 45) R Soeprapto 
menilai, orde reformasi sejak 1998 hingga saat ini kurang terpimpin, tidak 
terprogram dan tidak terkoordinasikan dengan baik. 

Akibatnya, muncul krisis moralitas dan krisis sosial ekonomi.

"Jadi reformasi ini berjalan tidak pada jalur yang benar. Ini bisa terjadi 
antara lain karena lemahnya kepemimpinan nasional," katanya.

Karena itu , lanjut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, perlu ada gerakan moral 
untuk membangkitkan kembali semangat kebangsaan agar bangsa Indonesia dapat 
meraih masa depannya yang lebih baik. (*)


COPYRIGHT © 2008



      

Kirim email ke