Batam Pos

      Kebahagiaan Terpidana Mati Bom Bali I, Jelang Eksekusi  

      Minggu, 31 Agustus 2008|00:01:08WIB  
      Tak Jadi Mati, Amrozi Dijenguk Dua Istri 
      Selain umur panjang karena kejaksaan maju mundur menembak mati mereka, 
terpidana mati bom Bali I mendapat kegembiraan lain menjelang datangnya bulan 
suci Ramadan. Kemarin (30/8), pembunuh ratusan orang di Pulau Bali, yakni 
Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Muklas, itu mendapat kunjungan dari keluarga 
terdekat. 

      Keluarga trio bomber tersebut mendatangi Lapas Batu, Nusakambangan, 
Kabupaten Cilacap, Jateng. Mereka datang dalam rombongan besar beranggota 61 
orang, termasuk keluarga terpidana kasus bom Atrium, Abdul Jabar, Dani, Usman, 
dan Ibrahim, serta pengacara mereka dari Tim Pembela Muslim (TPM). 
      Mereka naik sembilan mobil dan tiba di Dermaga Wijayapura pukul 09.15 
WIB. Mereka kemudian menjalani pemeriksaan identitas dan barang-barang bawaan. 
Mereka baru menyeberang ke Nusakambangan pukul 10.15 secara bertahap karena 
daya angkut Kapal Pengayoman II terbatas. 


      Dalam keluarga terpidana mati kasus bom Bali I tersebut tampak Khoiriyana 
dan Ria Rahmawati (istri pertama dan kedua Amrozi), Ny Tariyem (ibunda Amrozi), 
Zakiyah Darajat (istri Imam Samudra), Embay Badriyah (ibunda Imam Samudra), dan 
Lulu Jamaludin (adik Imam Samudra). 


      Tampak pula paman Amrozi, H Abdul Basit, yang baru kali pertama 
menginjakkan kaki di Nusakambangan. Dia tidak membawa kartu identitas, tapi 
akhirnya diizinkan menyeberang ke pulau di ujung selatan Jawa Tengah tersebut.
      Menurut Michdan dari TPM, meski merupakan kunjungan rutin, kunjungan 
kemarin termasuk spesial karena bersamaan dengan datangnya Ramadan. 


      Dia menyatakan tidak ada hal yang bersifat khusus, meski kunjungan kali 
ini dinilai spesial. 


      Kedatangan keluarga trio pembunuh itu berbarengan dengan puluhan keluarga 
napi Nusakambangan lainnya. Kedatangan mereka menyusul dibukanya kembali pulau 
tertutup tersebut. Maklum, keluarga napi itu terakhir mengunjungi Lapas 
Nusakambangan pada 8 Agustus lalu. 


      ''Larangan besuk ke Lapas Nusakambangan sudah dicabut. Sekarang keluarga 
napi boleh mengunjungi Nusakambangan lagi,'' jelas Kalapas Batu Cilacap 
Sudijanto dalam surat yang dipampang di Dermaga Wijayapura Cilacap. 


      Kendati terbuka, pengawasan terhadap pengunjung sangat ketat. Terbukti, 
pemeriksaan barang bawaan para keluarga napi itu tidak hanya dilakukan petugas 
Lapas Nusakambangan di Wijayapura. Sejumlah petugas kepolisian juga dikerahkan 
untuk memeriksa barang bawaan. Pemeriksaan berlangsung cukup ketat, sehingga 
sempat ada yang memprotes. Bukan hanya kardus atau tas bawaan yang diperiksa, 
tapi dompet serta tas-tas kecil juga ikut dibuka. 


      Rombongan keluarga Amrozi cs termasuk yang terkena razia rutin itu. 
Petugas jaga di pos Wijayapura sempat menahan belasan keping CD yang dibawa 
salah seorang anggota rombongan. Sedianya, CD-CD tersebut dikirimkan kepada 
Amrozi cs. 


      Karena kepadatan arus lalu lintas masuk Nusakambangan, para pembesuk 
kemarin menggunakan perahu-perahu compreng untuk masuk ke Nusakambangan. Mereka 
membawa barang bawaan cukup banyak berupa makanan dan buku. 


      Dalam surat bernomor W9.Egg.PK.01.01.02-458, Sudijanto menegaskan bahwa 
penangguhan izin kunjungan ke Nusakambangan dicabut dan tidak berlaku lagi. 
Kunjungan WNA di Lapas Batu Nusakambangan juga diizinkan dengan ketentuan 
menunjukkan izin dari kedubes yang bersangkutan. ''Pengunjung wajib mengikuti 
jadwal kunjungan. Yakni, hanya pada Senin, Kamis, dan Sabtu,'' ujarnya.

      400 Napi Masuk 


      Narapidana yang menghuni penjara-penjara di Pulau Nusakambangan akan 
meningkat pesat. Usai Lebaran, pemerintah menambah 400 penghuni baru pulau yang 
memiliki tujuh lembaga pemasyarakatan (lapas) itu. Keputusan tersebut diambil 
untuk mengatasi sesaknya hunian di lapas-lapas DKI Jakarta dan daerah lain di 
Pulau Jawa. 


      Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Departemen Hukum dan HAM Jawa Tengah 
Bambang Winahyo menjelaskan, dalam waktu dekat ada penggeseran napi dari 
Jakarta ke Nusakambangan. ''Jumlah napi dari Jakarta yang akan digeser ke 
Nusakambangan sekitar 400 orang. Kemungkinan penggeseran itu dilakukan secara 
bertahap setelah Lebaran. Kami belum mendapat informasi terkait asal lapas para 
napi yang akan dikirim tersebut,'' ujarnya kepada Radar Banyumas (Grup Batam 
Pos) kemarin. 


      Penggeseran napi ke Nusakambangan tersebut dilakukan menyusul kepadatan 
lapas di sejumlah daerah. Sementara itu, Nusakambangan masih menyisakan banyak 
ruang kosong. Kapasitas tujuh lapas di Nusakambangan mencapai 2.000 orang. 
Sekarang baru diisi sekitar 1.400 orang. 


      Mengingat sistem pengamanan maskimal di Nusakambangan, para napi yang 
akan dipindahkan merupakan napi dengan pidana besar dan diutamakan pada pidana 
khusus. Misalnya, kasus narkoba, illegal logging, money laundering, serta 
korupsi. (amu/din/jpnn/kim/jpnn) 

       
     
  

Kirim email ke