Mas Sunny,

Emang itu pikiran orang2 yang rebutan mo jadi wakil rakyat .... coba liat apa 
hasil kerja nyata mereka ..? selain drpd ....menikmati fasilitas ...  jabatan 
yg mereka peroleh .. klo toh ada yg bener2 mikiran rakyat  .. itu mah dikit 
kali .. n itu juga baru dlm tahap mikir doang heheehhe

rgds
ivonne

--- On Mon, 7/21/08, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: CiKEAS> 45% Anggaran Untuk Foya-foya
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, July 21, 2008, 6:14 PM










    
            


Refleksi: Memang harus foya-foya, sebab 
berfoya-foya adalah rejeki nomplok,  kalau tidak foya-foya 
lantas   kena "stroke" atau "heart attack, tidak lagi bisa menikmati 
kelezatan dunia  atas biaya negara. Paling tidak yang tidak mempunyai 
kesempatan foya-foya, hanya bisa ucapkan : "syukuralhamdullah ada yang 
dapat berkat  berfoya-foya" . Dirgahayu NKRI!
 
http://www.balipost .co.id/mediadeta il.php?module= detailberita&kid=10&id=2429
 


  
  
    Senin, 21 Juli 2008 | BP
  
    

  
    
      45% Anggaran Untuk 
      Foya-foya
       
  
    Denpasar (Bali Post) 
APBN 2008 mencapai Rp 1.000 
      trilyun. Jumlah ini, merupakan yang tertinggi dalam sejarah bangsa 
      Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut, 40 hingga 45 persen di antaranya 
      digunakan berfoya-foya. Padahal, jika mau berhemat, sebenarnya bangsa ini 
      bisa mengalihkan pengeluaran tersebut untuk tujuan pembangunan dan 
      peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Demikian disampaikan Wapres Jusuf 
      Kalla pada hari terakhir pelaksanaan Munas XIII Himpunan Pengusaha Muda 
      Indonesia (Hipmi) di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Minggu (20/7) kemarin. 
      Wapres merinci, dari anggaran Rp 1.000 trilyun tersebut, subsidi energi 
      negara mencapai Rp 300 trilyun. Sementara untuk subsidi pangan jumlahnya 
      Rp 320 trilyun. Pengeluaran lain sebesar Rp 400 trilyun untuk membayar 
      cicilan dan bunga dari utang negara.

Anggaran yang diistilahkan 
      Wapres digunakan untuk berfoya-foya tersebut, menguap lewat knalpot 
      kendaraan, makanan, energi listrik dan sebagainya. Untuk itulah, lanjut 
      Wapres, bangsa ini harus mulai sadar untuk melakukan penghematan. 
Misalnya 
      melalui program konversi minyak tanah (mitan), paling tidak dalam tiga 
      tahun ke depan, Indonesia bisa menghemat Rp 70 trilyun. Melalui berbagai 
      implikasi penghematan semacam itu, diperkirakan tahun 2010, bangsa ini 
      bisa memiliki sumber pendapatan baru yang jumlahnya bisa mencapai Rp 200 
      trilyun.

Jika hal tersebut bisa dilaksanakan dan dipertahankan, 
      Wapres optimis, anggaran negara bisa dialihkan untuk tujuan peningkatan 
      berbagai program pembangunan di segala bidang. Di mana dampak dari hal 
      tersebut, paling tidak tiap tahunnya akan dapat memacu kenaikan 
      pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar tiga persen. 

Dalam pidatonya 
      di depan anggota Hipmi, Wapres juga menyampaikan, kekuatan ekonomi 
      Indonesia kini lebih besar berada di luar Jawa. Hal tersebut merupakan 
      dampak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin merata. Untuk 
itulah, 
      Wapres berpesan kepada para pengusaha untuk bergerak bersama-sama dalam 
      upaya membangun kekuatan ekonomi daerah. 
(ded)

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke