http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/21/14574092/korban.1965.angkat.persoalan.ke.forum.internasional


Korban 1965 Angkat Persoalan ke Forum Internasional
Artikel Terkait: 
  a.. Korban 1965 Kumpul di Menteng 
  b.. Mereka Ingin Pulang ke Indonesia... 
  c.. Forum Antikomunis Jawa Timur Datangi Komnas HAM 
  d.. Korban 65 Minta SBY-JK Tuntaskan Kasus Soeharto 
  e.. Eks Tapol Tuntut Pengadilan Soeharto 
Senin, 21 Juli 2008 | 14:57 WIB
JAKARTA, SENIN - Pertemuan para korban 1965 yang berlangsung di Kantor Kontras, 
Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/7) memunculkan sebuah pemikiran perlunya 
sinergi gerakan di antara para korban 1965, baik yang berada di Indonesia 
maupun di luar negeri. Meskipun optimistis, upaya tersebut harus diikuti oleh 
kesadaran bahwa perjuangan itu akan menempuh jalan panjang untuk mendapatkan 
keadilan.

Salah seorang korban 1965, Arif Harsana menyambut baik pemikiran tersebut. Arif 
adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa pada masa 
pemerintahan Soekarno untuk menuntut ilmu di Moskwa, Uni Soviet (sat ini 
Russia) pada tahun 1965. Namun, ia dilarang kembali ke tanah air setelah 
menolak menandatangani surat kesetiaan terhadap Soeharto pascalengsernya 
Soekarno.

Menurut Arif, tragedi kemanusiaan 1965 yang merenggut nyawa jutaan orang harus 
menjadi isu internasional. Meski peristiwanya di Indonesia, ia mengatakannya 
sebagai tragedi kemanusiaan dan tragedi dunia.

"Itu pembunuhan massal yang direncanakan tanpa proses hukum kepada orang yang 
tak bersalah. Peristiwa ini sangat penting untuk dimasukkan dalam kancah 
perjuangan internasional," kata Arif yang hingga saat ini masih menetap di 
Jerman.

Namun, lanjut Arif, perjuangan yang bersifat internasional harus ada kekuatan 
politik. Tanpa itu, akan mengalami kesulitan.

"Saya akan berusaha membawa persoalan ini ke forum internasional. Bagaimana 
caranya, saya belum bisa menyampaikannya secara detail. Tapi, perlu ada 
konsolidasi dari masing-masing kita, baik yang di Indonesia maupun kami yang di 
luar negeri," kata Arif.

Ia menekankan, gerakan untuk mendapatkan keadilan tidak hanya dilakukan para 
korban. Menurut dia, perlunya perjuangan yang didukung oleh keluarga korban dan 
generasi muda.

"Karena, kalau hanya peranan korban yang dikedepankan, maka ini hanya akan 
menjadi persoalan korban. Tragedi 65 adalah tragedi bagi semua orang yang 
merasa manusia dan mempunyai rasa kemanusiaan. Apalagi, para korban saat ini 
sudah beranjak tua," ujarnya.


ING 
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network 

Kirim email ke