BBM Naik, Penumpang Tercekik Tarif
Minggu, 25 Mei 2008 | 20:53 WIB
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/25/2053564/bbm.naik.penumpang.tercekik.tarif..
Laporan Wartawan Kompas, Andy Riza Hidayat
MEDAN, MINGGU -- Dua hari setelah kenaikan harga bahan bakar minyak, warga
mulai merasakan imbasnya di sektor transportasi. Mereka merasa tercekik dengan
kenaikan tarif baru yang
mencapai 20 persen dari tarif lama. Padahal belum ada penetapan resmi
kenaikan tarif transportasi dari pemerintah maupun organisasi angkutan
darat.
"Saya tidak tahu ada kenaikan. Sopir meminta saya harus membayar lebih. Kalau
tidak terpaksa pergi, saya tidak akan pergi-pergi. Biaya naik
angkutan tambah mahal. Padahal gaji saya tidak ada kenaikan," kata
penumpang angkutan kota yang tinggal di Jalan Willem Iskandar, Medanbernama Ari
(24), Minggu (25/5) saat ditemui.
Ari beruntung tidak sampai harus dua kali naik angkutan. Meski sekali naik ke
tempat tujuannya di Jalan Letjend MT Haryono, dia merasa keberatan dengan tarif
baru."Sebelumnya dia membayar tarif angkutan kota sekali naik Rp 2.500.
Sedangkan kini dia harus membayar Rp 3.000 sekali naik. Tarif antar terminal
bisa lebih dari itu," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Yuni (24) penumpang angkutan kota asal Batang Kuis,
Deli Serdang. Dia menyesalkan pemerintah memutuskan kenaikan BBM. Kenaikan BBM
tidak saja berimbas pada tarif angkutan, melainkan juga harga kebutuhan bahan
pokok.
"Sekarang harga beras saja sudah naik dari Rp 5.600 per kilogram menjadi Rp
5.800 per kilogram. Kalau bisa, keputusan menaikkan harga minyak bisa
dibatalkan," kata pegawai di sebuah perusahan konveksi CV Nita Garmen. Yuni
setiap bulan menerima gaji Rp 400.000 sampai Rp 500.000. Gajinya tidak tetap,
tergantung omzet penjualan perusahaannya.
Tuntutan
Imbas naiknya harga BBM juga dirasakan Budiman, salah satu penarik becak motor
yang mangkal di kawasan Pusat Pasar Medan. "Dia terpaksamenaikan tarifnya dua
hari belakangan. Kenaikan tarif itudia lakukanuntuk menutupi ongkos membeli
bensin yang sudah naik. Ini saya berlakukan agar penumpang membantu saya
menutupi ongkos bensin," katanya.
Dia menaikkan ongkos antara Rp 1.000 sampai Rp 5.000 sekali perjalanan. Jika
penumpang tidak bersedia, Budiman pun terpaksa mengangkutnya karena mencari
penumpang susah.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda )Sumut Iskar Ismail Lubis mengatakan
kenaikan tarif angkutan merupakan
hal yang wajar. Hal itu merupakan tuntutan para pengusaha angkutan yang
terjepit harga BBM. Dia menuding pemerintah gegabah menaikkan harga BBM tanpa
melihat dampak yang ditimbulkan. "
Apakah kenaikan tarif angkutan tidak diperkirakan sebelumnya. Pengusaha
angkutan tidak bisa disalahkan karena mereka menaikkan tarif. Kalau
tidak menaikkan tarif, bagaimana kami menutupi biaya BBM yang naik,"
katanya.
Sebelum kenaikan harga BBM 40 persen pengusaha angkutan di Sumut sudah merasa
kesulitan menjalankan usahanya.
Dia belum mengecek dampak kenaikan harga BBM sekarang terhadap usaha
angkutan darat. Sangat mungki, tuturnya, mereka mulai menutup usahanya.