Refleksi: Cerita lurus, anunya juga  lurus, cuma saja otak  polisi miring, dan 
oleh karena itu mereka main serong.

http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=115828


Asusila
Cerita Miring dari Ruang Polsek




Kalau pengakuan perempuan malang ini terbukti, sungguh tak terpuji laku tiga 
oknum polisi. Bayangkan, tega-teganya ketiga oknum aparat itu memerkosa Ika 
(nama samaran), si perempuan apes tadi. Satu kesempatan di sebuah bedeng, dua 
aksi lainnya di dalam salah satu ruangan di kantor polisi. Ika pun dicekam 
trauma hebat.

Sepenggal kisah pilu yang mencoreng korps baju cokelat ini berembus dari Desa 
Muara Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan. Gaungnya sampai ke ibu kota 
kabupaten, bahkan ibu kota provinsi di Palembang. Maklum, Ika menumpahkan 
kepedihannya itu secara terbuka kepada pers di Palembang. "Aku menuntut 
keadilan," ujarnya, sendu.

Tapi keadilan yang dituntut Ika sepertinya masih jauh dan remang. Sampai Selasa 
lalu, ketiga polisi yang ditudingnya memerkosa itu masih bebas berkeliaran. 
Pihak kepolisian menyatakan tidak menemukan bukti yang cukup. "Itu fitnah," 
kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Banyuasin, AKBP Budi Suprayoga.

Toh, Ika tetap ngotot dengan pengakuannya. Malah perempuan 19 tahun ini berani 
bersumpah. "Demi Tuhan, aku benar-benar diperkosa. Aku takut karena ditodong 
pistol dan diancam akan dibunuh," kata Ika, sengit, kepada Gatra. Ia pun sedih 
dan tak habis pikir kenapa malah dituding menyebar fitnah.

Penuturan Ika, tragedi itu berawal ketika pada Sabtu sore 19 April silam ia 
dari rumah saudaranya hendak pulang ke rumahnya. Ketika lewat di sebuah 
jembatan, ia terpeleset hingga badan dan mukanya luka. Bripda Muksin, yang 
kebetulan melintas dengan sepeda motor, menawarkan jasa mengantar Ika.

Muksin adalah Kepala Unit Reskrim Kepolisian Sektor (Polsek) Polsek Muara 
Telang. Ia dan Ika cukup saling mengenal karena ia sering ke rumah menemui 
Abas, pengusaha sarang walet. Sedangkan Ika yang bertubuh padat dan berwajah 
manis ini istri muda Abas.

Ika menerima tawaran itu. Malangnya, sepeda motor dibelokkan ke sebuah bedeng 
kosong. Menurut Ika, di situlah Muksin mengajaknya bersetubuh. Ika tak kuasa 
menolak karena Muksin menodong dan mengancam akan membunuhnya.

Motor kemudian meluncur ke Polsek Muara Telang. Ika diserahkan ke petugas 
piket, Bripda Doni dan Bripda Junizar. Sebelumnya, Muksin menyuruh Ika mengaku 
habis dipukuli suaminya. Herannya, Ika manut saja. Katanya sih, lantaran takut. 
Ika berharap pertolongan Doni dan Junizar.

Tapi, kata Ika pula, pada malam itu kedua oknum polisi tersebut malah 
menggiringnya ke ruang belakang polsek dan memerkosanya. "Aku sudah memohon 
jangan, tapi mereka tak peduli, tak kasihan sama aku," tutur Ika sambil 
terisak. Besoknya, Ika disuruh pulang begitu saja.

Aisyah, saudaranya yang juga istri tua Abas, curiga melihat Ika murung 
berhari-hari. Ika akhirnya buka mulut. Aisyah dan madunya itu kemudian menunjuk 
Chairul S. Matdiah sebagai pengacaranya. Ika lantas membeberkan kisahnya itu 
dalam konferensi pers dan melapor ke Propam Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera 
Selatan, 13 Mei silam.

Kapolres Budi Suprayoga mengaku terkejut atas langkah Ika itu. Dia mengatakan, 
Ika datang bersama dua temannya ke polsek guna melapor bahwa ia dianiaya 
suaminya. "Tak ada kejadian pemerkosaan seperti yang dituduhkan itu," Budi 
menegaskan, mengutip hasil pemeriksaan terhadap ketiga polisi dimaksud.

Kasus ini ditangani Propam Polda Sumatera Selatan. Budi masih menunggu hasil 
pengusutan itu. Ia menegaskan, tidak akan membela anak buahnya jika terbukti 
bersalah. Sebaliknya, jika tidak terbukti bersalah, ia akan menuntut Ika, demi 
memulihkan nama baik anak buahnya dan korps baju cokelat.

Chairul menyayangkan lambannya penanganan kasus ini. Ia meminta kapolda segera 
mengusutnya tuntas. "Kami punya cukup bukti, termasuk hasil visum. Seharusnya 
korban dan kuasa hukumnya juga dimintai keterangan," kata Chairul. Ia mengancam 
membawa kasus ini ke Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

Taufik Alwie, dan Noverta Salyadi (Palembang)
[Hukum, Gatra Nomor 31 Beredar Kamis, 12 Juni 2008]

Kirim email ke