http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008061705160911

      Selasa, 17 Juni 2008 
     

      BURAS
     
     
     
     

Air Keruh Mengalir dari Hulu! 


       
      "REKAMAN pembicaraan Arthalita Suryani (Ayin) dengan petinggi Kejaksaan 
Agung jadi perhatian Presiden Yudhoyono!" ujar Umar. "Presiden menginstruksikan 
Jaksa Agung Hendarman Supandji segera mengambil tindakan penting dan tepat guna 
memulihkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap Kejaksaan Agung selaku pilar 
penegakan hukum di Indonesia!" (Kompas, 16-6)

      "Kejaksaan Agung merupakan salah satu mata air keadilan, selain 
kepolisian dan pengadilan sehingga kalau air yang mengalir dari hulu keruh, 
bisa membuat aliran airnya sampai ke hilir ikut keruh!" sambut Amir. "Sebab 
itu, ketika mata air di hulu keruh, tindakan cepat dan tepat menjadi keharusan 
untuk menjernihkannya kembali! Instruksi Presiden mencerminkan keinginan rakyat 
yang sempat goyah rasa keadilannya akibat serangkai skandal yang menyangkut 
para petinggi di Kejaksaan Agung! Jika kekeruhan di hulu itu tidak segera 
dijernihkan, bisa cepat mengeruhkan bagian hilir yang merupakan sumber air dan 
tempat mandi rakyat jelata!"

      "Bahkan, dengan penjernihan air di hulu itu juga bisa menjadikan air di 
hilir--seandai sempat agak keruh--bisa ikut jadi jernih!" tegas Umar. 
"Tepatnya, ini menjadi blessing in disguise--keberuntungan terselubung--bagi 
Presiden yang bertekad menegakkan supremasi hukum dan memberantas korupsi 
karena terbuka peluang menyusun barisan baru di Kejaksaan Agung untuk 
mengujudkan tekad Presiden tersebut!"

      "Krisis kepercayaan masyarakat terhadap Kejaksaan Agung akibat skandal 
itu jelas menjadi pengalaman dan pelajaran yang amat berarti bagi jajaran 
Kejaksaan!" sambut Amir. "Sehingga, jika pengalaman buruk itu dijadikan 
momentum untuk menyusun jajaran baru, hikmah dari pengalaman itu diharapkan 
bisa menjadi dasar yang kuat bagi langkah jajaran kejaksaan selanjutnya! 
Artinya, jika seleksi dalam menyusun barisan baru itu dilakukan objektif, 
memilih mereka yang masih bersih dan idealis dari lingkungan kejaksaan, rasa 
kepercayaan masyarakat dimaksud bisa dipulihkan kembali!"

      "Rupanya kau yakin dalam jajaran kejaksaan masih ada kader yang 
benar-benar bersih dan idealis!" timpal Umar.

      "Kenapa tidak?" tegas Amir. "Setidaknya, dengan peristiwa yang 
melatarbelakangi naiknya seseorang mengisi posisi pejabat yang bermasalah, 
logikanya tidak mungkin ia mengulangi kesalahan serupa! Sebaliknya, ia justru 
akan membuktikan dirinya berbeda dari pejabat yang ia gantikan, sekaligus 
berusaha keras menunjukkan prestasi! Dengan itu bisa diharapkan, tekad Presiden 
mengujudkan supremasi hukum dan memberantas tuntas korupsi akan tercapai!"

      "Pokoknya, seperti pada setiap penggantian pejabat, masyarakat mendapat 
penyegaran optimisme bakal terjadinya perubahan ke arah lebih baik!" sambut 
Umar. "Dan kalau kemudian terbukti harapan itu tidak terwujud dan kecewa, 
rakyat menerima kenyataan seperti biasanya pula--sudah tradisi!" ***

      H. Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke