> vonny vitawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> So ... mesti gimana donk mbak Hafsah ..? ada solusinya.?
> 


Solusi apa yang anda harapkan bisa ada ???
Besarnya jumlah kontingen itu adalah informasi saja bukan problem yang
memerlukan solusi !!!

Kalo terror Jihad Islam bukanlah informasi melainkan problem yang
perlu solusinya.

Memang, dalam menemukan atau menentukan adanya problem tentu
diperlukan pengumpulan informasi untuk kemudian informasinya dianalisa
untuk bisa menemukan problemnya.

Sementara ini besarnya kontingen cuma sekedar informasi, tetapi nanti
kalo Olympic Games ini sudah usai, keseluruhan informasi bisa
dianalisa untuk macam2 tujuan tergantung apa dan siapa yang ingin
menemukan problem2 yang membutuhkan solusi.

Misalnya saja, membandingkan perolehan medali dari masing2 negaranya
dengan besarnya kontingen yang dikirim, untuk hal ini kemudian bisa
diambil kesimpulan kontingen mana yang paling effisien jumlah
kontingennya.  Dan hal ini juga dilakukan oleh team Indonesia dimana
pemerintah RI tidak mau mengirimkan cabang2 olah raga yang dipastikan
tidak akan memperoleh medali sama sekali, tentu karena alasan
penghematan.  Namun kalo pemerintah sedang surplus devisa, maka semua
cabang yang pasti tidak bisa merebut medali sekalipun bisa saja
dikirimnya sekedar foya2 atau sekedar memberi pengalaman kepada para
atlit, official, maupun pelatihnya untuk memajukan olah raga didalam
negeri.

Demikianlah, urusan informasi bukanlah untuk mencari solusi tetapi
untuk mencari problem, barulah nantinya problem itu digunakan untuk
mencari solusi.

Itulah sebabnya, Quran itu bukan informasi, juga bukan solusi, karena
isinya merupakan perintah2 tanpa dasar maupun hukuman2 tanpa alasan. 
Misalnya saja, perintah menghalalkan pembunuhan Yahudi, kafir, murtad
dll, oleh umat yang keracunan dogma Islam dikatakan alasannya karena
mereka melanggar perjanjian.  Padahal orang Yahudi, kafir, murtad dll
itu bukan cuma ada di Mekah dan Madinah, melainkan ada diseluruh
penjuru dunia, sehingga tak masuk akal kalo disimpulkan bahwa mereka
halal dibunuh karena melanggar perjanjian, kalopun ada yang melanggar
perjanjian tentu hanya terbatas pada mereka yang tinggal di Madinah
saja pada waktu sekitar perjanjian tsb diberlakukan.  Absurdnya alasan
ini justru terletak bahwa menghalalkan pembunuhan itu bukan terbatas
di Madinah saja tetapi dihalalkan diseluruh dunia yang berlaku
sepanjang masa.

Demikianlah, kalo lebih cermat dilakukan analysis akan jelas sekali,
Quran itu sama sekali bukan sumber informasi, juga bukan sumber ilmu
pengetahuan, sama sekali bukan solusi, melainkan se-mata2 kumpulan
perintah2 dan ajaran2 biadab yang hanya menciptakan malapetaka sebagai
problem2 kehidupan semua manusia.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







Kirim email ke